
Penyesalan pasti datang di akhir. Itu yang sedang di rasakan oleh arin sekarang. Dia bukan benci adnan. Tapi, ia benci keadaan nya. Entah kesalahan apa yang arin lakukan di masa lalu sampai-sampai gagal dalam pernikahan nya.
Mungkin karena sikap nya yang terlalu baik. Tuhan jadi menguji nya dengan cara seperti itu. Tapi, kenapa arin malah hampir hilang kendali?
Orang-orang disekitar nya tidak lagi mengenal sosok perempuan yang lemah lembut, Dalam diri arin.
Sekarang arin mudah marah terhadap hal-hal sepele. Tidak seperti dulu. Teriakan dari arin sudah jadi makanan sehari-hari para pegawai nya.
Meskipun begitu arin jadi lebih sukses karir nya. Bahkan, belakangan ini dia menorehkan prestasi di tempat kerja nya. Dia juga terkenal workaholic. Arin tidak akan beranjak dari tempat duduk nya sebelum pekerjaan nya tuntas.
"Kau cantik dan mapan. Sayang nya kau sudah menjanda di umur mu yang baru menginjak kepala 3." Ucap salah satu teman nya.
"Aku berencana mengangkat anak. Sebenar nya aku tidak ingin menikah lagi." Ujar arin.
"Apa kau yakin?"
"Euhem.. aku yakin." Jawab nya sambil memasukkan sepotong kue ke dalam mulut nya.
"Aku kira kau benar-benar sudah berubah jadi jahat." Celetuk sahabat nya yang diketahui bernama kesya tersebut.
"Ccckkk... didunia ini kau tidak boleh terlalu naif. Nanti jadi bisa dimanfaatkan oleh orang lain." Arin berbicara tidak sesuai dengan kenyataan hidup nya. Sebab, realita nya wanita itu sedang di manfaatkan oleh pria yang selalu mengikuti nya kemanapun dia pergi.
"Kau yang naif.. pria itu jahat!" Kesya geram.
"Alin?"
"Iya.. alin. Siapa lagi."
"Aku tidak percaya apa yang sedang kau katakan."
"Arin..!!!!! Sadarrrrr!!!!!!" Teriak kesya. Ternyata Sahabat arin sudah mendengar gosip mengenai alin dari orang lain.
"Kau yang seharus nya sadar. Sudah tua begini masih suka nonton film kartun. Jomblo pula." Celetuk arin.
"Arin! Diam!" Kalau sedang marah kesya lucu.
Selama ini tidak ada yang berteman dengan nya selain kesya. Sahabat nya dari kecil. Dia adalah orang yang paham dengan arin.
Suka duka kehidupan sering arin ceritakan pada kesya. Dia sangat menyayangi nya. Tidak seperti kedua orang tua nya yang terkadang terlalu keras pada arin.
Semua harus ia lakukan hanya demi menyenangkaan hati kedua orang tua nya. Namun, mereka tidak dapat memahami perasaan wanita itu dengan baik.
__ADS_1
Hingga kini, arin menyimpan semua kesedihan nya sendirian. Ia telan bulat-bulat rasa kecewa nya pada hidup.
"Argghhh! Hidup memang tidak adil. Aku yang selalu berusaha baik pada semua orang. Tapi, aku yang harus merasakan sakit nya patah hati karena cinta." Arin mengacak-ngacak rambut nya yang semula rapi.
"Maka nya kau harus bisa bicara pada kedua orang tua mu. Jangan selalu mengorbankan perasaan mu demi menyenangkan hati mereka. Yah! aku paham membuat kedua orang tua kita bahagia itu bagus. Tapi, jika mereka salah memberikan pilihan pada kita. Kita juga yang rugi." Nasihat dari perempuan jomblo akut seantero desa mekarwangi.
"Kesya...hanya kau yang bisa memahami perasaanku. kau sahabat terbaik yang aku punya. Saranghae." Arin membentul love ala korea pada kesya. Dan hal itu buat kesya geli.
***
Ketika sedang asyik mengobrol tiba-tiba mereka berpapasan dengan adnan yang hendak pergi mengantar istri nya ke klinik, Karena alika mengeluh sakit kepala.
Melihat pasutri itu arin memilih untuk memainkan ponsel nya. Ia tidak ingin memandangi kedua sejoli tersebut.
"Rin.. itu mereka lagi boncengan. Mau kemana ya kira-kira." Kesya mencolek lengan arin.
"Gak tau lah. Mungkin mau jalan-jalan. Ngehibur istri nya yang udah lahiran." Ketus nya.
"Cemburu nih." Goda kesya.
"GAK."
"Gak apa-apa kali. Toh, adnan pernah jadi masa lalu kamu,rin."
"Bentar!!!aku masih pengen disini."
"LAMA." Arin mulai kesal dan memutuskan untuk pulang.
Di tengah perjalanan ia kembali bertemu dengan adnan yang tidak jadi ke klinik, Karena tutup.
Adnan menyembunyikan klakson sambil menyapa arin. Wanita itu merespon nya dengan tatapan tajam. Adnan tertawa geli. Ia tidak habis pikir dengan mantan kekasih nya tersebut yang bersikap seperti anak-anak yang sedang kesal karena tidak di beri bekal.
"Kak arin!" Sapa alika juga.
Arin membalas nya dengan senyum dipaksakan.
Bukan nya takut adnan dan alika malah tertawa. Mereka malah terhibur oleh tingkah laku arin. Wanita yang dulu dikenal kalem dan lemah lembut. Kini, jadi aneh. Mungkin karena ia marah dengan hidup yang terkadang tidak adil pada nya.
Arin masih berjalan dan menghiraukan pasutri itu. Adnan pun berinisiatif untuk berhenti sebentar. Menunggu nya mendekat.
"Arin."
__ADS_1
"Apa?"
"Jangan ganggu aku lagi." Ucap adnan.
"Cckkk... siapa yang ganggu kau."
"Arin, setiap kali aku melakukan sedikit kesalahan di tempat kerja mu. kau mengirim pesan yang berisi ancaman. Seharus nya kau bersikap dewasa." Tukas nya.
"Hmm... aku sering menelepon dan menganggu mu. Tapi, kalau mengirimi pesan yang berisi ancaman aku tidak pernah." Ungkap arin.
"Kau yakin?"
"Coba ku lihat isi pesan nya."
Adnan pun menunjukkan ponsel nya ke arin.
Dia memicingkan kedua mata nya untuk melihat lebih jelas pesan tersebut.
"Wah.. wah ini tidak benar. Aku tidak pernah melakukan nya. Kata-kata nya sangat menyakitkan. Apa kau pikir aku tampak seperti itu? Kalau tidak suka aku langsung katakan saja didepan orang nya. Daripada mengirimi pesan yang aneh-aneh." Dia menggeleng-gelengkan kepala nya. Tidak menyangka jika ada orang yang mengatas namakan diri nya untuk mengirim pesan buruk pada adnan dan istri nya.
"Bohong!"
"Ya sudah kalau tidak percaya. Aku pergi dulu ya. Btw, selamat ya buat kalian." Ucap arin sambil berlalu meninggalkan kedua nya.
"Iya, kak." Alika yang merespon. Berhubung aliran darah diotak sang suami langsung tersumbat, Saat arin menjelaskan yang sebenarnya.
"Kak, ayo kita pulang!" Ajak alika.
"Ya."
Adnan masih tidak bisa menjalankan pikiran nya. Pengakuan arin terdengar meragukan. Tapi, di sisi lain ia percaya jika wanita itu tidak mungkin berbuat nekat dengan mengirimi pesan yang buruk mengenai istri nya.
Ia sangat mengenal nya. Arin bukan orang yang munafik. Suka tidak suka pada seseorang ia akan sampaikan langsung dihadapan orang nya. Sekalipun itu seperti mempermalukan nya.
Lalu, siapa orang yang menggunakan nama nya untuk menjelekkan alika? Hari itu adnan benar-benar dibuat bingung dan emosi.
Ia belum cukup banyak bukti untuk menemukan siapa orang yang melakukan nya.
"Jangan terlalu dipikirkan." Ucap alika dengan suara lembut.
Lagi-lagi sang istri adalah orang yang selalu berhasil mendinginkan kepala dan hati nya.
__ADS_1
BERSAMBUNG~~