Menikah Di Usia 16

Menikah Di Usia 16
Kesetiaan di uji


__ADS_3

Seorang wanita cantik yang ia rasa kenal, Menarik perhatian nya. Ia tidak banyak berbasa-basi. Walaupun, wanita itu menyapa nya.


Pekerjaan yang diberi kan oleh arin sampai larut malam. Sudah membuat nya muak. Dan saat tiba di rumah orang nya malah ada disini.


Arin tersenyum misterius begitu adnan lewat di hadapan nya. Tidak tau apa yang sedang di rencanakan oleh nya.


"Mau dibuatkan kopi atau teh?" Tawar alika yang membuat arin terkejut.


"Kopi saja."


Alika segera pergi ke dapur untuk membuat kan kopi, Bersamaan dengan bu lyla yang keluar dari kamar sambil membawa cucu nya.


"Eh... dek afnan udah mandi." Sapa arin dengan akrab.


"Iya nih..." Sahut bu lyla yang mencoba menirukan suara anak kecil.


"Pasti bu lyla seneng banget punya cucu." Ucap arin.


"Iya rin."


Tampak nya arin telah berdamai dengan keadaan. Karena mau berkunjung kerumah adnan. Meskipun, ia tau itu akan membuat nya sedikit sedih.


Karir dan kehidupan yang cemerlang. Tak mampu mengisi hati nya yang hampa. Ia juga ingin sekali membangun keluarga kecil. Walau bukan bersama nya.


"Bagaimana rin cowok yang lagi deket sama kamu? Apa dia mau nerima masa lalu mu?" Tanya bu lyla.


"Gak tau bu. Aku gak sreg sama dia. Minggu kemarin dia ketauan jalan bareng sama cewek lain. Ngaku nya sih adik dia." Jawab arin dengan ketus.


"Ya sudahlah jangan dipikirkan. Toh, masih banyak diluaran sana cowok." Ucap bu lyla.


"Iya bu."


Arin tersenyum getir. Sebenar nya ia sudah tidak terlalu tertarik dengan dunia percintaan. Kalau ada yang baik dan mau nerima kekurangan nya, Arin siap membuka hati nya lagi.


Menurut arin pernikahan itu bukanlah sebuah permainan. Melainkan ikatan suci yang harus di jaga selamanya.


"Kamu gak tertarik sama difa?" Celetuk bu lyla.


"Hehe gak bu."


"Difa belum pernah menikah loh. Dia juga kelihatan nya baik." Bu lyla mencoba mencomblangkan nya.


"Gak bu."


Percakapan mereka berdua berhenti saat alika datang seraya membawa nampan berisi 1 gelas teh dan 2 gelas kopi.

__ADS_1


"Maaf menganggu kalian." Ucap alika sambil meletakkan 1 gelas teh dan 2 gelas kopi di atas meja.


"Iya gak apa-apa. Santai aja." Arin membantu menggeser gelas-gelas tersebut.


"Aku gak tau kamu sepintar ini mengurus semua nya. Dari tadi aku gak nemuin sedikitpun debu dilantai." Selanjut nya arin memuji alika. Tapi, terdengar seperti menyindir.


"Aku udah terbiasa melakukan semua ini." Alika merasa mantan kekasih sang suami berlebihan memuji.


"Semoga kamu dan adnan selalu bahagia."


Arin sudah kehabisan kata-kata. Ia sangat kagum pada wanita pilihan keluarga nya adnan ini. Disamping masih muda. Alika juga pintar dalam segala hal.


Namun, ia sangat menyayangkan masa muda nya yang hanya di habiskan untuk mengurus rumah tangga. Tidak terbayang di benak nya, Alika akan menjadi apa di masa depan. Jika, adnan semakin tua dan benar-benar berhenti dari pekerjaan nya.


"Ada yang mau aku tanyakan sama kamu." Arin tidak bisa menahan lagi rasa penasaran nya.


"Iya."


Arin menarik nafas nya terlebih dahulu. Lalu bertanya. "Apa kamu punya mimpi yang ingin kamu wujudin?"


"Ada."


"Apa itu?"


"Aku ingin menjadi orang yang bisa memberikan manfaat untuk banyak orang. Terutama anak-anak. Aku ingin membuat mereka pintar." Ungkap alika dengan antusias.


"Iya."


"Kamu hebat. Karena tidak ada gadis seusia mu yang setelah menikah. Memiliki impian untuk di wujudkan. Rata-rata dari mereka menghabiskan waktu nya untuk mengurus anak dan suami." Jelas arin yang semakin kagum pada alika.


"Aku ingin berbeda dari mereka. Hanya karena menikah. Bukan berarti seorang perempuan harus menghentikan langkah nya untuk menggapai impian." Tegas alika.


"Sangat menarik."


Bu lyla yang dari tadi menyimak pembicaraan mereka. Mulai di buat bosan. Ia pun berdiri. Lalu, meninggalkan tempat tersebut.


Sedangkan adnan yang baru pulang dari tempat kerja nya. Membersihkan diri nya sebelum bergabung dengan arin dan alika.


"Sejak ada disini?" Tanya adnan yang muncul dari balik pintu kamar nya.


"Beberapa menit yang lalu."


"Pekerjaan yang kau minta untuk diperbaiki itu sudah aku selesaikan." Ucap adnan dengan formal.


"Gak usah bicara formal kalau di luar kantor. Aku kurang nyaman." Tukas arin.

__ADS_1


"Baiklah. Jika, itu yang kamu mau. Ngomong-ngomong mana laki-laki itu? Beberapa hari ini batang hidung nya gak keliatan." Adnan heran dengan keberadaan laki-laki yang selalu mengekor di belakang arin.


Beberapa hari ini dia tidak masuk kerja. Dan arin menyembunyikan alasan nya.


Arin menghembuskan nafas nya kasar. Kemudian menjawab pertanyaan adnan dengan sedikit emosi. "Huft!~~ Dia sudah membohongi ku. Laki-laki itu ketauan jalan sama cewek lain. Tapi, dia gak ngaku."


"Cckkk sudah kuduga. Dia hanya memanfaatkan mu saja." Sindir adnan.


"Pasti kamu senang karena aku begini. Aku memang payah." Keluh arin.


"Bukan begitu maksud ku."


"Terus apa?"


"Aku cuman menyayangkan pilihan mu aja. Lagian kenapa kamu mau di dekati laki-laki aneh seperti dia. Kata irene dari awal kerja, Gelagat nya udah kelihatan mencurigakan. Kaya nya dia cuman mau manfaatin posisi kamu aja deh." Ucap adnan.


"Udah lah gak usah dibahas lagi."


Alika mulai merasakan ketidak nyamanan ada diantara mereka. Kedua nya tampak akrab saat mengobrol. Terlihat serasi dan chemistry masih kuat.


"Kenapa kamu diam aja?" Tanya arin yang heran melihat alika terlihat seperti sedang gelisah.


"Gak apa-apa kak."


"Eh... kamu inget gak waktu dulu kita pernah pergi ke undangan pernikahan nya si illa." Arin mengganti topik pembicaraan.


"Oiya.. emang nya kenapa?"


"Kalau dilihat-lihat illa mirip sama istri kamu. Pendiem." Jawab nya.


Adnan menaikkan sebelah alis nya. Dan mengingat-ngingat kenangan bersama arin di masa lalu.


"Gak terlalu, rin. Cuman mirip baik nya aja. Alika bukan orang yang pendiam. Apalagi kalau udah akrab sama orang." Jawab adnan.


"Hmmm bener gak itu?" Arin mengajak adnan bercanda.


"Bener dong....." Adnan mengeluarkan suara so imut. Dan itu adalah candaan garing saat mereka masih bersama.


"Wkwkkwk...ternyata kamu masih inget nada nya. Eww.. menjijikan." Ucap arin sambil tertawa terbahak-bahak.


Melihat kedua nya bernostalgia. Alika cemburu. Yang bisa hanya ia lakukan adalah diam, Tanpa mengerti apa yang mereka berdua bicarakan.


Alika juga merasa seperti orang yang asing. Suami nya malah asyik mengobrol dengan nya. Dengan tidak memperdulikan keberadaan alika.


"Masih lah." Sahut adnan yang tetap fokus dengan arin.

__ADS_1


Karena lumayan kesal. Alika memutuskan untuk pergi dari sana secara diam-diam. Di tengah candaan hangat antara sang suami dan mantan kekasih nya.


BERSAMBUNG~~


__ADS_2