
'Aku tidak tau apakah aku berhak marah atau tidak?Dia suami ku tapi disisi lain kami belum saling mencintai.' Alika menangis sesegukan sambil bersembunyi di mana orang-orang tidak bisa dengan mudah menemukan nya.
Ia ingin meluapkan emosi nya yang terpendam. Perasaan saat ini seolah hancur berkeping-keping ketika melihat suami nya didatangi oleh wanita yang pernah dicintai nya tersebut.
Alika memang belum bisa mencintai sang suami. Tapi, setidak nya ia sudah berusaha untuk mengenal lebih jauh adnan yang memiliki sifat tertutup.
Dan alika sadar ia hanya gadis yang baru menginjak usia 16 tahun. Menikah dengan nya pun bukan karena cinta. Namun, karena sebuah perjodohan.
Ia tak merasa dipaksa. Alika ikhlas menerima semua nya. Karena ia percaya tuhan sedang mempersiapkan jalan hidup yang tepat untuk nya. Jadi, diri nya tidak merasa terbebani dengan keputusan nya saat ini.
"Maafkan aku. Apa yang kau lihat tadi itu tidak benar." Saat tengah menangis alika mendengar suara. Suara yang biasa mengisi hari-hari nya.
Ia mendongakkan kepala nya untuk meyakinkan kembali siapa pemilik suara tersebut.
"Semua ini hanya kesalah pahaman."
"Bagaimana bisa kamu menemukan tempat ini?" Tanya alika.
Ternyata langkah alika masih bisa dikejar oleh suami nya sehingga tempat persembunyian nya dapat mudah ditemukan oleh adnan.
"Langkah mu tidak dapat mengalahkan langkah ku. Jadi, aku masih bisa menyusul mu." Ucapan nya terdengar seperti meledek dan merendahkan alika.
"Aku tidak peduli! Lebih baik kak adnan pergi dari sini. Aku ingin sendiri dulu." Emosi alika mulai naik. Sikap kekanak-kanakan nya seketika muncul.
Adnan hanya bisa tersenyum melihat tingkah laku istri nya tersebut. Lalu, ia pun menuruti keinginan sang istri untuk pergi. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun lagi adnan berlalu meninggalkan alika.
__ADS_1
***
"Dari mana saja,Nak?" Bu lyla yang dari tadi mencari adnan langsung melemparkan pertanyaan saat anak nya tiba di penginapan.
"Maaf bu. Adnan tadi pergi begitu saja." Ia merasa bersalah karena pergi tanpa pamit pada sang ibu.
"Iya, nak. Maafkan ila juga ya. Maklum dia masih anak-anak. Jadi, kamu jangan terlalu sensitif." Ucap bu lyla.
"Iya bu."
Sebenar nya tadi ia bertemu dengan arin. Ia juga tidak tau kenapa arin mendadak muncul disana. Padahal tidak ada seorang pun yang memberitahu nya.
Entah kebetulan atau tidak. Yang jelas adnan sangat marah karena harus bertemu dengan mantan kekasih nya itu diwaktu yang tidak tepat.
"Kak adnan.." Panggil ila sambil berlari-lari kecil menghampiri adnan.
Ia merentangkan kedua tangan nya. Spontan ila pun memeluk paman nya tersebut sambil tertawa bahagia.
"Kak adnan.. tadi ila ketemu sama kak arin. Dia titip salam untuk kakak." Ucap ila dengan polos nya.
"Kak adnan masih pacaran sama kak arin, ya?" Pertanyaan yang keluar dari mulut anak kecil sukses membuat darah adnan mendidih.
Untung saja alika datang. Emosi nya jadi mereda karena perhatian nya langsung terpusat pada sang istri. Alika yang baru saja sampai kebingungan dengan adnan yang menatap diri nya dengan tatapan aneh.
"Kak dia siapa?" Ila memang terkenal polos dan ceplas ceplos. Anak itu masih belum mengenali alika sebagai istri paman nya.
__ADS_1
Dalam hati adnan mengerutu. "Jika saja dia bukan ila aku pasti sudah mencubit kedua pipi nya yang tembem."
Semua keluarga nya sudah berulang kali memberitahu ila jika gadis yang sekarang tengah ada didepan nya itu adalah istri paman nya.
Tapi, dalam ingatan ila hanya ada arin. Dulu saat adnan dan arin masih menjalin hubungan ila sangat dekat dengan wanita itu. Mereka sering menghabiskan waktu bersama jika arin berkunjung kerumah bu lyla.
Arin juga pandai mengambil hati ila sehingga keponakan nya tersebut betah bermain lama-lama dengan nya.
"Maaf ya nak alika. Ila memang begitu." Ucap ibu ila. Ia mengambil anak nya dari pangkuan adnan.
"Iya kak.."
"Ila.. lain kali jangan bilang begitu lagi ya. Kakak yang cantik ini adalah istri nya kak adnan. Dia pacar beneran nya." Ucap ibu ila dengan lembut pada anak nya.
"Tapi aku lebih suka kak arin jadi pacar kak adnan." Anak kecil memang sulit diberitahu. Ia akan mengerti saat diri nya sudah dewasa.
Adnan menghela nafas dan mencoba mengatur emosi nya supaya tidak meledak-ledak. Kemudian ia pergi menuju kamar nya dan diikuti oleh alika.
Ia langsung merebahkan diri nya dikasur saat tiba. Sementara alika duduk di kursi seraya menyalakan televisi yang ada disana.
"Tidak usah dipikirkan apa yang terjadi hari ini. Walau bagaimanapun aku tidak akan pernah menghancurkan semua nya hanya karena kehadiran arin." Ucap nya.
Meski alika dapat mendengar perkataan nya. Ia tak ingin merespon nya. Alika memilih untuk tetap fokus menonton acara yang ada ditv.
Ingin marah takut salah. Ingin cemburu apalagi. Perang batin yang dialami nya sungguh menyiksa perasaan alika. Disini ia juga harus tau diri. Karena alika hanyalah orang yang baru hadir dikehidupan suami nya.
__ADS_1
BERSAMBUNG~~