
"Nak.. ibu semakin khawatir dengan mu." Tutur kata bu lyla yang lembut namun terkesan putus asa membuat hati adnan terenyuh.
Ucapan itu sering terlontar dari mulut sang ibunda. Tapi, entah kenapa kali ini terdengar berbeda. Seolah ada sesuatu yang mendorong diri nya untuk merespon nya.
"Iya bu..." Bu lyla langsung menatap anak nya dengan tatapan haru. Karena baru sekarang Adnan peka dengan kekhawatiran nya selama ini.
"Nak.. apa ibu tidak salah dengar?" Beliau mencoba meyakinkan diri nya jika ia sedang tidak berkhayal.
"Tidak bu. Waktu terus berjalan dan umur adnan semakin berkurang. Adnan juga banyak menghabiskan waktu hanya untuk diri sendiri. Sementara teman-teman adnan diumur nya yang sekarang sudah memiliki keluarga kecil. Bahkan mereka terlihat bahagia." Curahan hati nya membuat sang ibunda tercinta bahagia.
Beliau melihat adnan dengan senang. Akhir nya ia memiliki secercah harapan setelah sekian lama. Bu lyla langsung tergerak untuk mencarikan adnan seorang gadis.
Tidak perlu berpendidikan tinggi dan setara dengan anak nya. Yang penting dia baik dan rajin beribadah.
''Besok ibu akan temui seseorang dan akan mengenalkannya padamu.'' Ucap bu lyla.
Adnan melihat ibunda tercinta tanpa ekspresi diwajah nya. Ia benar-benar sulit ditebak. Tapi, bu lyla tidak peduli pada nya. Beliau beranjak dan pergi meninggalkan adnan sendirian diruang tengah.
Impian nya sedikit lagi terwujud. Bu lyla sudah membayangkan bagaimana ia menimang seorang bayi yang menggemaskan.
Wanita setengah baya tengah memandangi tanaman yang terhampar luas di hadapan nya. Ia ditemani seorang gadis yang memegangi kursi roda nya.
Dari ujung jalan nampak bu lyla berjalan kearah wanita tersebut sambil membawa kabar baik.
''Bu..'' Saking bahagia nya beliau sudah memanggil wanita itu sebelum ada didekat nya.
Wanita tersebut lantas menoleh pada bu lyla. diikuti oleh gadis yang sedang mendampingi nya.
''Lyla? Tumben kesini?'' Tanya wanita itu. Ia menyambut bu lyla dengan membentangkan kedua tangan nya bermaksud untuk memeluk beliau.
''Ibu.. maaf baru kesini lagi. Maksud kedatangan lyla kesini cuman ingin memberitahu kabar baik pada ibu.'' Bu lyla segera membalas pelukan sang ibunda tercinta yang kini tengah duduk dikursi roda dikarenakan penyakit yang sedang diderita oleh nya.
Nenek adnan memang telah lama terserang penyakit yang mengakibatkan diri nya harus pergi kemana-mana dengan menggunakan kursi roda.
__ADS_1
''Iya nak tidak apa-apa.'' Nenek adnan mengusap punggung bu lyla dengan lembut.
''Kabar baik apa yang kau bawa, nak?" Tanya nya.
''Bu.. adnan mulai membuka hati nya.'' Jawab bu lyla.
Nenek adnan meneteskan air mata karena bahagia mendengar kabar baik yang dibawa oleh anak nya tersebut.
''Syukurlah... neta ikut senang bi.'' Respon seorang gadis cantik yang saat itu sedang menemani beliau.
''Sebentar lagi bibi punya cucu.'' Celetuk bu lyla.
''Calon kak adnan cantik, bi?'' Tanya neta gadis yang merupakan keponakan bu lyla.
Bu lyla tidak menjawab pertanyaan neta. Karena ia malu menyampaikan sesuatu yang belum pasti dan nyata. Tadi nya beliau hanya ingin memberi kabar jika adnan telah membuka hati nya saja. Tidak disertai jodoh untuk sang anak.
Neta paham dengan bu lyla. Tidak mungkin bibi nya selalu membawa kabar baik dengan lengkap.
''Neta mengerti, bi.'' Ucap nya berusaha menghibur bu lyla.
Kenapa harus arin yang disebut. Apa didesa ini tidak ada gadis lain yang pantas untuk disebutkan dihadapan nya? Mendengar nya saja sudah menyakitkan hati. Apalagi jika bertemu dengan nya.
Bu lyla kerap kali mengalami perang batin ketika mendengar wanita yang pernah singgah di hati anak nya tersebut. Walaupun beliau tau arin sekarang sudah tidak dimiliki oleh siapapun.
Tapi, beliau tetap mencap arin sebagai seseorang yang tidak dapat menghargai perasaan anak nya.
Ia datang dan pergi kekehidupan orang lain semau nya.
Dia tidak ingat saat adnan memohon-mohon pada nya sambil menangis ditelepon. Meminta nya untuk kembali.
''Jangan sebut nama nya lagi, bu!'' Ucap bu lyla sambil memalingkan wajah nya.
''Semalam arin dan ibu nya datang kerumah. Dia menceritakan semua nya pada kami.'' Ungkap nenek adnan.
__ADS_1
''Jika ibu sudah tau. Kenapa harus mengatakan hal itu pada lyla. Lyla sudah tidak ada urusan lagi dengan keluarga itu. Apalagi dengan nak arin.'' Bu lyla berbicara tanpa menatap wajah sang ibu. Karena ia masih marah dan kecewa pada mantan kekasih anak nya itu.
''Kamu sangat kecewa pada nya?'' Nenek adnan berusaha meraih wajah bu lyla agar ia mau berbicara sambil melihat pada nya.
''Iya bu.'' Bu lyla tetap tidak ingin melihat sang ibunda. Ia menjawab nya sambil menundukkan kepala. Terlihat jelas gurat kekecewaan dari wajah bu lyla.
''Lupakan dan maafkan.'' Ucap nenek adnan pada bu lyla.
Maksud kedatangan arin dan sang ibu semalam sebenarnya hanya ingin menyampaikan rasa bersalah nya. Ia juga ingin meminta maaf pada keluarga adnan.
Gara-gara diri nya adnan jadi sulit membuka hati untuk yang lain.
Ia tidak sempat memohon permintaan maaf ketika kedua nya hadir dipengajian rutin bu lyla kemarin. Karena takut semua orang tau apa yang sedang terjadi pada arin.
Ibu arin sebisa mungkin menutup masalah yang ada. Karena jika hal tersebut menyebar luas akan dapat menganggu keseharian anak nya itu.
Ia tak ingin arin sulit melakukan aktivitas seperti biasa nya. Kini, arin ikut bekerja dengan ibu nya sena.
''Sudah.'' Jawab bu lyla dengan singkat.
''Apa kamu yakin?" Nenek adnan mengangkat pelan dagu bu lyla. Kali ini beliau mencoba membujuk sang anak agar mau berbicara dengan nya sambil menatap wajah nya.
''Iya bu.'' Jawab bu lyla dengan suara pelan.
''Kamu belum bisa melupakan semua nya.'' Ucap nenek adnan.
Ternyata tidak semudah itu menutupi perasaan nya didepan wanita yang sudah melahirkan nya kedunia ini. Bu lyla sangat kagum karena sang ibu masih memiliki perasaan peka yang tinggi.
"Besok kamu datang ke sini sambil membawa ayam geprek kesukaan ibu. Jangan lupa seperangkat alat solat dan emas 15 gr. Jika kamu tidak sanggup ibu anggap kamu gagal.'' Ucap beliau dengan mantap. Bu lyla tercengang mendengar nya. Pikiran nya masih belum bisa mencerna maksud dari perkataan nya yang terdengar ambigu.
"Tapi bu__'' Belum sempat bu lyla mengatakan sesuatu ibu nya sudah lebih dulu pergi.
Ia penasaran dengan perkataan nya. Namun, bu lyla tidak bisa bertanya lebih banyak karena ibu nya tak ingin berlama-lama diam di sana.
__ADS_1
BERSAMBUNG~~