
Angin segar dipagi hari menghembuskan rambut alika yang dibiarkan terurai. Semalam ia tidak bisa tidur karena masih belum terbiasa. Jadi, alika memutuskan untuk berjaga semalaman. Menjelang subuh ia langsung mandi dan mencuci rambut nya yang sudah lengket.
Dan ketika semua orang masih terlelap, Ia keluar penginapan untuk mengeringkan rambut nya seraya melihat pemandangan tempat wisata dipagi hari.
Sedangkan sang suami ia tinggal diruangan nya. Ia tidak tega jika harus membangunkan nya dan meminta adnan untuk menemani nya.
Ia hanya ditemani secangkir kopi dan segenggam kue cokelat favoritnya. Cuaca diluar cukup dingin tapi alika tidak ingin cepat beranjak dari tempat duduk nya.
Sayang sekali jika harus melewatkan gulungan ombak dipagi buta seperti sekarang ini.
"Akhirnya kak lyla sebentar lagi akan menimang cucu." Terdengar suara seseorang dari dalam penginapan.
"Iya..." Dan suara itu makin jelas.
Percakapan dua orang tersebut mengejutkan alika yang tengah menyeruput kopi nya. Sontak ia langsung meletakkan kopi nya saat mereka ada dihadapan alika.
"Bi oli...Netta.." Sapa alika.
"Selamat pagi, alika." Mereka menyapa balik alika.
Bi oli dan netta bertingkah aneh didepan nya. Ia menatap alika dengan tatapan menyelidik seolah ada sesuatu yang harus mereka ketahui. Meskipun alika risih dengaan sikap kedua nya.
Mereka tidak peduli. Bi oli dan netta tetap bersikukuh untuk mengetahui alasan alika keramas dipagi buta seperti ini.
"Rajin sekali keramas dipagi hari." Celetuk netta yang sudah tidak tahan lagi untuk berkomentar.
Sementara itu alika masih belum mengerti dengan maksud bi oli dan netta. Ia berusaha mencerna dengan baik setiap gerak gerik mereka berdua.
"Padahal matahari belum muncul." Ucap bi oli.
"Aku tidak mengerti dengan apa yang kalian katakan." Alika mengerutkan kening nya.
Bi oli dan netta malah cekikikan. Mereka mentertawakan kepolosan nya. Alika, gadis belia yang baru menjalani kehidupan berumah tangga. Namun, belum sama sekali ketahap yang lebih menantang.
Karena pilihan adnan yang bijak tidak akan memaksa istri nya tersebut jika belum siap untuk menjalankan ibadah sakral dalam pernikahan.
__ADS_1
"Bu lyla sudah ingin cepat-cepat menimang cucu. Wajar lah adnan langsung mempercepat proses pembuatan nya." Celoteh netta sambil terkekeh.
"Proses pembuatan apa yang kalian maksud?" Yang dibicarakan mendadak muncul.
Seketika suasana berubah menjadi menegangkan. Jika sudah begini bi oli dan netta tidak berani lagi mengganggu alika. Tanpa pikir panjang lagi mereka langsung pergi.
"Kami permisi dulu, ya. Soal nya aku dan bi oli harus membuat sarapan dulu." Ucap netta dengan sedikit ketakutan.
"Iya." Sahut alika yang masih kebingungan.
"Kalian sedang membicarakan apa? Seperti nya serius sekali." Tanya adnan seraya memasukkan kedua tangan nya kedalam saku celana.
"Hm.. kami hanya saling menyapa seperti biasa nya. Tidak ada hal serius yang kami bicarakan. Tolong jangan salah paham!" Ucap alika. Ia tau jika menjelaskan suatu hal pada sang suami akan berbuntut panjang. Jadi, sebisa mungkin ia tidak memberi tahu apa yang bi oli dan netta katakan.
"Jangan katakan apapun pada mereka. Apalagi mengenai rencana kita berdua. Aku melakukan semua ini demi kebaikan mu." Adnan mengingatkan.
"Iya, kak."
Baru kali ini alika merasakan kehangatan dari pria yang sudah resmi jadi suami nya itu. Tidak ada angin tidak ada hujan adnan duduk begitu saja disamping alika. Benih-benih cinta seperti nya mulai tumbuh dalam hati gadis tersebut.
Jantung nya berdegup lebih kencang. Perasaan nya tidak karuan dan ia sedikit gugup. Tapi, adnan terlihat biasa saja.
Penginapan yang keluarga adnan sewa dekat dengan pantai sehingga membuat mereka semua sedikit santai untuk pergi ke pesisir pantai.
"Apa kamu tidak suka memakai pakaian yang sedikit terbuka?" Tanya sang suami pada alika yang nampak aneh dengan baju dress yang nyaris menutupi setiap lekuk tubuh nya.
"Iya. Aku tidak begitu suka." Jawab nya to the point.
Adnan hanya menganggukkan kepala nya. Ia mengerti kenapa istri nya tidak senang mengenakan pakaian yang sedikit terbuka.
"Apa aku terlihat kampungan?Karena mengenakan dress ini?" Tanya alika.
"Tidak. kamu terlihat cantik. Lagipula aku tidak suka dengan wanita yang memakai pakaian yang menunjukkan lekuk tubuh nya atau sedikit terbuka." Ungkap nya.
Mendengar pujian yang keluar langsung dari mulut sang suami. Alika senang bukan kepalang. Pertama kali nya adnan memuji nya seperti ini.
__ADS_1
Ia jadi semakin tertarik dengan kepribadian adnan yang sedikit demi sedikit mulai terlihat.
'Ternyata dia tidak seburuk yang ku bayangkan.' Ucap alika dalam hati.
'Dingin nya es akan mencari seiring berjalannya waktu. Begitu juga dengan nya.' Tanpa sadar alika tersenyum karena membayangkan betapa bahagia nya jika suami nya itu dapat bersikap hangat pada alika.
Adnan memperhatikan istri nya tersebut dengan tatapan senang. Gadis malang yang selalu sang ibu ceritakan itu kini telah menjadi pendamping hidup nya. Ia sendiri tak menyangka karena adnan hanya mengenal sedikit alika lewat cerita ibu nya.
Ia hanya menggambarkan sosok gadis biasa yang telah ditinggal oleh keluarga nya dan setelah itu ia hidup dengan nenek nya yang sudah renta. Dan bekerja untuk bu lyla, sang ibu.
"Maaf aku masih belum bisa mengerti kamu. Jika kamu membutuhkan sesuatu katakan saja. Aku akan berusaha memenuhi semua keinginan mu." Ucap adnan.
"iya kak. Tidak apa-apa."
"Maaf juga untuk kejadian saat ditempat makan waktu itu. Aku tidak tau jika arin datang kesana. Kamu tidak usah khawatir karena kita sudah tidak punya hubungan apapun lagi." Tukas nya dengan perasaan tidak enak pada alika.
"Iya kak. Aku mengerti. Aku juga sudah mendengar nya dari bu lyla." Ucap alika.
"Aku memang pernah mencintai nya. Tapi, sekarang tidak." Adnan terlihat seperti sangat terluka ketika mengatakannya.
Kembali nya arin tidak akan membuatperasaan nya luluh. Apalagi sampai mengulang kembali kisah lama nya dengan arin.
Ia sudah terikat dengan yang nama nya pernikahan. Menikah dengan gadis pilihan sang nenek. Meski ia belum dapat mencintai alika. Tapi, adnan tidak akan pernah berubah haluan.
Meski ia harus banyak belajar memahami alika dan bersabar untuk nya adnan rela.
Asal ia dapat menjaga keutuhan rumah tangga bersama gadis yang masih berusia 16 tahun tersebut.
"Terima kasih." Ucap alika.
"Untuk apa?" Adnan tidak mengerti maksud nya.
"Untuk semua nya. Kebaikan ibu dan Kak adnan pada kami." Alika merasa sangat bersyukur karena dikelilingi orang-orang baik saat diri nya terpuruk.
Suami nya hanya merespon ucapan alika dengan senyuman.
__ADS_1
Pagi ini adalah momen paling langka yang alika alami. Adnan, sang suami yang dari awal menikah belum banyak mengobrol dengan nya. Kini, perlahan ia mau membuka diri nya untuk alika.
BERSAMBUNG~~