Menikah Karena Melanggar

Menikah Karena Melanggar
Kabar gembira


__ADS_3

7 bulan berlalu, kini Daffin telah tumbuh menjadi baby pintar dan menggemaskan, namun tak jarang juga ia kerap kali membuat Kanaya kerepotan akibat tingkahnya yang terlalu aktif. Seperti sekarang, Kanaya sedang melipat pakaian yang sudah kering untuk dimasukkan ke dalam lemari, tetapi bocah 9 bulan itu justru mengacak-acak lagi dan menaruh beberapa pakaiannya di kepalanya.


"Nah kan nangis, siapa suruh coba mukanya ditutupin baju gini?" tanya Kanaya saat suara tangis Daffin terdengar nyaring.


Kanaya terkekeh, ia membantu putranya melepaskan diri dari baju kebesaran milik Melvin lalu memangku Daffin yang masih merintih pelan.


"Apa pegang-pegang hmm, mau susu?" tanya Kanaya lagi sambil mencubit gemas pipi gembul Daffin.


Daffin kembali menangis sambil menepuk dada Kanaya tanda meminta susu. Kanaya menggendong Daffin lalu mengajaknya naik ke atas ranjang untuk disusui, biarlah pakaian itu nanti saja karena putranya lebih penting.


"Sssttt … bobok, Mama gigit nih!" tegur Kanaya seakan bocah itu mengerti.


Mendengar ucapan sang Mama, bocah itu justru semakin lincah bergerak kesana-kemari sehingga membuat dada Kanaya tertarik hingga membuatnya meringis.


"Dedek diem nggak, Mama klitik nih perutnya!!" Kanaya tak henti berceloteh pada anaknya itu.


Kanaya melepaskan dadanya dari mulut Daffin kemudian beralih menciumi leher serta perut anaknya, hal itu sontak membuat baby gemuk itu tertawa begitu lepas karena geli. Kanaya ikut tertawa, beginilah hari-hari Kanaya jika suaminya sedang bekerja, ia akan bermain dengan Daffin meski hanya dirinya yang terus merancau.


Ditengah asiknya bercanda dengan Daffin, tiba-tiba pintu kamar terbuka. Melvin baru saja kembali dari kantor dan langsung disambut oleh tawa putranya yang sedang diciumi oleh Kanaya.


"Hei anak Papa kok ketawa nya lepas banget, seru ya main sama Mama?" tanya Melvin sontak membuat Kanaya menoleh.


"Mas sudah pulang?" tanya Kanaya bangkit dari tempat tidur lalu menghampiri suaminya.


"Sudah, Sayang. Gatau kenapa tiba-tiba kangen sama kamu dan Daffin," jawab Melvin seraya menjatuhkan kepalanya di bahu sang istri dan tangan yang sudah apik melingkar di pinggang istrinya.


Kanaya mendengus, ia begitu paham akal-akalan suaminya ini. "Tahu banget aku kalau kamu lagi modus!" sarkas Kanaya terkekeh.


Melvin mengangkat wajahnya, ia mengerutkan keningnya dengan mata menyipit. "Modus mana sama kamu yang mau bagi-bagi susu Daffin sama aku?" tanya Melvin lalu mengarahkan matanya ke dada Kanaya.

__ADS_1


Kanaya mengikuti pandangan suaminya, ia melotot melihat dadanya yang belum sempat ia masukkan setelah menyusui Daffin tadi.


"Mas!!!! Jangan mesumm ya, ada Daffin." Pekik Kanaya memukul pelan bahu suaminya.


Melvin hanya terkekeh, sifat Kanaya tak pernah berubah meski sudah menjadi ibu, namun hal itu justru membuat Melvin semakin bahagia dengan pernikahannya. Kanaya yang sifatnya belang-belang, kadang dewasa, kadang anak-anak menjadi daya tarik tersendiri bagi Melvin.


"Lucunya istri aku." Celetuk Melvin mengecup bibir Istrinya dengan cepat.


Melvin melepaskan pelukan pada Kanaya, ia beralih menghampiri putranya yang sedang menjilati tangannya.


"Eitsss … nggak boleh gigitin tangan, Nak. Sini cium Papa aja!" ujar Melvin menggendong lalu menciumi wajah Daffin.


Melihat Daffin yang sudah digendong oleh Kanaya lantas membuatnya buru-buru menyiapkan pakaian santai suaminya, ia juga merapihkan pakaian yang acak-acakan diatas ranjang lalu menyimpan nya di dalam lemari.


"Mas, mau aku buatkan jus atau kopi?" tanya Kanaya pada suaminya yang sedang mengajak Daffin berceloteh.


"Mau, Mas!!" jawab Kanaya cepat, kebetulan sekali ia rindu pada Nadia yang jarang sekali keluar semenjak kehamilannya yang besar.


"Ya sudah, kamu siap-siap gih. Daffin nggak usah, dia udah ganteng kaya gini persis seperti Papannya." Tutur Melvin percaya diri.


"Ish!" Decak Kanaya sebelum mengambil pakaian yang akan digunakan.


***


Kanaya, Melvin dan Daffin baru saja sampai di rumah kediaman Reno. Mereka langsung disambut oleh teriakan Nadia yang senang melihat keponakan nya dan langsung saja menggendong bocah itu.


"Kak, dulu aku yang selalu kau peluk jika kita lama tak bertemu." Protes Kanaya merasa terabaikan.


"Ih, Dek. Masa Mama cemburu, Mama lebay ya gak di peluk Tante ngambek?" tanya Nadia sambil menoel pipi keponakannya.

__ADS_1


"Ih nggak ya, aku bisa minta pelukan lebih hangat sama suami aku!" Sahut Kanaya kemudian memeluk Melvin yang pasrah dan membalas pelukannya.


"Sudah, ayo masuk." Ajak Reno melerai perdebatan abstrak itu.


Kebetulan orangtua Reno sedang tidak berada di rumah karena urusan bisnis di luar kota sama seperti Mama Yuli dan Papi Heryawan. Mungkin saja menghadiri acara yang sama, begitu juga dengan orangtua Rey.


"Rey nggak datang?" tanya Melvin pada sahabatnya.


"Nggak, katanya Vina sudah sering kontraksi sehingga ia khawatir untuk meninggalkan istrinya." Jawab Reno yang tadi sempat menghubungi Rey.


"Wajar saja karena Vina sudah masuk bulannya, hanya beda 2 Minggu dengan kau kan, Kak?" tanya Kanaya dibalas anggukan kepala oleh Nadia.


"Aku juga sudah mulai kontraksi, makanya jarang keluar rumah." Jelas Nadia mengusap perut besarnya.


Kedua pasangan itu saling mengobrol sambil sesekali menoleh ke arah Daffin yang sedang asik dengan mainan karet yang Kanaya bawa untuk bocah itu gigiti.


Disaat sedang mengobrol, tiba-tiba saja ponsel Melvin berdering dan ternyata dari Rey.


"Ya, Rey." Ucap Melvin membuka percakapan.


"Vin, Istri gue akan melahirkan!" 


"Apa, dimana?" tanya Melvin tampak terkejut.


Setelah mendapatkan alamat rumah sakitnya, Melvin memberitahu pada semuanya sehingga mereka memutuskan untuk pergi dan melihat Vina yang akan melahirkan di rumah sakit.


WAHH ADA YANG MAU JADI DADDY NIH 😜


BERSAMBUNG.....................................

__ADS_1


__ADS_2