Menikah Karena Melanggar

Menikah Karena Melanggar
Melamar pekerjaan


__ADS_3

Vina membawa surat lamaran kerja nya ke kantor Rey sesuai yang pria itu katakan, sejujurnya Vina antara butuh tidak butuh pekerjaan itu, pasalnya ia tidak tinggal selamanya di Indonesia, karena kedua orangtuanya berada di Singapura. 


Namun setelah dipikir-pikir, tak ada salahnya bekerja, lagipula tidak mungkin kan ia terus di rumah selama satu bulan. Itu akan jauh lebih membosankan.


"Permisi, dimana ruangan Pak Rey?" tanya Vina ke bagian resepsionis.


"Apa sebelumnya sudah membuat janji?" tanya resepsionis itu dengan sopan.


Vina menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, ia tampak menunggu saat melihat resepsionis didepannya tengah menelepon seseorang dan sudah pasti adalah Rey.


"Anda tunggu saja disini, Nona. Pak Rey akan kemari," ucap wanita itu memberitahu.


Vina mengangkat sudut bibir nya aneh, seharusnya ia yang menghampiri Rey, tetapi kenapa jadi terbalik dan justru Rey yang akan menemuinya di bawah pula.


Tak selang beberapa lama Vina menoleh saat dirinya dipanggil, ia melihat Rey dengan setelan jas navy tanpa dasi.


"Selamat pagi, Pak Rey." Sapa Vina dengan sopan dan formal.


"Pagi, kita bicara diruangan saya ya. Silahkan," tutur Rey mempersilakan Vina untuk jalan duluan.


Vina tampak kebingungan, bukankah itu namanya buang-buang waktu harus menjemputnya dan kembali lagi ke ruangannya. Entahlah, Rey memang agak unik daripada Melvin dan Reno, ya meski mereka baru beberapa kali ketemu tapi ia sudah bisa menilai.


Vina dan Rey masuk ke dalam lift, tak ada pembicaraan dari keduanya. Rey sesekali melirik ke arah Vina, ia akui bahwa gadis itu tampak begitu cantik dengan balutan kemeja putih dan rok span sebatas paha berwana hitam.


"Silahkan." Tutur Rey saat mereka telah sampai dilantai yang mereka tuju.


Vina keluar duluan, ia menatap ke sekeliling yang tampak sepi, disana hanya ada meja penerima tamu, dan juga meja untuk sekretaris tepat diruangan Rey.


Rey membuka pintu ruangannya, ia masuk duluan disusul oleh Vina. Rey mempersilahkan gadis itu duduk kemudian disusul oleh nya.


"Jadi, apa tujuanmu datang kemari?" tanya Rey dengan santai.

__ADS_1


"Saya ingin melamar--" belum sempat Vina meyelesaikan ucapannya, Rey langsung saja memotong nya.


"Astaga, saya ingin dilamar. Kapan?" potong Rey sengaja menggoda sepupu temannya ini.


"Maaf, Pak Rey. Saya kesini untuk melamar menjadi asisten anda." Jelas Vina masih belum mengerti godaan Rey.


"Kamu lebih cocok menjadi pasangan hidup daripada asisten saya, Vina." Celetuk Rey membuat Vina mengerti akan candaan yang dibuat oleh pria dihadapannya ini.


"Pak, anda sepertinya sangat suka humor. Tapi saya jadi gemetaran, Pak." Pungkas Vina membuat Rey tertawa.


"Hahaha, Vina. Jika denganku santai saja, kau akan bekerja sebagai asisten, bukan sebagai penjahat jadi jangan takut." Jelas Rey mengubah panggilannya menjadi lebih akrab.


"Iya baiklah, Pak." Balas Vina manggut-manggut karena terlalu bingung akan bereaksi bagaimana.


"Berikan surat lamaran pekerjaan mu, dan mulai lah datang besok." Tutur Rey meminta.


"Apa, tapi apakah anda tak ingin melakukan interview?" tanya Vina gelagapan.


***


Siang itu Kanaya sampai di kantor sang suami, dengan membawa paper bag berisi makan siang ia sudah bisa menjadi pusat perhatian para karyawan.


"Apa Pak Melvin ada?" tanya Kanaya pada bagian resepsionis.


"Ada, Bu. Apa kami perlu mengantar anda?" tanya wanita itu menawarkan.


Kanaya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban, ia langsung menuju lift agar bisa cepat sampai ke ruangan suaminya. Namun saat di lift ia tanpa sengaja berpapasan dengan ayah mertuanya.


"Papi, selamat siang." Sapa Kanaya menyalami tangan mertuanya.


"Siang, Naya. Kamu ingin menemui Melvin, 'ya?" tanya Papi Heryawan menebak.

__ADS_1


"Hehehe iya, Pi. Papi sepertinya mau pergi, ada urusan diluar, Pi?" Tanya Kanaya melihat Papi Heryawan bersama kedua orang yang mungkin asisten nya.


"Iya, Naya. Ya sudah, Papi pergi dulu ya, hati-hati." Tutur Papi Heryawan kemudian pergi dari hadapan Kanaya.


Setelah melihat kepergian mertuanya, Kanaya segera masuk ke dalam lift. Tak butuh waktu lama, akhirnya ia sampai di lantai tujuannya.


"Sayang!!!!" panggil Kanaya saat tepat sekali Melvin keluar dari ruangannya.


"Lhoo, Sayang. Kamu disini?" tanya Melvin menghampiri Kanaya dan langsung memeluk istrinya.


"Iya, aku bawakan kamu makan siang." Jawab Kanaya menunjukkan tas bawaanya.


Melvin terkekeh, ia lantas mencubit gemas pipi Kanaya. "Terima kasih, Cantik. Kamu perhatian banget sampai bawakan aku makanan gini," ujar Melvin seraya mengajak Kanaya ke dalam ruangannya.


Di dalam ruangan suaminya, Kanaya duduk di sofa seraya menyiapkan makan siang untuk Melvin. Seperti biasa Melvin itu selalu minta jantung saat sudah dikasih hati, sudah dibawakan makanan ternyata minta disuapi pula.


"Kandungan aku makin besar, tapi kamu justru makin manja, Mas." Celetuk Kanaya seraya memasukkan makanan ke dalam mulut Melvin.


"Ya abis gimana, di manja sama kamu tuh rasanya enak dan aku suka," timpal Melvin tersenyum tanpa dosa.


Kanaya hanya bisa geleng-geleng kepala, memang belakangan ini Melvin jauh lebih manja padanya. Bahkan setiap pulang kerja, pria itu akan langsung meminta dipijat atau bahkan di usap-usap kepalanya.


"Mas, kamu kecapekan kali makanya manja." Ucap Kanaya menatap suaminya dalam.


"Kecapekan sih nggak, tapi cuma kekurangan jatah Sayang." Timpal Melvin tertawa sambil mengangkat bahunya.


"Ishhh, Mas!!!" desis Kanaya memukul pelan bahu suaminya.


REY PANDAI KALI GOMBAL, INI JUGA MELVIN BIKIN ISTRINYA MARAH AJA🤣


BERSAMBUNG ..............................................

__ADS_1


__ADS_2