Menikah Di Usia 16

Menikah Di Usia 16
Kedatangan tamu spesial


__ADS_3

POV Adnan


Aku tidak menyangka jika arin mengajak semua pegawainya kesini, hanya untuk memamerkannya kehebatan calon suaminya pada semua orang. Kukira dia sebaik itu. Nyatanya ada maksud terselubung yang ia sembunyikan dibalik kebaikannya.


Dari sini aku merasa lega. Karena telah mengetahui rencananya yang sangat mengejutkan. Sontak perasaanku juga berkurang pada arin. Aku tidak lagi merasakan gejolak yang pernah sering dirasakan saat masih bersamanya.


"Kak arin hebat ya. Udah cantik pinter lagi." Alika selalu terlihat mengagumi arin. Padahal ia tak sebaik yang dibayangkan.


"Cantik dan pintar saja tidak cukup untuk menyembuhkan luka seseorang." Sahutku dengan sinis.


"Eitss.. Kamu gak boleh kaya gitu."


"Kak arin baik, kok." Alika berusaha membelanya.


"Iya bener banget. Kak arin baik banget. Buktinya dia mau bawa kita semua kesini. Gak kaya kak adnan pelit. Celetuk Irene.


"Ren jaga ucapanmu, ya!!!"


"Udahlah jangan ribut terus." Dengan sigap alika segera menengahi supaya tidak terjadi pertengkaran.


Aku dan irene pun tidak jadi berdebat. Dan memilih untuk sibuk dengan aktivitas kami masing-masing.


Aku yang kembali menyantap pesananku. Sedangkan irene bergabung lagi dengan rekan-rekan kerja disana.


Sesekali aku curi-curi pandang untuk memastikan kegiatan mereka, apakah berjalan lancar atau tidak. Mereka terlihat gembira seakan-akan aku tidak mengingatku.


"Liat apa sih dari tadi?"


"Gak liat apa-apa. cuman mastiin apa afnan tidur atau enggak."


"Bohong! Dari tadi kamu ngeliatin mereka mulu." Ketus Alika.


Dan akhirnya istriku mulai menyadari bahwa selama ini aku ingin merencanakan sesuatu. Ia terus menerus menghujaniku dengan berbagai pertanyaan.


Aku tau dia tidak suka melihatku seperti ini. Alika memang orang yang suka mengingatkan aku pada tugasku sebagai kepala keluarga.


"Dasar kekanak-kanakkan. Emang kalau kak adnan ngepoin kak arin, dia bakalan marah?" Ucap alika berapi-api.


"Maksud kamu?"


"Ih nyebelin banget sih. Aku jadi kehilangan selera makanku."


Alika marah dan tidak menghabiskan makanannya. Ia memilih untuk menjauh dariku untuk sementara. Aku berusaha mengejarnya. Namun, tiba-tiba arin mengajakku untuk bergabung dengan mereka.


"Nan, ayo gabung sama kami. Btw, mana istrimu? Ajak kesini." Ucap arin.

__ADS_1


"Ada lagi keluar."


"Ajak dong kesini." Timpal irene.


Setelah itu aku pun menyusul alika keluar. Kutemukan ia tengah menunjukkan afnan ikan yang ada dikolam pinggir restaurant. Disana ia melihat dengan sedih istrinya.


Seharusnya ia tidak bersikap kekanak-kanakkan seperti ini. Cukup fokus dengan mereka saja supaya aku bisa menyembuhkan luka dalam hatiku.


"Alika.. ayo kita gabung dengan arin." Ajakku.


Spontan alika menoleh kearahku. Ia tersenyum lalu menerima ajakanku. Sepertinya ia senang karena aku mau berdamai dengan diri sendiri.


"Nah, gitu dong! Udahlah jangan merencanakan hal-hal yang aneh lagi."


"Iya aku berjanji."


"Oiya, tadi arin ngajak kita berdua gabung kemejanya." Ucapku lagi.


"Boleh tuh. Kayanya rame." Seru alika.


Aku hanya tersenyum melihat pancaran kebahagiaan dari istriku. Ia memang wanita paling baik dan sabar.


Kami kembali masuk dan bergabung dengan rekan-rekan kerjaku. Disana kami disambut dengan ramah. Aku tak menyangka mereka akan seterbuka itu pada istriku.


"Hai alika!!!"


"Whoa! Ternyata benar ya istri adnan itu cantik banget, dewasa lagi. Walaupun umurnya masih 17 tahun." Puji salah satu temanku.


"Hehe iya." Jawabku dengan singkat.


Dari ujung meja arin hanya diam melihat kedatangan kami. Tidak seperti yang lainnya. Ia terlihat sedang serius menatap layar hpnya.


Aku mulai penasaran dengan apa yang ia lakukan itu. Ia seperti sedang menunggu balasan pesan dari seseorang. Awalnya kupikir dia tengah sibuk berbalas pesan dengan kliennya. Tapi, ternyata dia menghubungi calon suaminya yang baru.


"Iya halo, kamu udah nyampe mana?" Tak lama kemudia ia menjawab telepon dari seorang pria yang disinyalir adalah calonnya.


"Kayanya ibu lagi jawab telepon dari calon suaminya." Celetuk irene, simulut ember.


"Sst.. Jangan berisik!"


"Ren, hargai ibu yang lagi jawab telepon." Ucap teman kerja yang lainnya.


"Maaf." Irene menundukkan kepalanya.


Suasana seketika senyap. Semua orang tidak berani angkat suara saat arin tengah menjawab telepon dari calon suaminya.

__ADS_1


Mereka saling menatap satu sama lain seraya memberikan isyarat, jika mereka tengah bertanya-tanya dengan tingkah laku arin yang dari tadi sibuk sendiri.


"Kayanya lagi telepon pacarnya." Salah satu rekan kerjaku berbisik.


"Oh gitu." Jawab yumna.


Lama menunggu arin berbicara ditelepon. Suasana kembali mencair. Dan arin duduk lagi ditempat duduknya.


Beberapa saat kemudian datang seorang pria daru pintu masuk. Dia sangat gagah dan tampan. Pakaiannya pun terlihat mewah dan mahal.


Dari sini aku sudah bisa menebak kalau itu adalah calon suami arin. Aku tidak banyak berkomentar hanya diam seraya memperhatikan setiap bahasa tubuh dari pria tersebut.


"Disini!" Arin setengah berteriak sambil mengacungkan satu tangan pada pria itu.


Reflek pria tersebut menoleh kearah meja kami. Ia langsung tersenyum manis pada arin.


Aku sedikit bergidik ngeri saat melihatnya. Menurutku dia terlalu palsu untuk arin yang tulus. Karena laki-laki modelan seperti itu bertebaran dimana-mana.


'Dia terlihat manis diwajah tapi jelek dihati.' Batinku.


Gayanya menurutku sangat norak dan seakan ingin menunjukkan jika dia adalah laki-laki hebat yang punya segalanya.


Aku menyeringai saat dia menghampiri tempat duduk arin.


"Hai semua... Aku wiliam.. Aku pemilik restaurant ini dan juga calon suaminya arin." Dia memperkenalkan dirinya dengan nada suara yang terdengar berat dan so' keren.


"Bwaaahahaaaaa..." Dan entah kenapa aku tertawa terbahak-bahak saat mendengarnya.


Semua orang yang ada langsung menatapku dengan tatapan menakutkan. Aku pun menggaruk kepalaku yang tidak gatal sambil meminta maaf.


Sedangkan alika mencubit lenganku karena sudah dibuat malu olehku.


"Maaf ya semua.. Sepertinya suamiku tersedak." Alika melototiku.


"Dasar aneh!" Ketus irene.


Dalam sekejap wiliam bisa menjadi pusat perhatian lagi rekan-rekan kerjaku.


Aku sangat lega. Karena arin tidak sadar kalau aku mentertawakan calon suaminya.


Pria itu mengulang kembali perkenalan dirinya. Dia tipe pria yang kolot dan selalu ingin didengarkan. Tidak mau mendengarkan. Orang itu juga senang sekali pamer.


Aku agak mencemaskan arin karena mendapatkan pria aneh seperti itu. Namun, kelihatannya arin bahagia-bahagia saja saat bersamanya.


Dia nampak berbeda saat sedang bersamaku. Arin terlihat lebih cantik dari biasanya. Ia seolah telah mempersiapkan dirinya untuk bertemu dengan wiliam.

__ADS_1


"Kalian semua tau gak kalau kita berdua. Rencananya akan menikah 2 bulan lagi." Ucap wiliam.


Pernyataannya tersebut sukses membuat jantungku nyaris keluar dari tempatnya. Aku terkejut bukan main. Arin secepat itu memutuskan untuk menikah dengan pria norak seperti dirinya.


__ADS_2