Menikah Di Usia 16

Menikah Di Usia 16
Kejutan


__ADS_3

1 tahun ke depan alika tidak dapat memastikan pernikahan nya akan baik-baik saja. Ia sudah lebih dulu takut. Hari ini saja ia sudah di buat naik pitam. Bayi nya menangis terus belum lagi suami nya tidak kelihatan batang hidung nya.


Alika mondar mandir untuk menghentikan tangisannya. Ia nyaris putus asa karena sang bayi rewel. Dia berusaha sekuat tenaga menahan semua nya sendirian.


Di saat seperti ini bukankah peran suami di butuhkan? Sekadar membantu memomong sebentar afnan. Tidak ada salah nya.


Alika sudah tidak kuat menahan kantuk. Ia memutuskan untuk duduk di kursi. Lalu, memejamkan kedua mata nya sambil menggendong sang anak.


"Alika!!!!" Buka pintu nya." Belum juga alika tidur. Sudah ada teriakan suami nya dari luar.


"Iya." Sahut alika dengan suara yang sangat pelan.


"Padahal baru juga duduk." Gumam nya seraya berjalan ke arah pintu utama.


"Alika... kamu udah tidur?" Adnan terus memanggil istri nya. Padahal ia belum lama tiba.


Ia berjalan sempoyongan dengan mata setengah terpejam. Lantas membukakan pintu. Saat pintu terbuka ia seperti melihat sang suami dengan seorang wanita.


Melihat itu alika spontan mengibaskan tangan nya, Ke wajah suami. Tadi nya ia ingin memukul dada bidang nya suami.


"Kau menyebalkan." Ia juga sempat berkata. Namun, langsung ambruk dan untung nya di tahan oleh adnan.


"Kaya nya dia ngantuk berat." Ucap adnan samar-samar terdengar oleh alika.


"Oke." Dan terdengar juga suara seorang perempuan.


Alika di bawa ke tempat tidur nya dengan afnan. Dia di baringkan di sana. Sementara bayi nya di ambil alih oleh suami nya.


Dia langsung tertidur pulas. Adnan pun keluar dari kamar nya.


"Istri kamu baik banget ya. Walaupun udah ngantuk banget tetep mau bukain pintu nya." Ucap seorang perempuan pada adnan.


"Iya... Dia emang baik banget."


Percakapan itu tidak sengaja terdengar alika, Yang kembali terbangun dari tidur nya. Entah apa yang menggangu pikiran nya. Hingga ia sulit untuk kembali memejam kan mata nya.


Alika sudah tidak sanggup lagi dengan semua ini. Hati nya terasa mendidih dan seluruh tubuh nya kaku. Ingin sekali rasa nya datang menghampiri adnan, Dan memukul suami nya sampai dia merasakan juga sakit hati ya ia rasakan.


Istri sudah bersusah payah sampai kelelahan mengurus semua nya sendirian. Dia malah membawa seorang wanita ke rumah. Maksud nya apa?Sama sekali tidak menghargai jerih payah nya.


'Kalaupun aku belum bekerja. Tolong hargai aku sebagai seorang istri. Aku memang masih banyak kekurangan Tapi, jangan menyepelekan aku.' Alika mencoba menahan emosi nya.


"Afnan... lucu banget sih kamu." Suara wanita itu semakin membuat nya benci dengan sang suami.


"Oiya, aku titip dia di kamu ya." Adnan menitipkan bayi nya ke wanita tersebut. Setelah itu ia datang ke dalam kamar nya.


"Udah bangun lagi."

__ADS_1


Alika membuang nafas nya dengan kasar. Dan menatap tajam suami nya. Dia pikir dia saja yang punya harga diri aku juga punya. Seenak nya mempermainkan hati wanita.


Adnan yang mencoba menyentuh istri nya. Tangan nya langsung dikibaskan.


'Jangan harap aku bisa memaafkan ku setelah kejadian ini!' Batin alika yang mulai murka.


"Pergi sana!!!!!!" Alika mengusir nya.


Adnan yang tidak tau apa-apa. Hanya bisa pasrah melihat tingkah laku sang suami.


"Kenapa tiba-tiba kau bersikap seperti ini?" Tanya nya.


"Siapa dia?"


"Pasti wanita itu udah bikin kak adnan nyaman ya?!!"


"Kak adnan mulai bosan dengan pernikahan kita?"


"Kak adnan ingin mengakhiri semuanya? Bagaimana dengan anak kita? Dia masih bayi." Akhir nya amarah yang di tahan, Sudah bisa di luapkan. Ada rasa lega tapi resah juga.


Bukan nya merasa sakit hati di hujani perkataan seperti itu. Ia malah mentertawai istri nya.


'Dia tidak tau kalau itu irene.' Ucap nya dalam hati.


Ia tidak ingin langsung memberitahu istri nya. Karena adnan ingin mengerjai alika.


"Kenapa diem aja?!! Ngaku aja. Coba ceritakan apa yang kak adnan gak suka dari aku?" Alika sudah berlinangan air mata.


Adnan mengusap kepala nya dengan lembut. Ia mencoba menenangkan alika.


"Maafin aku."


Sang suami mengeluarkan sebuah kotak. Dan menunjukkan nya pada istri nya.


"Apa itu?" Tanya alika sambil berlinangan air mata.


"Cincin."


"Aku ingin memberikan ini sebagai tanda terima kasih. Mengandung dan melahirkan pasti tidak mudah. Terima kasih." Adnan sudah membuat istri nya salah paham.


"Kenapa harus membuat ku marah dulu?" Alika berbicara seraya sesenggukan.


"Karena aku ingin melihat mu marah hehe."


"Apa sih?! Gak lucu tau." Alika memukul dada bidang nya.


"Beberapa hari terakhir. Aku telat pulang karena harus bekerja sampingan." Ucap nya.

__ADS_1


Alika tertegun. Seakan-akan ia telah mendapatkan suatu hal yang besar.


Ia benar-benar tidak menyangka. Suami nya akan memberikan kejutan yang menurut nya luar biasa.


Bukan dari besar nya barang yang dia berikan. Tapi, perlakuan suami nya itu yang membuat alika selalu jatuh hati pada nya.


Selama ini adnan baik. Namun, sikap susah di tebak nya itu yang bikin alika kesal.


"Kenapa sih harus buat aku salah paham dulu. Kan tinggal bilang kalau mau ada apa-apa." Ketus nya.


"Yah jadi gak asyik dong." Celetuk adnan.


"Hehe... maaf." Alika memeluk suami nya.


Adnan selalu tau cara mengambil hati nya. Alika yang semula marah besar langsung luluh. Bukan karena terlalu mudah. Tapi, feeling alika yang seketika percaya dengan suami nya.


Dia dapat merasakan ketulusan hati adnan. Dia tidak pernah merendahkah istri nya. Baik dari kata-kata maupun perilaku nya.


"Terima kasih banyak."


"Aku tau pasti kamu tadi mikir yang macem-macem." Tuduh adnan.


"Eung?"


"Alikaaaa! kamu cantik banget." Puji adnan.


"Berisik!!! Bayi kalian udah tidur. Jadi, bangun lagi." Rengek irene dari ruang tengah.


"Irene?"


"Iya. Dia aku ajak kesini. Buat bantuin aku bawain sesuatu." Ucap nya.


"Baawa apa tuh?"


Mereka berdua pergi keluar rumah, Untuk melihat barang bawaan adnan.


"Yang marah, hehe."Sindir irene.


"Sssttt... jangan ngomong sembarangan."


Alika melirik ke suami nya. Bagaimana bisa irene tau kalau dia sedang marah?


'Ah tapi, lupaka saja.' Batin nya.


Ia tidak ingin terus meributkan masalah sepele dengan suami nya. Jika, terus begini bisa-bisa adnan tidak nyaman dengan nya.


BERSAMBUNG~~

__ADS_1


__ADS_2