Menikah Karena Melanggar

Menikah Karena Melanggar
Sesha lagi?


__ADS_3

Hari ini Kanaya kembali masuk kampus untuk melanjutkan pendidikannya sebelum ia mengambil cuti hamil nanti. Sebenarnya Kanaya pun sering malas-malasan ke kampus, akan tetapi suaminya yang begitu excited memintanya melanjutkan pendidikan.


Kini Melvin sedang membujuk istrinya agar mau ke kampus, setidaknya sampai Kanaya mengambil cuti dan setelahnya istrinya boleh berhenti untuk mengurus anak-anak mereka.


"Sssttt … kok Mama Naya jadi males, gak boleh gitu dong, katanya mau jadi trader." Celetuk Melvin sembari mengusap wajah cantik Kanaya.


"Aku pusing ngeliatin dosen ngomong terus, bawaanya emosi apalagi kalo dosennya killer." Ucap Kanaya sembari menggaruk kepalanya.


"Hahaha, Mama Naya gak boleh gitu dong, Papa sebagai mahasiswa teladan jadi gatel mau ngadu." Tukas Melvin bercanda.


"Awas aja kalo berani, aku gak kasih tengok Baby." Ancam Kanaya mengacungkan jari telunjuknya di depan wajah Melvin.


Melvin hanya terkekeh, ia mengecup bibir manis istrinya yang sejak tadi merengek enggan kuliah.


"Udah sana masuk, nanti pulangnya aku jemput deh." Tutur Melvin dengan lembut.


Kanaya menghela nafas, "Dek, sabar ya. Kuliah sebentar lagi abis itu kita libur," celoteh Kanaya sambil mengusap perut besarnya.


Kanaya segera turun dari mobil Melvin, ia melambaikan tangannya kepada sang suami lalu segera masuk. Sementara Melvin yang melihat istrinya sudah masuk lantas segera tancap gas menuju kantor, ia harus punya waktu untuk menjemput sang istri hari ini.


***


Siang itu Rey sedang berkutat dengan pekerjaannya di kantor. Ia menjadi pimpinan perusahaan keluarganya dan sungguh ia benar-benar jenuh melihat tumpukan kertas, ia butuh seorang asisten lagi untuk membantu pekerjaannya, hidup biasa dimanja oleh Papa dan Mama nya membuat Rey sedikit malas mengerjakan tugasnya.


"Mendingan main game sih daripada berurusan sama lo pada!" celetuk Rey menunjuk tumpukan kertas di meja kerjanya.

__ADS_1


Rey membanting diri ke kursi kerjanya, ia memijat pelipisnya lalu menghubungi Melvin untuk bertanya kepada temannya itu apakah ada karyawannya yang bersedia untuk menjadi sekretaris nya.


"Halo, Vin. Vin gue jenuh banget sama kerjaan, gue butuh asisten, jadi barangkali ada karyawan lo mau jadi sekretaris gue." Sembur Rey langsung sebelum Melvin mengatakan apapaun.


"Ya, nanti gue cariin dulu. Dan ya, coba kerja penuh keikhlasan pasti tuh kerjaan bakal lancar, jangan kebanyakan ngeluh."Β 


"Ck, iya iya. Thanks bro!" Ucap Rey sebelum akhirnya menutup panggilan mereka.


Lain hal nya dengan Melvin dan Rey yang sedang sibuk bekerja, Nadia dan Reno justru tengah disibukkan dengan persiapan pertunangan mereka Minggu depan. Mungkin terlalu cepat, tapi tanyakan saja pada Reno yang seakan ngebet ingin cepat tunangan dan menikah.


"Coba kamu yang pilih, aku ikut kamu aja." Tutur Reno memberikan empat model cincin kepada Nadia.


"Bagus semua, eumm tapi yang ini terbaik sih." Ujar Nadia menunjuk cincin mas putih dengan beberapa permata kecil di bagian tengahnya.


"Oke, kita ambil yang ini." Balas Reno lalu memberikan kartu kreditnya untuk membayar tagihannya.


"Mba, tolong pilihkan baju terbaik untuk nya." Ucap Reno pada pelayan toko.


"Baik, Tuan. Mari silahkan," tutur pelayan toko itu dengan sopan.


Nadia memilih pakaian yang menurutnya cocok, ia akhirnya mengambil satu set kebaya berwarna abu dengan motif Payet di hampir seluruh bagian depan baju.


"Pilihan yang bagus, Nona." Ucap pelayan toko itu.


Nadia tersenyum, ia akhirnya memilih baju tersebut untuk acara pertunangannya nanti, sementara Reno tak banyak pilih, ia mengambil baju batik berwana senada dengan kebaya Nadia dan segera membayar nya.

__ADS_1


"Mau apa lagi?" tanya Reno seraya merapikan rambut Nadia.


"Udah cukup, kan kita kesini emang beli ini aja." Jawab Nadia tersenyum.


"Sebelum pulang, kita makan dulu ya. Kamu pasti tadi pagi belum makan." Ucap Reno penuh perhatian.


Nadia hanya tersenyum menanggapi pertanyaan calon tunangannya, ia pasrah saja saat Reno menarik tangan ke sebuah restoran cepat saji untuk mengisi perut mereka.


Baru saja mereka akan duduk, seorang wanita datang dan langsung menggebrak meja mereka.


"Apa-apaan si lo?!" tanya Nadia dengan sinis.


"Apa? lo mau marah sama gue? silahkan. Tapi bilangin ke Adek lo hati-hati karena gue pasti akan balas semua yang udah dia lakuin ke gue!" Sarkas Sesha dengan penuh emosi.


"Sha, mending lo pergi. Suara dan tingkah lo itu mempermalukan diri lo sendiri," usir Reno dengan dingin.


"Dan lo, Ren. Bilang sama Melvin bahwa dia bakal nyesel karena udah mecat bahkan putusin kontrak sama gue." Ucap Sesha lalu segera pergi dari hadapan Nadia dan Reno.


"Aku jadi khawatir sama Naya, dia dimana ya sekarang." Gumam Nadia teringat pada sang adik.


"Jangan khawatir, biar aku hubungin Melvin dan dia yang akan urus si perempuan jahanam itu." Sahut Reno menggenggam tangan Nadia agar calon tunangannya itu bisa lebih tenang.


SESHA LAGI πŸ˜•πŸ˜•


BERSAMBUNG..................................

__ADS_1


Visual Revina Ardenia



__ADS_2