
Sebulan berlalu, usia kandungan Kanaya sudah memasuki bulan kelahirannya. Baik Melvin dan semua anggota keluarga tentu sudah tak sabar untuk menantikan kelahiran cucu pertama keluarga Atmadja.
Karena tak mau membuat istrinya lelah, Melvin memutuskan untuk pindah kamar ke lantai bawah saja. Jangankan melihat Kanaya naik tangga, melihat Kanaya berjalan dari kamar mandi ke ranjang saja sudah membuat Melvin lelah.
Saat ini keluarga itu tengah sarapan bersama, Kanaya begitu menikmati sarapan nya membuat Melvin bahagia melihat istrinya napsu makan.
"Suka banget ya sama sayur lodeh buatan Mama?" tanya Melvin seraya mengusap rambut istrinya.
"Banget, Mas. Sayur buatan Mama juara, aku sama Dedek suka banget." Jawab Kanaya mengangguk antusias.
"Ya sudah, Nay. Ayo di habiskan, jika kamu mau buat kamu semuanya aja." Tutur Papi Heryawan yang tampak begitu perhatian dan sayang pada Kanaya layaknya seorang putri.
"Ihh Papi, nggak bisa dong. Nanti kalau aku makan banyak, perut aku tambah gede." Sahut Kanaya dengan wajah cemberut.
"Hahaha, Naya. Sudah lanjutkan sarapannya," tutur Mami Yuli terkekeh melihat reaksi menantunya.
Memang sejak usia kandungan Kanaya semakin besar, tingkah wanita itu terlihat sedikit berbeda. Merengek dan terkadang marah sudah menjadi santapan sehari-hari bagi Melvin. Namun demikian, Melvin tetap sayang pada istrinya.
Setelah sarapan, Kanaya mengantar Melvin sampai ke depan pintu. Sebelum membiarkan suaminya pergi, Kanaya merapikan dasi yang melingkar di leher sang suami.
"Sudah tampan, ihh gantengnya suamiku." Celetuk Kanaya mengusap wajah tampan Melvin.
Melvin terkekeh, ia lantas mencium kening Kanaya dengan dalam dan hangat. Wanita cantik dan manis dihadapannya ini adalah istrinya, wanita nya dan ibu dari anak-anaknya yang begitu ia cintai.
"Mas, nanti aku belanja ya sama Kak Nadia dan Vina?" tanya Kanaya meminta izin.
"Iya, hati-hati tapi." Jawab Melvin mengizinkan.
__ADS_1
"Kiss disini dong." Pinta Kanaya menunjuk bibirnya.
Melvin sangat gemas akan tingkah Kanaya, terkadang ia tak bisa menahan gejolak hasrat dan berakhir di ranjang panas bersama Kanaya. Lagipula melakukan hubungan suami istri diusia kandungan yang besar itu baik agar baby cepat keluar.
Setelah memberikan apa yang istrinya mau, Melvin segera berangkat ke kantor. Ia bisa saja libur, namun ia baru saja libur kemarin dan sudah dipastikan akan banyak dokumen di meja kerjanya.
Sementara itu ditempat lain, Reno dan Nadia pun sedang melakukan hal yang sama. Semenjak menikah, Nadia diminta berhenti bekerja dan fokus mengurus dirinya saja.
"Mas, aku niatnya mau belanja sama Vina dan Naya hari ini, boleh gak?" tanya Nadia meminta izin.
"Iya, Sayang. Tapi pulangnya jangan sore-sore, nanti aku siapa yang sambut," jawab Reno seraya merengkuh pinggang ramping istrinya.
"Iya, Mas. Ya sudah sana berangkat, udah siang loh." Tutur Nadia mengusap dada suaminya.
Reno mengangguk, segera ia mencium kening Nadia dan barulah ia pergi dari rumah untuk bekerja di kantor.
"Aku ada janji mau belanja bareng sama Nadia dan Vina, boleh?" tanya Vina seraya menggandeng tangan suaminya.
"Iya Sayang, jangan lupa belanja yang banyak. Nggak usah lihat harga karena itu nggak penting selama kamu suka," jawan Rey mengusap puncak kepala istrinya sayang.
Vina mengangukkan kepalanya, ia memberikan tas kerja sang suami lalu menyalami tangan suaminya dibalas kecupan di keningnya dengan hangat.
Wajah Rey tidak langsung menjauh, ia malah mendekat ke arah telinga istrinya.
"Jangan menungguku didepan pintu seperti sebelumnya, aku cemburu dengan angin yang menyentuh tubuh istriku. Hanya aku yang boleh, bahkan sebuah partikel yang andai bisa kulihat maka aku tak akan membiarkan nya menyentuh ujung rambut sayangku ini." Bisik Rey dengan nada menggoda.
"Mas!!!" pekik Vina merasa merinding dan wajahnya mendadak merah tomat karena malu.
__ADS_1
"Aku berangkat ya, sampai nanti Sayang." Pamit Rey kemudian segera pergi dari hadapan istrinya.
***
Kanaya, Nadia dan Vina saat ini berada disebuah pusat perbelanjaan. Mereka bertiga sama-sama berjanji untuk belanja bulanan dan membeli beberapa peralatan pribadi mereka.
Sebelum belanja bahan makanan, mereka memutuskan untuk membantu Kanaya mencari beberapa barang untuk calon debay.
"Cewek atau cowok kan kita gak tahu, Naya sama Melvin nggak mau USG." Celetuk Vina yang asik berdebat dengan Nadia pasal sepatu.
"Tapi kan bisa aja anaknya cewek." Timpal Nadia kekeh.
"Ihh udah ah jangan ribut, sini dua-duanya aja." Ucap Kanaya menengahi dan memiilih untuk membeli keduanya.
Setelah membeli dua pasang sepatu, kini beralih ke baju bayi yang sebenarnya sudah siap. Namun entah mengapa ia suka dengan baju kodok bergambar kucing lucu.
"Mba, ini untuk anak laki-laki usia berapa?" tanya Kanaya memegang baju lucu itu.
"Empat sampai lima bulan, Bun." Jawab si pegawai toko menjelaskan.
Kanaya manggut-manggut dan membeli nya, entahlah ia suka sekali dengan baju itu dan berharap bisa melihat anaknya memakainya. Entah anak pertama, kedua atau ketiga jika memang Allah merestui.
Setalah selesai belanja dan membayar, Kanaya dan kedua rekan belanjanya lantas segera keluar. Mereka hendak pergi ke supermarket, namun langkah mereka terhenti karena seseorang mencekal tangan Kanaya.
"Lo pikir, gue akan biarin lo bahagia gitu aja sama Melvin? Nggak ya, Nay!!" ucap orang itu dengan begitu tajam.
SIAPA HAYOO????
__ADS_1
BERSAMBUNG..................................................