
Semenjak ibu dan kakak perempuan ku meninggal, Aku memutuskan untuk tinggal bersama nenek di desa. Disana aku melanjutkan sekolah sekaligus membantu nya bekerja dirumah bu lyla, Sebagai Asisten rumah tangga.
Sebelum nya nenek tinggal dengan kak mey, kakak sepupu ku. Namun, dia merantau ke kota untuk bekerja. Nenek jadi hidup sebatang kara.
Lama di desa aku mengalami banyak hal. Seperti mendapat kan sahabat yang super baik juga pengertian, bernama sena. Dan ada lebih yang mengejutkan lagi, Yaitu aku menikah dengan anak bu lyla.
Laki-laki yang menjomblo selama bertahun-tahun. Tak disangka-sangka akan dijodohkan dengan gadis malang seperti ku.
"Kau terlihat semakin cantik dan modis setelah menikah dengan kak adnan." Ucap sena.
"Bisa saja."
"Yah! pasti kak adnan selalu memenuhi semua keinginan mu, ya?" Oceh sena yang sibuk bercermin.
"Dia yang selalu memberikan apapun padaku. Bukan aku yang meminta." Tukas ku.
"Hmm..benar juga. Dulu kak arin juga begitu. Kak adnan selalu memberikan apapun. Dia tipe laki-laki yang royal pada pasangan." Ungkap sena.
"Tapi, sekarang aku sedang bingung. Soal nya bu lyla ingin cepat-cepat menimang seorang cucu. Sementara , aku belum siap untuk mengandung. Usia ku saja masih dibawah 20 tahun. Bagaimana bisa aku menjalani hari-hari ku dengan seorang bayi diperut ku nanti." Aku merasakan gelisah yang luar biasa.
__ADS_1
Dulu saat aku tinggal di kota. Jarang sekali ada tradisi semacam ini. Rata-rata gadis seperti ku belum ada yang menikah, Apalagi menikah karena desakan ekonomi.
Biasa nya aku lihat pernikahan dini itu ditelevisi. Kini, aku yang mengalami nya sendiri. Pernikahan ini atas dasar kesepakatan antara nenek ku dan bu lyla.
Karena bu lyla sangat baik pada ku dan nenek, Aku harus balas budi pada nya.
"Bagaimana sudah itu belum?" Tanya sena tanpa aba-aba.
"Apa ?"
"Hmm.. itu yang biasa dilakukan sepasang suami istri." Goda sena. Kecil-kecil gadis itu sudah tau tentang pernikahan.
Menyebalkan sekali memang sena. Aku saja masih belum tau tentang itu.
"Hehe... maaf." Sena terkekeh.
"Pokok nya aku belum siap. Aku butuh waktu untuk membuat diri ku benar-benar siap." Ucap ku dengan nada rendah.
Aku tidak mengerti takdir yang sedang ku jalani ini. Ku pikir setelah pindah ke desa. Semua nya akan jauh lebih baik dan aku bisa membuka lembaran baru.
__ADS_1
Nyata nya apa yang ku rencanakan, Tidak sejalan dengan rencana Tuhan. Sekarang aku hanya bisa pasrah menerima ketetapan-NYA.
Semoga ini menjadi langkah awal ku, Menuju masa depan yang lebih cerah.
Sena menatap ku dengan tatapan genit. Ia seolah tak puas dengan jawaban ku yang tadi.
"Kami sama sekali belum bersentuhan, PUAS?!!!!!" Teriak ku yang sudah tidak bisa menahan lagi emosi yang tengah ku rasakan.
"Pegangan tangan? pelukan?" Perntanyaan sena semakin menjadi-jadi membuat pening kepala ini.
"Kau mau tau atau hanyaa sekedar ingin tau saja?" Aku mencoba menjahili sena.
Tiba-tiba sena mendekatkan wajah nya ke wajah ku, Karena sangat penasaran dengan apa yang akan ku katakan pada nya.
Ini kesempatan ku untuk mengerjai sena. Saat wajah kami berdekatan Aku tertawa terbahak-bahak, Puas dengan apa yang ku lakukan pada sena.
Sedangkan sena meringis kesakitan sambil mengerucutkan bibir nya.
"ALIKA!!! KAU KETERLALUAN." Jerit sena.
__ADS_1
Sebelum dia membalas nya, Aku segera berlari menjauh dari sena.
BERSAMBUNG~~