Menikah Karena Melanggar

Menikah Karena Melanggar
Sisi kesedihan Nadia


__ADS_3

Saat ini Melvin tengah mengantarkan istri tercintanya untuk pulang ke rumah, ia harus segera kembali ke kantor karena pekerjaan yang masih lumayan menumpuk. Sejujurnya Melvin ingin sekali mengajak sang istri ke kantor, hanya saja ia tak mau jika kegaduhan yang kemungkinan besar dibuat oleh Sesha akan mengganggu istri dan anak dalam kandungannya.


"Sayang, kak Nadia sama kak Reno itu sebenarnya kenapa ya?" tanya Kanaya tiba-tiba.


"Kenapa gimana sih hmm?" tanya Melvin balik, ia tak paham akan apa yang ditanyakan oleh sang istri.


"Ya kenapa, kayaknya mereka lagi gak baikan soalnya kak Nadia itu kelihatan murung." jawab Kanaya seraya menatap suaminya yang fokus membawa mobil.


"Itu perasaan kamu aja, lagian kalo benar ada masalah pasti Nadia cerita. Gak akan dia diam-diam sama kamu, kan kamu adiknya." Jelas Melvin yang enggan istrinya berpikir aneh, padahal jelas-jelas dirinya tahu alasan kurung nya Nadia.


Kanaya menghela nafas dan manggut-manggut, ia lalu menyadarkan kepalanya ke lengah Melvin yang langsung reflek mengusap rambutnya dengan lembut.


"Kamu ngantuk hmm?" tanya Melvin pelan.


"Iya, mau tidur. Tapi dipeluk kamu," jawab Kanaya dengan manja.


Melvin terkekeh, ia lantas menciumi kepala istrinya namun tetap fokus pada jalanan di depannya.


"Iya, nanti aku temenin bobok ya biar nyenyak." Balas Melvin begitu pengertian.


Sementara itu di tempat lain, Reno sedang mengantar Nadia ke kantornya. Namun saat sudah sampai di depan lobby, Reno tak menghentikan mobilnya dan malah melewatinya begitu saja.


"Ren, kita mau kemana?" tanya Nadia menatap Reno penuh tanya.


"Ke rumah Mami." Jawab Reno santai seraya memutar stir mobil nya.


Nadia membulatkan matanya, ia tak mau ke rumah itu. Rumah dimana harga dirinya telah jatuh atas penghinaan Ibu Reno, makian dan umpatan yang diterima hari itu bahkan lukanya masih berbekas sampai hari ini.


"Ren, tolong ngertiin gue. Gue gak mau ketemu Mami lo, gue belum siap." Pinta Nadia memegang tangan Reno, berharap pria itu akan mengerti.


"Jangan takut, Nad. Gue yang akan maju paling depan jika disana nanti ada yang nyakitin perasaan lo," balas Reno lembut.


Nadia menggelengkan kepalanya dan menangis, ia masih teringat hari dimana ia tersenyum lebar saat menatap keluarga Reno, tatapannya tampak tunduk dan sopan untuk menghormati keluarga kekasihnya, namun apa yang ia dapatkan.


Sejak di perpustakaan waktu itu, Nadia paham bahwa Reno benar-benar mencintai dirinya. Nadia yang biasanya selalu cuek pada pria entah mengapa bisa senang juga, ia bahagia karena Reno mencintainya.


"Ren!!!" panggil Nadia melambaikan tangannya.


Reno diam tak membalas, pria itu langsung masuk ke dalam mobilnya tanpa membalas sapaan Nadia. Melihat itu buru-buru Nadia berlari dan berdiri di sebelah mobil Reno.


"Ren keluar, atau gue pecahin nih kaca!" pinta Nadia mengetuk kaca mobil Reno tak santai.


Reno keluar dari mobilnya, ia menatap Nadia dengan sinis. "Apaa sih lo, udah kaya begal aja ngetok kaca mobil orang gak santai!" gerutu Reno mendelik tajam.

__ADS_1


Nadia mendengus, ia lalu menatap Reno serius.


"Lo marah sama gue ya, Ren?" tanya Nadia menatap Reno yang enggan menatapnya.


Reno diam tak menjawab pertanyaan nya, hal itu membuat Nadia menghela nafas dan memilih untuk pergi. Namun belum sempat ia melangkah, Reno sudah memegang tangan dan memeluknya.


"Gue benci banget sama lo, Nad. Apa cinta gue sebegitu gak berartinya, atau lo jangan-jangan lesbian?" tanya Reno melepaskan pelukannya.


"Gila, ya nggak lah. Gue normal, dan gue juga cinta sama lo," jawab Nadia seketika membuat Reno tersenyum lebar.


"Nah, nyengir lo kaya kuda." Desis Nadia melirik sinis pria di hadapannya ini.


"Mana ada kuda yang gantengnya kaya gue." Balas Reno lalu kembali memeluk Nadia, dibawah hujan yang entah kapan turun membasahi kedua insan yang baru saja menyatakan perasaan masing-masing.


Sejak saat itu, Reno dan Nadia menjadi sepasang kekasih in private. Tidak ada yang mengetahui bahwa keduanya menjalin hubungan termasuk teman-teman Reno sendiri.


Sampai suatu hari, Reno hendak memperkenalkan Nadia pada keluarganya, bukan ingin cepat-cepat menikah, tetapi ia ingin Nadia dan keluarganya saling mengenal.


Nadia menurut, ia mengangguk dan ikut saja kemana kekasihnya membawanya. Sampai ia bingung melihat sebuah bangunan mewah dengan pagar besi yang menjulang tinggi.


"Ini rumah kamu?" tanya Nadia menatap Reno yang lebih tinggi darinya.


"Iya, ayo masuk." Jawab Reno lalu menarik tangan Nadia masuk ke dalam rumah.


"Hai Mi, Pi." Sapa Reno mencium kedua pipi Papi dan Mami nya.


"Siapa dia, Ren?" tanya Mami Rianti.


"Dia Nadia, Mi. Pacar aku," jawab Reno dengan bangga seraya menggenggam tangan Nadia yang berkeringat.


"Duduklah, Nadia. Kenapa diam saja," tutur Papi Aryo dengan lembut.


Nadia tersenyum canggung, ia segera duduk tepat dihadapan Mami nya Reno, sungguh Nadia benar-benar merasa seperti sedang uji nyali melihat tatapan tajam ibu dari kekasihnya itu.


"Kak Ren, kenapa kakak bersama gadis ini dan bukan Kak Feni saja?" tanya gadis yang berada disebelah Maminya.


"Lia, jangan ikut campur. Kamu masih kecil!" desis Reno.


"Kamu Nadia, saya sudah mencaritahu tentang kamu. Kamu ini adalah gadis sebatang kara yang tinggal sederhana bersama adikmu kan?" tanya Mami Rianti dengan tajam.


"Mami." Tegur sang suami mengusap bahu istrinya.


"Gadis yang tidak memiliki orang tua seperti kamu ingin bersama anak saya? Dia, Reno?" tanya Mami Rianti menunjuk Reno.

__ADS_1


"Mami, apa-apaan ini?!" tanya Reno tak suka cara bicara sang Mami pada Nadia.


"Maaf Tante, tapi maksudnya apa?" tanya Nadia masih sopan.


"Kamu jangan ikut campur, Reno. Mami sedang bicara pada gadis yang sudah pasti pergaulannya tidak benar, dia pasti memanfaatkan situasi yang tidak memiliki orang tua untuk pergi bebas di luar sana." Jawab Mami Rianti mulai mengeluarkan kalimat tak baik untuk Nadia.


"Kamu pasti sering keluar malam kan, sering bermain di tempat remang-remang kan, atau bahkan kamu wanita malam?" tanya Mami Rianti semakin menjadi.


"MAMI!!!!" teriak Reno tak terima.


"Duduk Reno!" teriak Mami Rianti tak kalah keras.


Sementara Nadia sudah menahan air matanya, ia meramat pakaiannya sendiri dengan kuat dan berusaha tetap tegas, tetapi ucapan ibu kekasihnya itu benar-benar menusuk.


"Tante, mungkin saya memang tidak memiliki orang tua, tapi saya anak baik-baik Tante. Saya tidak pernah melakukan apa yang Tante katakan tadi." Jelas Nadia dengan nada masih sopan.


"Tidak mungkin, saya benar-benar tidak mau memiliki menantu seperti kamu, jadi pergilah dan jangan berharap untuk bisa bersama putra saya." Bantah Mami Rianti sekaligus mengusir.


"Mami!!!" sarkas Reno menatap sang Mami penuh amarah.


Nadia memejamkan matanya, ia bangun dari duduknya, menundukkan kepalanya kemudian segera berlari keluar dari rumah Reno yang sudah seperti ruang penyiksaan baginya.


"Nadia, tunggu!!" panggil Reno namun tangannya dicekal oleh sang Mami saat hendak mengejar Nadia


Sejak saat itu, Nadia dan Reno menjauh. Bahkan Reno tak bicara sama sekali pada Nadia, meski terkadang mereka saling berpapasan tetapi tidak bertegur sapa sama sekali.


Nadia teringat itu semua, ia masih sangat hafal seperti apa raut wajah tak suka Mami Reno disertai bibir tipis yang tak henti menghina nya dengan hal yang bahkan tak pernah ia lakukan.


"Ren, gue mau pulang, dada gue sakit." Ucap Nadia merintih sambil memegangi dadanya yang sesak.


"Nad, kamu kenapa hei?" tanya Reno khawatir.


"Aku capek, mau pulang." Jawab Nadia lirih sebelum akhirnya gadis itu benar-benar tak sadarkan diri dengan Reno yang sigap memeluknya.


"Nadia, bangun Nad." Pinta Reno menepuk pipi gadis itu berulang kali.


KASIHAN NADIA GAK SIH???


Saran visual di komentar, cevatt😜


BERSAMBUNG....................................


Note. Cetak miring adalah Flashback ya!!!

__ADS_1


__ADS_2