
Nadia mendapat gelar sarjana ekonomi bisnisnya dengan predikat terbaik, ia tak menyangka jika dirinya bisa menjadi lulusan terbaik meski ia tak terlalu pandai dalam tiap mata kuliah yang dipelajari nya.
Kanaya ikut bahagia melihat sang Kakak yang sungguh membanggakan mendiang kedua orang tuanya, seketika ia teringat bahwa dirinya justru hanya bisa membuat malu.
Tatapan Kanaya lalu beralih pada seorang pria dengan toga yang dikenakan nya, Kanaya menatap pilu Melvin yang tertawa bahagia tanpa memikirkan tanggung jawab nya.
Kanaya mengerjap matanya, ia lalu beralih memegang perut dan mengusapnya lembut.
"Sabar ya Nak, yakinlah bahwa semuanya akan baik-baik saja." Gumam Kanaya meneteskan air matanya.
Tiba-tiba Kanaya merasakan pergelangan tangannya ditarik, ia mendongak dan melihat wajah Nadia penuh amarah dan emosi yang siap dikeluarkan nya.
"Kak jangan sekarang, ini akan sangat memalukan." Ucap Kanaya berusaha mencegah langkah sang Kakak.
"Terus lo mau diam aja Nay? Lo liat dia, bahagia, bisa ketawa. Semetara lo? lihat keadaan lo kaya gimana?" tanya Nadia kesal pada Kanaya.
Kanaya menangis, ia menatap ke sekitar dan buru-buru menyeka air matanya saat sadar ini di tempat umum.
"Iya Kak aku tahu dia salah, tapi jangan sekarang." Jawab Kanaya menggenggam lengan Nadia.
Nadia menahan amarah nya, ia menghela nafas lalu menatap adiknya yang lugu itu. Nadia hendak berucap, tetapi tiba-tiba Rey dan Reno datang.
"Eh Nad, lo apain adek lo sampe nangis gini?" tanya Rey sambil merangkul Kanaya.
"Lo kenapa Nay?" tanya Reno seraya menyingkirkan tangan Rey.
"E-enggak, aku cuma terharu aja karena Kak Nadia bisa jadi lulusan terbaik." Jawab Kanaya berbohong.
"Sayang, kalo kamu dianiaya Nadia, bilang sama Aa nanti biar Aa yang lawan." Celetuk Rey asal.
"Gua gampar lo ya!!" desis Nadia membuat Kanaya terkekeh.
"Kak udah, ayo kita foto dulu kemudian pulang." Ajak Kanaya.
Nadia mengangguk, mereka segera pergi meninggalkan dua orang pria tak jelas yang hanya membuat mereka tambah pusing.
__ADS_1
Sementara itu Reno menatap kepergian Kanaya dan Nadia dengan kening mengkerut, ia heran dan aneh ketika melihat Kanaya menangis, jelas sekali banyak kesedihan di mata gadis itu.
"Demen Bang?" tanya Rey pelan di telinga Reno.
"Apaan sih lo, bocah prik!" balas Reno ketus kemudian pergi.
***
Malam harinya di apartemen Melvin, diadakan pesta kecil untuk kelulusan Melvin, teman seangkatan Melvin diundang oleh pria itu tak terkecuali Nadia.
"Gila lo Vin, ini mah bukan pesta kecil!" ucap Reno melihat dekorasi pesta Melvin.
"Iya ya, pesta kecil tapi kaya orang hajatan." Timpal Rey terkekeh.
Melvin tak membalas, saat ini ia tidak terlalu fokus pada pestanya, ia lebih memikirkan janjinya pada Kanaya yang mana harus ia tepati secepatnya, tetapi jujur bahwa dalam hati Melvin ia enggan untuk menikahi Kanaya.
"Sesha gak lo undang?" tanya Reno menepuk bahu Melvin.
"Gak, dan gak usah sebut nama tuh cewek." Jawab Melvin datar.
"Nadia gak datang apa, kan gue mau ketemu Naya." Ucap Rey melirik jam di pergelangan tangannya.
Melvin melirik Rey, ia menatap datar temannya itu, jujur ia juga menantikan apa yang Rey ucapkan barusan, ia ingin bicara empat mata dengan Kanaya dan mengatakan sejujurnya, lagipula tidak ada hasil apapun setelah kejadian malam itu.
"Lo kenapa tegang banget sih?" tanya Reno menatap Melvin curiga.
"Gak apa-apa, gue cuma pusing aja karena nih minuman." Jawab Melvin menunjuk segelas minuman beralkohol.
Kedua temannya hanya manggut-manggut, mereka tak banyak bicara lagi dan kembali menikmati pesta yang Melvin gelar dengan meriah itu meski embel-embel nya 'pesta kecil'.
Pukul 12 malam pesta Melvin akhirnya berakhir karena dirinya pun sudah sangat lelah, semua teman Melvin termasuk Rey dan Reno telah pulang, ia hendak tidur dan beristirahat, tetapi ponselnya mengganggu.
Melvin meraih ponselnya, mengangkat panggilan dari sang Mami.
"Pulang sekarang Vin, ada hal penting yang harus Mami bicarakan!"
__ADS_1
Belum sempat Melvin membalas, panggilan telah di tutup, dengan penuh kebingungan akhirnya Melvin memilih untuk pulang, ia khawatir jika sesuatu telah terjadi karena tak biasanya sang Mami menelpon tengah malam.
Melvin mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, jalanan pun jarang kendaraan sehingga memudahkannya untuk menyusuri jalan dan sampai ke rumah nya dalam kurun waktu 30 menit.
Melvin langsung masuk ke dalam rumahnya, ia hendak mau ke kamar sang Mami, tetapi langkahnya terhenti ketika melihat Nadia ada di rumah nya, bersama seorang gadis yang sejak tadi ia tunggu kehadiran nya.
"Nadia, ngapain lo malam-malam di rumah gue?" tanya Melvin kemudian beralih menatap Kanaya.
"Lo juga." Lanjut Melvin pada Kanaya.
"Melvin!" panggil Mami Yuli dengan lembut tapi penuh ketegasan.
Melvin menoleh, ia hendak bertanya alasan kedatangan Kanaya dan Nadia, tetapi belum sempat ia berucap, sebuah tamparan mendarat sempurna di wajah pria itu.
Plakkkkk …….
Kanaya memejamkan matanya sambil menangis mendengar suara tamparan yang begitu menggema, ia menggenggam tangan Nadia karena takut.
"Mami, apa-apaan ini?" tanya Melvin bingung.
"Kamu yang apa-apaan Melvin!!!" jawab Mami Yuli dengan nada tinggi.
"Coba lihat dia, kamu mengenalnya kan?!" tanya Mami Yuli menunjuk Kanaya.
Melvin melihat ke arah Kanaya, tanpa di duga pria itu menggelengkan kepalanya.
"Enggak Mi, aku gak kenal sama dia." Jawab Melvin bagai sambaran petir untuk Kanaya.
Kanaya menangisi nasibnya, ia tak pernah ingin kejadian malam itu terhadapnya, tetapi takdir lah yang telah membuatnya seperti ini, dan bagaimana dengan janji Melvin, apakah pria itu mengalami amnesia.
Sementara Nadia tak tahan lagi, ia melepas genggaman tangan Kanaya lalu menghampiri Melvin. Tanpa menunggu, Nadia mengangkat tangan dan memberikan pukulan yang membuat Melvin sampai tersungkur ke lantai.
"Kakak!!!" panggil Kanaya terkejut.
DIGANTUNG YA??? SABAR YA🙈
__ADS_1
BERSAMBUNG.................................