
Kanaya dan Melvin baru sampai rumah setelah pulang dari rumah sakit, keduanya tersenyum lebar karena ikut merasa bahagia untuk Reno dan juga Nadia.
Mereka disambut oleh suara erangan kecil baby Daffin yang sedang bermain dengan Oma dan Opa di ruang tamu.
"Assalamualaikum, Pi. Mi!" salam Kanaya dan Melvin bersama.
"Waalaikumsalam." Sahut Papi Heryawan seraya menoleh ke arah sumber suara.
"Wahhh Mama dan Papa sudah pulang, aku haus mau susu." Ucap Mami Yuli menirukan suara anak kecil.
Kanaya tersenyum, ia menghampiri Mami Yuli lalu menggendong baby Daffin yang tampak mencari-cari susu. Kanaya mencolek pipi gembul putranya lalu menciumnya gemas.
"Kalian kok pulang cepat, biasanya lama kalau kumpul?" tanya Mami Yuli kembali duduk.
"Nggak jadi makan malam, Mi. Kak Nadia pingsan tadi di restoran," jawab Kanaya seketika membuat Mami Yuli melotot.
"Pingsan?! Terus sekarang gimana?" tanya Mami Yuli khawatir.
"Di rumah sakit, Mi. Jangan khawatir, Nadia pingsan karena sedang hamil." Jawab Melvin menjelaskan.
"Alhamdulillah, ya Allah Mami ikut senang mendengarnya," ucap Mami Yuli tampak ikut bahagia.
"Wahhh Alhamdulillah ya, berarti baby Daffin akan punya dua adik ya." Celetuk Papi Heryawan dianggukkan oleh Melvin dan Kanaya.
Tiba-tiba saja bay Daffin menangis, hal itu sontak membuat Kanaya langsung menimang-nimang nya dengan sayang, namun bukannya berhenti Daffin semakin menangis.
"Sayang, Daffin sepertinya haus mau susu." Ucap Melvin seraya mendekati anak dan istrinya.
Kanaya mengangguk setuju, ia pamit pada kedua mertuanya untuk ke kamar dan memberikan asi pada putranya yang sudah sangat kehausan itu.
Melvin mengekor di belakang sang istri, ia menutup pintu kamarnya lalu mengambil pakaian untuk ia kenakan malam ini.
"Sayang, nanti ganti baju ya." Tutur Melvin mengambilkan daster istrinya.
__ADS_1
"Iya, Mas. Makasih," balas Kanaya yang tampak menyusui baby Daffin.
Sementara itu di rumah Rey, Vina tampak sedang membuatkan kopi untuk suaminya. Mereka sampai lebih dulu dirumah karena memang pulang paling awal saat dirumah sakit tadi.
Setelah bersih-bersih, seperti biasa Rey akan langsung sibuk dengan pekerjaannya.
Vina membawa kopi itu ke ruang tamu dimana suaminya berada.
"Mas, ini kopinya." Tutur Vina seraya meletakkan kopi buatannya di meja.
"Makasih, Sayang. Kamu istirahat gih," tutur Rey menatap istrinya sesaat kemudian kembali fokus pada pekerjaannya.
"Nggak ah, aku mau disini aja sama kamu." Tolak Vina seraya mulai memakan cemilan yang tersedia di meja ruang tamu itu.
"Tumben manja, ada apa gerangan wahai ratuku?" tanya Rey sudah mulai lagi lawaknya.
"Wahai Baginda raja, biarlah saja ratu disini. Ratu ingin bersama raja, di peluk, di cium." Timpal Vina sudah tertular virus Rey.
"Baby sedang apa ya, sedang bobok?" tanya Rey seraya menatap istrinya.
"Bobok dong, kan sudah malam." Jawab Vina menganggukkan kepalanya.
"Kalau siang dia bangun, terus ngapain ya disini?" tanya Rey mulai aneh.
"Ya main bola, kan mau jadi pengusaha." Jawab Vina tak kalah aneh.
Rey tertawa mendengar jawaban istrinya yang abstrak itu, ia menarik wajah Vina lalu ia ciumi seluruh wajah cantik Vina karena gemas.
Disaat sedang asik mencium wajah Vina, tiba-tiba saja ia merasakan panas di telinganya. Rey meringis kemudian menoleh, ia mendengus melihat bahwa pelaku nya ada Mama Dina.
"Mama ganggu ah!" protes Rey menekuk wajahnya.
"Ganggu apaan, kamu lagian asik cium istri kamu tanpa ingat Mama yang lagi jomblo sementara." Celetuk Mama Dina kemudian ikut mencomot cemilan yang sedang dimakan Vina.
__ADS_1
"Ya ampun, Ma. Papa pergi cuma dua hari, jangan lebay ah sudah tua!" tegur Rey mendapat tabokan dari istrinya.
"Sayang, jangan gitu." Bisik Vina tampak tak enak pada mertuanya.
"Biarin aja, Vin. Emang anaknya random banget, Mama aja capek." Sahut Mama Dina yang mendengar suara menantunya.
"Mama sih, aku jadi dimarahin kan sama Vina." Ucap Rey bermaksud hanya candaan.
"Ya siapa suruh bicara sama Mama gitu, kamu itu beruntung punya orangtua yang sayang sama kamu, nggak kaya aku." Sewot Vina diakhiri suara lirih.
Rey dan Mama Dina saling pandang, sepertinya mereka salah berkata karena sejujurnya mereka hanya bercanda saja.
"Vina, Nak. Kamu sudah makan?" tanya Mama Dina mengalihkan pembicaraan.
"Nggak napsu, Ma. Aku ke kamar dulu ya, selamat malam," balas Vina dengan senyuman paksa kemudian langsung pergi.
Rey yang melihat istrinya pergi lantas buru-buru mengejarnya, ia berlari masuk ke dalam kamar lalu memeluk tubuh istrinya dari belakang.
"Maaf jika aku menyinggung kamu, Sayang." Bisik Rey penuh sesal.
"Nggak, Mas. Ini bukan salah kamu, aku hanya tiba-tiba teringat pada Papa dan Mama aku yang entah dimana sekarang, mereka bahkan tidak mencoba untuk melihat putrinya." Balas Vina lirih.
Rey melepaskan pelukan nya, ia membalik tubuh Vina lalu menangkup wajah wanita yang teramat dicintainya itu.
"Mungkin belum Sayang, sudah jangan sedih lagi ya. Ada aku, ada baby dan ada Papa Mama." Tutur Rey berusaha menghibur.
"Iya, Mas. Maaf ya," balas Vina lalu kembali memeluk suaminya.
Rey mengusap kepala istrinya pelan, ia berikan kecupan penuh sayang dan berharap bisa menghilangkan kesedihan Vina. Ia tak ingin melihat istrinya menangis, apalagi jika karena orangtua yang seakan benar-benar telah melupakan anaknya sendiri.
SABAR YA MBA VINA, MAS REY AKAN SELALU ADA UNTUK AKU, EH UNTUK KAMU MAKSUDNYA 😭✌️
BERSAMBUNG........................................
__ADS_1