Menikah Di Usia 16

Menikah Di Usia 16
Kegelisahan


__ADS_3

Menjelang siang bu lyla dan anak nya pergi ke pernikahan anak teman nya. Ini adalah kesempatan emas bagi nya supaya bisa mencari seorang gadis untuk adnan.


Mereka terlihat bersiap untuk berangkat menggunakan sepeda motor. Sebelum itu beliau berpesan pada nek yu agar tidak masak untuk makan malam nanti karena setelah pulang dari pernikahan mereka akan mampir kerumah adik bu lyla.


"Ayo, nak kita berangkat!" Bu lyla menepuk pundak anak nya.


"Iya, bu." Adnan melajukan kendaraan roda dua nya tersebut menuju jalanan desa yang tidak terlalu ramai.


Perjalanan ke pernikahan itu tidak memakan waktu yang banyak. Karena lokasi nya yang dekat dengan kantor kepala desa. Dari rumah bu lyla tinggal lurus Dan belok kanan. Namun, jika ditempuh dengan jalan kaki lumayan jauh.


Pesta pernikahan anak teman nya bu lyla tersebut banyak dihadiri oleh para tamu. Termasuk anak-anak gadis yang merupakan teman sipengantin wanita. Bu lyla sangat bahagia akan hal itu.


Beliau menarik tangan adnan sambil memberi isyarat pada nya. Adnan yang tidak peka hanya bisa melihat ibu nya bersikap konyol.


"Nak!" Beliau menyenggol lengan anak nya.


Adnan tersenyum pahit karena mulai tidak nyaman dengan sikap sang ibu. Ia mengerti, jika ibu nya sudah seperti ini pasti beliau sedang melihat seorang gadis yang menarik perhatian nya.


Disana adnan lebih banyak diam dan hanya mengikuti kemana ibu nya melangkah. Dan bu lyla pantang menyerah untuk mencari seorang gadis yang nanti nya akan dikenalkan pada anak nya.


"Nak, lihat kesebelah kiri." Ucap bu lyla seraya mengedipkan sebelah mata nya.


"Apalagi bu?" Mau tidak mau adnan menengok kesamping nya. Ternyata tepat disebelah adnan ada seorang gadis, Dengan penampilan yang menarik tengah menyantap hidangan yang ada dipernikahan tersebut.


Dia memang tipe adnan dan Ia senang melihat nya terbukti dari ekspresi wajah yang ia tunjukkan. Sang ibu akhir nya bisa tersenyum lega karena bisa melihat anak nya terlihat tertarik pada gadis itu.


"Bu, aku mau jus jeruk." Mendadak seorang anak kecil menghampiri gadis itu. Lalu, disusul oleh seorang pria yang umur nya tak jauh dengan adnan.


Pupus sudah harapan nya. Orang yang dimaksud gadis itu ternyata sudah berkeluarga. Betapa malu nya adnan saat itu.


"Keliatan nya kaya masih gadis. Hehe." Bu lyla terkekeh.


"Bu, adnan mau ambil air putih dulu." Ucap nya.

__ADS_1


"Iya jangan lama-lama."


Baru saja adnan tertarik dengan seseorang. Tapi, malah salah sasaran. Rasa malu yang berkecamuk membuat tenggorokkan nya kering. Ia memutuskan untuk ambil segelas air putih seraya mencoba melupakan kejadian konyol tadi.


Bukan nya lupa. Ia malah bertemu dengan anak kecil itu. Kebetulan dia ada disana. Anak tersebut nampak sedang kesusahan mengambil jus jeruk.


Adnan berusaha membantu nya. Sebelum itu ia ambil cup terlebih dahulu untuk menampung jus jeruk tersebut. Lalu, menuangkan nya pada cup dan memberikan nya pada anak kecil itu.


"Makasih, om." Ucap anak itu.


Beberapa saat kemudian ibu dari anak tersebut datang untuk menyusul nya. Dia cantik, masih muda dan naluri nya sangat keibuan.


Adnan memperhatikan mereka yang nampak bahagia. Dalam hati nya tiba-tiba terbersit ingin segera memiliki sebuah keluarga kecil yang memang didambakan nya sejak lama.


Namun, ia kembali tersadar jika diri nya selalu gagal saat mencari pasangan hidup yang cocok untuk nya. Tidak semudah yang dibayangkan memang. Apalagi soal mencari jodoh.


Ini bukan tentang rupa yang cantik dan menawan. Tapi, ini perihal menemukan sosok wanita yang dapat menerima segala kekurangan dan kelebihan nya. Karena bagi adnan menikah adalah sebuah perjalanan panjang dengan banyak cobaan dan masalah.


Meski begitu ia tak pernah mengurungkan niat nya untuk menikah. Siapapun nanti jodoh nya ia hanya berharap wanita itu adalah wanita yang dipilihkan langsung oleh Sang pencipta untuk nya.


"Sudah nak?" Tanya beliau.


"Iya bu." Sahut adnan sambil memberikan air putih tersebut pada sang ibu. Ia memang lebih peka pada hal sepele seperti itu dibandingkan dengan yang lain nya.


"Bagaimana sudah ketemu sama gadis beneran?" Gurau ibu nya.


"Jangan begitu, bu."


"Iya, nak. Maaf." Bu lyla kelihatan sedikit gelisah karena melihat sang anak seperti sedang memikirkan sesuatu.


Meski tidak mengungkapkan nya lewat kata-kata. Beliau bisa merasakan apa yang dirasakan oleh anak semata wayang nya tersebut.


Ia tau bagaimana rasa nya tertarik pada orang yang salah hanya karena penampilan orang tersebut seperti belum memiliki pasangan.

__ADS_1


Sebisa mungkin bu lyla berusaha menghibur adnan dengan mengajak nya naik keatas pelaminan untuk foto bersama pengantin.


Dengan menurunkan rasa gengsi nya. Adnan akhir nya mau diajak foto.


Perasaan nya kembali membaik. Saat selesai mereka bersalaman kekeluarga mempela pria dan wanita.


"Makasih, bu lola. Sudah datang." Ucap ibu dari sang mempela wanita yang merupakan teman baik nya.


"Iya bu." Bu lyla cipika cipiki dengan ibu yang punya hajat.


"Doakan anak saya bisa menyusul secepat nya." Lanjut bu lyla.


"Iya bu. Saya doakan nak adnan segera menyusul." Timpal ibu yang punya hajat.


Mereka sudah akrab karena sering bertemu di sebuah pengajian rutin yang selalu diadakan di desanya.


Namun, kedekatan mereka tidak lantas menjodohkan anak-anak nya. Karena saat itu anak teman bu lyla sudah memiliki calon.


"Kalau begitu saya dan adnan pulang dulu. Saya turut berbahagia dengan pernikahan anak ibu. Semoga menjadi keluarga yang samawa." Ucap bu lyla.


"Aamiin."


Bu lyla dan adnan pun berlalu meninggalkan pesta pernikahan tersebut. Tapi, sebelum pulang kerumah nya mereka berencana untuk mengujungi bibi adnan.


Mereka berdua ingin berkunjung untuk menjenguk sang nenek yang sudah lama tidak bertemu dengan adnan.


Sesampai nya disana bu lyla dan anak nya langsung disambut hangat oleh bibi dan keluarga besar nya. Tak lupa juga sang nenek yang memeluk erat cucu nya yang paling sholeh.


Tanpa sepatah kata pun yang keluar dari mulut adnan. Sang nenek sudah mengerti kalau ia sangat merindukan nya.


Tak terasa air mata adnan menetes karena sedih belum bisa memberikan nenek nya cicit diumur adnan yang hampir menginjak 30 tahunan itu.


Sementara nenek nya sudah sangat tua dan waktu nya tidak banyak lagi. Kemana-mana beliau harus menggunakan kursi roda.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, nak. Nenek akan sabar menunggu. jodoh pasti bertemu." Ucap sang nenek seraya melepaskan pelukan nya. Lalu, mengusap air mata adnan yang mengalir dipipi nya.


BERSAMBUNG~~


__ADS_2