
Kanaya diantarkan ke rumah sakit oleh Melvin untuk pengobatan, beberapa hari Kanaya mencoba menolak karena hari ini ia ada kelas. Namun Melvin memaksa nya dengan embel-embel demi anak mereka, alhasil Kanaya tak bisa menolaknya.
Saat ini Kanaya dan Melvin sedang menunggu giliran dipanggil ke ruangan dokter, mereka duduk di kursi tunggu sambil berpegangan tangan dan kepala Kanaya menyandar ke bahu Melvin.
"Aku yakin kamu akan sembuh dan gak sakit-sakit lagi, Nay." Ucap Melvin seraya menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah cantik istrinya.
"Kamu masih belum cinta sama aku, Kak?" tanya Kanaya tiba-tiba, manik hitamnya menatap iris Melvin dengan lekat.
Melvin mengusap wajah istrinya dengan lembut. "Apa itu penting, bukankah semua perlakuanku selama ini sudah cukup?" tanya Melvin balik.
Kanaya terdiam, ia menundukkan kepalanya dan memilih untuk tak bertanya apa lagi menjawab pertanyaan Melvin, bagaimana bisa ia menanyakan hal demikian, sudah pasti cinta itu penting dalam hubungan.
"Nona Kanaya!" suster memanggil Kanaya di depan ruangan dokter.
Kanaya bangun dari duduknya diikuti oleh Melvin, mereka segera masuk ke dalam ruangan dokter untuk bisa secepatnya diperiksa dan menjalani pengobatan.
"Selamat siang, Dokter Ridwan." Sapa Melvin dengan sopan.
"Oh, silahkan duduk Tuan Melvin dan Nona Kanaya." Tutur Dokter mempersilahkan keduanya untuk duduk.
Kanaya dan Melvin menarik kursi, mereka duduk dan siap mendengarkan ucapan dokter.
"Saya sudah melakukan cek darah Nona Kanaya setelah saya datang kemarin, hasilnya Nona Kanaya membutuhkan perawatan pendukung untuk bisa mencegah parahnya radang otak yang deritanya." Ucap Dokter seraya memberikan hasil tes darah Kanaya.
"Setelah ini, mari kita melakukan ronsen lebih dulu." Lanjut Dokter Ridwan.
"Baiklah, Dok." Balas Kanaya tenang.
Berbeda dengan Kanaya yang berusaha tetap tenang, Melvin sejak tadi sudah berkeringat sambil menggenggam tangan istrinya, ia sungguh takut.
"Kak, aku gak apa-apa. Jangan khawatir," ucap Kanaya ketika merasakan genggaman Melvin mengancang.
Dokter Ridwan tersenyum memperhatikan pasangan itu. "Tuan Melvin, sejujurnya penyakit ini tidak berbahaya sebelum mengalami kronis, dan jika dihitung maka penyakit Nona Kanaya masih dalam stadium aman." Jelas Dokter Ridwan membuat perasaan Melvin lega.
__ADS_1
"Tapi Dok, tetap saja saya khawatir." Balas Melvin membuat Kanaya terkekeh.
"Jangan gitu ah, aku kan harus diperiksa. Kalo kamu pegangin gini, kapan aku periksa nya coba?" tanya Kanaya memelas.
Melvin menghela nafas, ia akhirnya melonggarkan genggaman tangannya. "Jika kamu sudah yakin, maka aku akan mendukungmu." Jawab Melvin mengusap kepala istrinya.
Kanaya segera pergi bersama dokter dan membiarkan Melvin duduk menunggu di ruangan Dokter Ridwan. Kanaya diajak ke ruangan ronsen dan siap melakukan tahap tersebut.
***
Kanaya kembali kepada suaminya setelah selesai, ia kembali menggenggam tangan Melvin dan mengusap pergelangan tangan pria itu.
Dokter duduk di depan Kanaya dan Melvin, ia memberikan hasil ronsen nya pada keduanya.
"Hasilnya baik, Nona Kanaya bisa melakukan perawatan dirumah dengan rutin meminum obat serta melakukan perawatan pendukung secara rutin." Jelas Dokter membuat Kanaya tersenyum lebar.
"Pengobatan dan perawatan itu tidak berbahaya untuk bayi kami kan, Dok?" tanya Melvin khawatir pada sang anak.
"Tentu saja tidak, Tuan. Dosis nya sudah kami sesuaikan untuk ibu hamil seperti Nona Kanaya." Jawab Dokter Ridwan membuat Melvin lega.
"Ini obatnya, mohon dihabiskan ya." Ucap Dokter Ridwan.
Melvin menerima resep obat itu, ia membacanya dengan seksama. "Baik, Dok. Terima kasih atas bantuan anda." Sahut Melvin diangguki oleh Dokter Ridwan.
"Kalo begitu kami permisi ya, Dok." Ucap Kanaya seraya membenarkan posisi tas selempang yang ia bawa.
"Silahkan, semoga cepat sembuh ya." Balas Dokter Ridwan mempersilahkan.
Setelah menebus obat di apotek, Kanaya dan Melvin memutuskan untuk pulang, tetapi tiba-tiba Melvin ingin makan popcorn sambil nonton bioskop, kebetulan ia ada rekomendasi film bagus.
"Iya, aku ikut kamu aja." Ujar Kanaya pasrah.
Melvin tersenyum, ia mencubit pipi Kanaya pelan karena gemas dengan jawaban Istrinya barusan, ia lantas membelokkan mobilnya ke salah satu mall terbesar disana.
__ADS_1
Melvin memarkirkan mobilnya di basement mall, setelahnya ia dan Kanaya segera turun untuk masuk secepatnya ke dalam mall. Jujur, Kanaya sangat lelah saat ini.
"Nay, lihat deh. Baju bayinya lucu-lucu banget ya," ucap Melvin menunjuk sebuah toko pakaian anak.
"Gak sabar dedek nya lahir ya?" tanya Kanaya mengusap perutnya sendiri.
"Iya, mau cubit." Jawab Melvin asal yang diberi hadiah tabokan dari Kanaya.
"Mana boleh, anak aku itu!" tegur Kanaya kesal.
"Anak aku juga, kan bikinnya dari itu kita sama-sama." Ralat Melvin membuat Kanaya menghela napas dan hanya bisa mengangguk.
Mereka sampai di lantai 4 yang mana merupakan lantai bioskop berada, mereka segera membeli tiket dan membeli popcorn serta minuman.
Setelah selesai, mereka hendak langsung masuk ke dalam cinema, namun keduanya terhenti saat seseorang memanggil mereka.
"Kak Melvin, Kanaya. Kalian bersama?" tanya Angel, teman satu geng dengan Sesha.
Melvin tiba-tiba melepaskan genggaman tangannya, hal itu tentu membuat Kanaya menatap Melvin nanar.
"Ya." Jawab Melvin singkat.
"Kalian pacaran?" tanya Angel semakin penasaran.
"Gak usah kepo, mending lo pergi." Jawab Melvin ketus.
"Sesha pasti kesal kalo tau Kanaya yang jadi penghalang hubungan kalian." Ujar Angel membuat Kanaya hanya terdiam.
"Gue dan Kanaya gak ada apa-apa, lo gak usah nyebarin gosip." Timpal Melvin tak suka.
Bagai disambar petir siang bolong, Kanaya terkejut dengan pengakuan Melvin tadi, apa yang Melvin katakan? Mereka tak ada hubungan padahal jelas-jelas mereka pasangan suami istri, bahkan saat ini ia sedang mengandung. Kenapa Melvin begitu tega padanya seperti ini.
MELVIN MENYAKITI ISTRINYA LAGI🙂
__ADS_1
BERSAMBUNG..................................