
Gadis yang ku nikahi berbeda, Dengan gadis lain nya. Tidak ku sangka dia sangat pintar dan memiliki prestasi yang cukup baik disekolah nya. Dia juga merupakan sahabat sena, sepupu arin. Dunia memang sempit.
Ku kira mereka tidak saling mengenal. Ternyata kedua nya memiliki hubungan persahabatan. Kata nya sena yang lebih dulu mengajak istri ku berteman. Sena memang gadis yang baik dan supel. Maka nya tidak heran dia cepat akrab dengan alika.
Hari-hari ku terasa lebih tenang. Semenjak menikah dengan nya. Alika tidak seperti gadis remaja seusia nya. Dia banyak menghabiskan waktu nya dengan bekerja di rumah ku, Membantu sang nenek.
"Dia seperti vivi." Gumam ku yang tiba-tiba teringat adik perempuan ku.
Vivi adalah adik tiri ku. Tapi, sekarang dia sudah bahagia dialam sana bersama mendiang ayah. Aku memang anak semata wayang ayah dan ibu.
Namun, saat usia ku 14 tahun. Mereka mengadopsi vivi. Setelah mengandung dan melahirkan ku, Ibu tidak dapat memiliki anak lagi, Karena kanker yang diderita nya.
"Vivi, ayah. Aku sangat merindukan kalian." Perlahan air mata ini menetes.
"Kak.." Suara alika yang lumayan pelan, Membuat ku terkejut. Aku segera mengusap kedua pipi, Yang sudah terkena tetesan air mata.
"Sejak kapan kau ada disini?" Aku membalikkan tubuh ku.
"Maaf jika aku mengganggumu. Aku kesini untuk memberitahu kaka kalau ada sena di depan." Ungkap nya.
"Sena? Untuk apa dia kesini?" Tanya ku.
"Berkunjung saja kata nya." Jawab alika.
"Suruh dia masuk." Aku berjalan menuju ruang tamu, Diikuti oleh istri ku.
Ternyata sena sudah ada didalam, Begitu kami sampai diruang tamu. Dia nampak membawa buah tangan. Aku selalu senang, Setiap kali sena mengunjungiku. Dia sudah ku anggap seperti adik ku sendiri.
Gadis manis itu sangat pengertian. Dia tak pernah absen membawa apapun itu. Tiap kali mengunjungi ku.
Dia merupakan adik sepupu arin, Mantan kekasih ku. Meskipun aku dan arin sudah putus. Aku dan sena tidak memutuskan pertemanan kami.
"Kak adnan! Bagaimana cocok tidak bekerja disana?" Tanya senan membuat ku kebingungan.
"Apa yang kau maksud?" Aku menautkan kedua alis.
"Aku kira kau paham maksud ku. Aku yang meminta pada kak arin untuk menerima mu kerja. Bagaimanapun cara nya." Ungkap sena.
"Pantas saja aku langsung diterima tanpa harus bersusah payah. Seharus nya kau tak perlu melakukan hal itu. Aku ini sudah berpengalaman dalam dunia kerja. Jadi, aku ingin diterima di sana karena kemampuan ku." Tukas kak adnan.
__ADS_1
"Tentu saja." Seru sena. Dipikir-pikir dia menyebalkan juga. Kadang kala bertingkah seperti anak kecil.
Jika bukan karena istri ku. Aku tidak ingin masuk ke tempat kerja nya milik kakek arin.
Sebenci apapun dengan keadaan, Aku tidak boleh mengeluh dan menyerah. Aku harus bisa membuat alika dan ibu ku bahagia.
"Arin berubah." Aku duduk di kursi setelah cukup lama berdiri.
"Iya kak. Sejak kenal dengan pria itu. Kak arin banyak tingkah. Aku saja sering dimarahi oleh kak arin gara-gara hal sepele." Sorot mata sena berubah jadi tajam.
"Emosi nya jadi tidak stabil. Mudah sekali berubah-ubah." Lanjut sena.
"Sudahlah sena. Jangan menjelekkan kak arin." Alika mengingatkan.
Mendengar ocehan sena, Aku jadi prihatin terhadap arin. Ku pikir setelah percakapan terakhir kita saat ditempat wisata, Benar-benar bisa membuat hati nya damai. Nyata nya arin malah tidak bisa berdamai dengan diri nya sendiri.
Lantas ia jadi mencari tempat pelampiasan. Pria itu kelihatan hanya memanfaatkan arin saja. Terutama dalam pekerjaan.
Semoga dia terhindar dari hal-hal buruk dan bisa mendapatkan pengganti yang jauh lebih baik.
"Kak.. kenapa melamun?" Lamunan ku buyar karena pertanyaan sena.
"Alika, Tolong ambilkan kami minum." Titah ku pada nya.
"Iya kak." Dia memang istri yang penurut. Seperti nya aku mulai ada rasa pada nya. Tiap kali dia memainkan peran nya sebagai seorang istri.
Hati ku terasa lebih bahagia. Ketika bersama sena, Dia selalu bertingkah kekanak-kanakkan. Namun, saat sedang bersama ku, Alika selalu menunjukkan sikap dewasa. Dia gadis yang unik.
Tidak seperti arin yang so dewasa. Lagi-lagi aku mengingat nya. Selama arin masih berkeliaran disekitar ku. Aku juga sulit melupakan tentang nya.
"Dia sulit dilupakan. Terlalu membekas." Ungkapan isi hati ku yang paling dalam.
"Lupakan dia. Tidak ada guna nya." Sena sewot.
"Baiklah adik kecilku." Aku mencubit pipi sena yang chubby, Bertepatan dengan alika yang muncul sambil membawa nampan berisi 3 gelas es teh yang sudah tersedia di lemari es.
Sontak saja tangan ini ku lepaskan dari pipi sena. Suasana canggung pun menyelimuti kami.
Alika menatap kami berdua dengan tatapan aneh. Dia menyimpan di atas meja pun dengan tangan yang sedikit gemetaran.
__ADS_1
"Maaf.. menganggu kalian." Ucap nya. Setelah itu berdiri untuk mengembalikan nampan tersebut kedapur.
"Ini tidak seperti apa yang kau pikirkan." Aku mencoba meluruskan kejadian yang baru saja terlihat oleh nya.
"Iya alika. Jangan salah paham." Imbuh sena.
"Iya aku mengerti." Dia melangkah kaki nya menuju dapur.
Beberapa menit kemudia kembali menghampiri kami. Lalu, duduk di samping ku.
"Aku mengerti kalian hanya sebatas teman. Lagi pula aku tidak harus cemburu. Kau teman ku, sena. Aku sangat mempercayai mu." Ungkap nya. Tak ku duga alika bijak juga dalam berkata.
Pemikiran nya, Itu yang paling aku sukai. Jauh berbeda dengan arin yang agak posesif.
"Tidak harus cemburu? Cckk.. lucu sekali kau ini. Kau tau kan kami sudah lama saling mengenal." Ledek sena.
Benar juga jawaba sena. Kenapa alika harus mengatakan hal seperti itu pada kami. Aku baru ingat jika kami sering terlihat akrab. Bahkan, aku bicara selayak nya teman sebaya sena.
Apa mungkin dia berkata seperti itu, Untuk mengurangi suasana canggung? Ataukah alika hanya benar-benar cemburu melihat ku mencubit pipi sena?
Aku sangat penasaran dengan nya. Selama ini kami hanya memainkan peran masing-masing. Dan menuntaskan tugas kami. Tidak pernah mengungkapkan isi hati kami berdua.
Sebagai pasutri baru yang dijodohkan dan belum saling mencintai. Rasa nya sulit memunculkan chemistry antara aku dan istri.
"Alika jago masak ya kak?" Tanya sena, Membuka percakapan.
"Iya."
"Tidak juga." Ucap alika malu-malu.
"Jangan merendah."
"Benar. Aku terlalu pandai memasak." Alika doyan merendah.
"Masakan alika enak sekali. Apalagi udang balado nya." Aku sengaja memuji nya, Agar ia mau mengakui kehebatan nya dalam memasak.
Bagi ku alika adalah pendamping hidup ku yang paling unik.
BERSAMBUNG~~
__ADS_1