
POV Adnan
Akhir-akhir ini aku selalu disibukkan dengan pekerjaan dikantor. Iren partner kerja yang setia menemaniku menyelesaikan project yang ku garap dengannya. Namun, entah kenapa aku merasa ada yang dengan hati.
Setiap kali berpapasan dengan mantan kekasihku, arin. Yang kini menjadi atasanku. Aku merasa gugup seperti saat pertama kita bertemu.
Semakin hari arin semakin cantik dan mempesona. Terlebih ia nampak lebih dewasa dan bijaksana dalam bertindak. Dan hal tersebut adalah sesuatu yang kuinginkan dari arin sejak lama. Tapi, kenapa semua itu baru arin tunjukkan.
'aku tidak boleh sampai merusak pikiranku.' Batinnya seraya menggelengkan kepalaku.
"nan, kamu kenapa?" Tanya arin yang mendadak muncul dihadapanku
Keberadaan arin cukup membuatku terkejut. Aku juga cukup keheranan karena arin menghampiri diriku. Padahal ia sudah menyerahkan kumpulan pekerjaan yang akan aku dan iren kerjakan.
"Nan, sore ini kamu ada waktu gak?"
Sontak pupil mataku membesar mendengar ucapannya. Awalnya aku berpikir jika arin ingin menyuruhku untuk lembur.
Tapi, ternyata ia mengajak aku pergi kesebuah tempat yang penuh dengan kenangan bersamanya.
"Maaf, rin. Aku tidak memiliki waktu luang sore ini." Aku menolak ajakan arin dengan halus.
"Hmm.. Ya sudah." Terlihat jelas arin menaruh kekecewaan padaku. Tanpa berlama-lama disana, ia langsung pergi begitu saja meninggalkanku
"Wah wah yang udah punya istri. Anti banget dideketin sama mantan kekasih terindahnya." Sindir iren seraya menyenggol bahuku.
"Jaga ucapan kamu, ya ren!" Gerutuku.
"Kamu kenapa sih sensitif banget kalau arin deketin kamu. Kamu tau gak kalau dia juga bertanya padaku, apa aku punya waktu luang sore ini atau enggak." Ucapan irene berhasil membuatku ciut.
Sepertinya arin ingin mengajak semua rekan kerjanya pergi kesuatu tempat. Tapi, kenapa aku malah berbohong padanya. Aku jadi malu wkwkwk.
Karena penasaran aku melihat kesekitar untuk memastikan apakah arin menghampiri yang lainnya juga? Dan ternyata benar. Dia mendatangi satu persatu pegawainya untuk pergi kesuatu tempat.
Aku mentertawakan diri sendiri dalam hati. Betapa gr nya aku saat itu. Benar saja arin sungguh-sungguh melupakan semua kenangan tentang ku diingatannya.
"Dia benar-benar ingin membuka lembaran baru dalam hidupnya." Gumam ku seraya memperhatikan gerak-gerik arin.
"Hmm... Dasar kau ini! Laki-laki super aneh. Mana mungkin wanita berkelas seperti arin hancur hanya gara-gara kalah dalam percintaan." Tukas irene.
__ADS_1
"Semenjak bercerai dengan mantan suaminya. Ia tidak banyak melamun dan memikirkan hal tersebut. Arin lebih banyak belajar dan traveling." Lanjutnya.
"Wajar saja dia seperti itu. Sebab, keluarganya sangat mengayomi arin. Dan juga mereka kaya raya." Aku menimpal ucapan irene.
"Benar juga. Coba kalau aku yang mengalami hal itu. Pasti aku langsung menggila. Ternyata menjomblo sampai saat ini tidak ada salahnya juga." Ungkap irene seraya menopangkan tangannya didagu.
"Mana mungkin kpopers seperti kamu mau segera menikah. Yang ada kamu disibukkan dengan bujang-bujang aneh itu." Celetukan ku berhasil membuat irene kesal dan mencubit lenganku sampai ada bekasnya.
"Sakit ren!" Aku pun meringis kesakitan. Gadis aneh itu memang sangat menyebalkan. Padahal aku hanya bercanda. Namun, dia sulit untuk diajak bercanda.
Sore harinya saat yang lain sibuk bergegas untuk pergi bersama arin. Aku bisa menyaksikan mereka satu persatu berhamburan keluar ruangan. Aku sedikit menyesal karena mengaku tidak memiliki waktu luang dan memilih pulang lebih awal.
"Kamu yakin gak mau ikut? Kayanya bakalan seru deh kumpul-kumpul bareng arin dan rekan kerja yang lainnya. Katanya sih arin mau traktir semua pegawainya makan direstaurant mahal itu, lho." Goda irene.
'Aku juga ingin ikut ren. Tapi, aku sudah terlanjur mengatakan padanya bahwa aku tidak punya waktu luang.' Ucapku dalam hati yang sedang resah.
"Ayolah ikut kami. Gak usah gengsi kali."
"Maaf ren. Aku harus pulang lebih awal soalnya aku mau jalan sama istri dan anakku sore ini." Ucapku seraya bergegas pergi.
Karena aku memilih untuk tidak ikut. Aku pun cepat-cepat pulang.
Dulu ia dikenal sebagai gadis yang manis dan ceria. Arin juga selalu mengajak kemanapun ia ingin pergi. Sekarang? Ia sangat jauh berbeda. Ia jadi dingin dan jarang tersenyum.
Duh, kenapa aku ini sulit melupakan sikap arin yang dulu. Gadis yang saat itu ku kenal begitu baik dan sangat aku sayangi.
"Kamu kenapa?" Tanya arin yang membuyarkan lamunanku.
"Gak apa-apa. Ngomong-ngomong afnan tidur?"
"Iya."
Walau kejadian beberapa waktu yang lalu telah usai. Namun, aku malah mengalami perasaanku yang bergejolak. Aku seolah ingin memutar waktu dan kembali mengenang masa-masa indah bersama arin.
Wanita itu memang akan menjadi mantan terindah dalam hidupku. Sekalipun ia tidak bisa dijangkau lagi olehku untuk selamanya.
"Akhir-akhir ini kamu pasti capek banget, ya." Alika duduk dibelakang tubuhku dan mulai memijat bahu ku yang memang pegal.
"Iya."
__ADS_1
"Kamu gak ikut kumpul sama mereka?"
Tiba-tiba saja alika menanyakan hal itu. Aku tidak menduga kalau ia mengetahuinya dari status irene yang dibuatnya beberapa menit lalu.
"Tau dari mana?"
"Dari status irene. Padahal kak adnan ikut gabung sama mereka. Kan sayang kalau gak ikut. Kak adnan jadi gak bisa ngerasain makanan mahal."
"Hahaha... " Ocehan istriku sangat lucu.
"Ada yang lucu?" Wajah polosnya membuatku ingin mencubit pipir gembulnya.
Pasca melahirkan badan alika sedikit melebar dan kedua pipinya jadi chubby. Terkadang aku gemas saat melihat pipi istriku.
"Gak."
Karena aku pulang lebih awal. Sore hariku hanya dihabiskan dengan istri dan anakku.
"Whoaa... Keren banget tempat makannya. Aku jadi pengen makan disana suatu saat nanti." alika terpukau dengan keindahan restaurant yang arin pilih. Ia dapat melihatnya dari status whatsapp yang irene bagikan.
"Kamu mau pergi kesana?"
"Iya."
"Yaudah sekarang siap-siap. Kita pergi kesana." Ucapku dengan spontan.
Dari tadi aku kasihan mendengar celotehan istriku. Kayanya dia ingin berkunjung kerestaurant tersebut. Jadi, aku berinisiatif membawa istri dan anakku kesana. Masa bodoh jika aku harus bertemu mereka disana.
Yang penting moment ini bisa aku manfaatkan untuk membuat arin cemburu.
Setelah sekian lama menunggu alika mengenakan pakaian yang pantas. Aku segera pergi menaiki motor lamaku menuju restaurant, yang sedang dikunjungi oleh mereka.
"Kamu serius mau ngajak aku dan afnan kesana? Duh, kayanya gak usah deh. Soalnya ada rekan-rekan kerja kamu lagi pada ngumpul disana." Oceh alika disepanjang perjalanan.
"Serius!" Jawabku dengan singkat.
"Ih nyebelin. Kamu kan udah tau kamu juga diajak sama kak arin. Tapi, kenapa malah ngajak aku kesana."
Aku tidak peduli dengan ocehan istriku. Aku tetap bersikukuh untuk pergi kesana sambil menguji nyali.
__ADS_1