
Melvin tampak uring-uringan di ranjang saat Kanaya memberinya hukuman lagi, benar-benar sial sekali, jangankan bonus, jika begini maka sekalipun tak akan ia dapatkan.
Melvin menghampiri Kanaya yang asik dengan ponselnya, wanita hamil itu asik bermain ponsel membuat Melvin langsung merebahkan kepalanya di pangkuan sang istri dengan kepala menghadap ke perut bulat Kanaya.
"Dedek, kangen Papa gak?" Tanya Melvin menepuk pelan perut Kanaya dengan jari telunjuknya seakan tengah mengetuk pintu.
"Apa sih, Mas. Jangan digituin," ujar Kanaya menutupi perutnya sendiri.
Melvin menatap istrinya melas, ia mengusap wajah cantik istrinya. "Dia kangen loh sama Papa nya," pungkas Melvin mencari kesempatan untuk bisa menengok dengan embel-embel anaknya.
"Kamu aja jahat sama Mama nya, dia juga marah asal kamu mau tau." Balas Kanaya dengan tatapan sinis.
"Terus aku gimana, aku udah tahan dari kemarin biar bisa nengok Dedek di Bali, tapi sekarang malah gak dibolehin sama kamu." Ujar Melvin seraya bangun dari pangkuan Kanaya.
Kanaya menatap suaminya yang tengah meletakkan ponsel serta dompetnya di nakas, Kanaya masih memperhatikan saat Melvin hendak keluar dari kamar.
"Mau kemana, bukannya istirahat kan besok kerja!" Tanya Kanaya galak.
"Cari angin bentar, aku panas karena ngeliat kamu tapi gak dibolehin nengok Dedek." Jawab Melvin langsung keluar dari kamar.
"Ishhh Sayang!!!!" Teriak Kanaya kesal karena Melvin justru meninggalkannya.
Kanaya segera keluar untuk menyusul suaminya, baru saja keluar ia dikejutkan dengan Melvin yang berdiri lalu mengagetkan nya tanpa dosa.
"Dorrr!!!!" Teriak Melvin dengan kedua telapak tangan terbuka lebar.
"Astaga!!" Pekik Kanaya mengusap dadanya.
Kanaya mendelik tajam ke arah suaminya, ia berniat untuk memukul atau menjambak rambut perfect Melvin untuk sekedar memberikan pria itu hukuman.
Namun ditengah-tengah kegiatan mereka, tiba-tiba seorang gadis cantik namun menyebalkan datang, bahkan kedatangannya membuat Kanaya terkejut namun tidak dengan Melvin.
__ADS_1
"Kanaya, kau disini?" tanya Sesha dengan alis terangkat sebelah.
Kanaya terdiam, ia menelan gumpalan salivanya dengan susah, ingin sekali ia berkata bahwa dirinya adalah istri dari Melvin, namun Kanaya tak cukup berani mengatakannya, ia takut sang suami merasa kurang nyaman.
"Memang harus dimana lagi, jika suaminya saja disini." Jawab Melvin datar.
Kanaya menoleh ke arah Melvin dengan tatapan terkejut, ia membuka mata dan mulutnya lebar karena tak percaya bahwa suaminya kini mau mengakui dirinya sebagai istri selain di depan keluarga dan teman dekatnya.
"Apa, suami?" Tanya Sesha tampak syok akan jawaban Melvin.
Melvin merengkuh pinggang ramping istrinya, hal itu sontak membuat Kanaya terkejut namun tak menolaknya.
"Kami adalah suami dan istri, dan anda datang mengganggu kesenangan kami. Bolehkah anda segera pergi?" Usir Melvin dengan halus.
"Tapi Vin, kapan kalian menikah? dan bagaimana bisa?" Tanya Sesha masih dengan nada terkejutnya.
"Kapan dan bagaimana nya itu bukan urusan anda, kami berdua menikah bukan atas dasar pengetahuan anda." Jawab Melvin lalu hendak membawa Kanaya ke dalam kamar, tetapi tiba-tiba Sesha memegang tangan nya.
"Vin, kamu tega lakuin ini? Aku yang cinta sama kamu sejak dulu!" Ujar Sesha dengan prihatin.
Melvin mendudukkan Kanaya di ranjang dengan dirinya berlutut di hadapan istrinya, ia menggenggam tangan Kanaya lalu menciumnya berulang kali.
"Kenapa kamu mau mengakui aku, Mas?" Tanya Kanaya menatap suaminya yang asik menggenggam tangan nya.
Melvin mendongak, menatap wajah cantik istrinya lalu ia usap beberapa kali dengan lembut.
"Karena memang sudah saatnya dia tau, aku juga berpikir untuk apa berlama-lama menyembunyikan sesuatu yang berimbas pada diriku sendiri." Jawab Melvin lalu diakhiri helaan nafas.
"Setelah dipikir-pikir jika dia tahu bahwa aku belum menikah, dia akan semakin mendekati dan berusaha merayuku. Aku berharap semoga dengan dia tahu status asliku maka akan menjauh, mungkin." Lanjut Melvin dengan serius.
"Ohh, jadi dia sering rayu kamu?" Tanya Kanaya dengan tatapan tajam.
__ADS_1
Melvin mendongak, ia buru-buru menggelengkan kepalanya saat sadar bahwa istrinya itu tengah marah, terlihat dari kerutan di alis dan matanya yang melotot tak suka.
Melvin semakin kelabakan saat Kanaya bangun dari duduknya lalu berjalan ke arah jendela, tangannya dilipat di dada membuat penampilan istrinya tampak seperti ibu yang marah pada anaknya.
Melvin mendekat, ia memeluk tubuh mungil istrinya dan mencium bahunya berulang kali namun si pemilik hanya diam.
"Sayang, jangan marah dong. Lagian kalo dia sering goda aku tapi akunya biasa aja buat apa hmm," bisik Melvin semakin mengeratkan pelukannya.
"Ya tetap aja, bisa jadi kamu lama-lama tergoda sama dia." Timpal Kanaya berusaha melepaskan pelukan Melvin namun gagal.
"Gak mungkin, orang istri aku lebih cantik, lebih wangi, lebih mulus, glowing pokonya." Puji Melvin disertai senyuman lebar.
Mendengar ucapan Melvin lantas membuat Kanaya tertawa, pria itu bisa sekali menyusun kata-kata yang berhasil membuatnya tertawa.
"Nah kan kalo ketawa cantik nya nambah," ujar Melvin mencium gemas pipi istrinya.
"Ya itu karena kamu, bisa banget sih merayu istri?" tanya Kanaya gemas sampai mengunyel pipi suaminya.
"Hahaha, gak apa-apa dong kalo sama istri, yang penting kalo sama wanita lain aku berubah dingin." Jawab Melvin lalu kembali memeluk tubuh istrinya.
"Ngantuk, Mas. Aku mau bobok," ucap Kanaya dengan manja.
Melvin terkekeh, ia mengecup bibir manis Kanaya lalu menggendong wanitanya ala bridal style dan membawanya ke ranjang.
Direbahkan Kanaya pelan disusul olehnya yang berbaring di sebelah istrinya, ia lingkarkan tangan nya guna memeluk perut Kanaya sambil mengusap-usapnya.
"Mau disini." Ucap Kanaya menunjuk dada bidang Melvin.
Melvin mengangkat kepala Kanaya lalu menidurkannya di dada dengan pelukan yang semakin erat. Bagi Kanaya, hanya pelukan Melvin yang paling nyaman dan hangat.
"Malam, sweet wife." Bisik Melvin disertai kecupan ringan di bibir Kanaya.
__ADS_1
ABIS INI PANAS, SIAPIN KIPAS DULU WE🤣
BERSAMBUNG................................................