
Semuanya tampak bahagia dengan kelahiran putri pertama Rey dan Vina, terutama orangtua Rey yang memang sudah menantikan kelahiran cucu mereka. Meski keduanya saat ini belum bisa datang karena kebetulan sedang pergi.
Saat ini terlihat Rey asik menimang-nimang anaknya, sambil sesekali tangannya nakal mencolek pipi halus putri kecilnya itu.
"Sayang, cantik ya. Nggak sia-sia kita olahraga tiap malam!" Celetuk Rey tanpa menatap istrinya.
Vina melototkan matanya, ia reflek memukul bahu Rey meski sedikit kesulitan, suaminya benar-benar tak bisa menjaga mulut di depan anaknya.
"Nggak waras suami lo, Vin." Ketus Melvin seketika membuat Rey menoleh.
"Tapi kan emang bener, baby Arsha ini hasil olahraga--" Ucapan Rey terhenti saat Reno mencomot mulutnya.
"Udah jangan ngomong terus, kasihan anak lo tuh mending tidurin." Potong Reno membuat Rey mengangguk.
Perlahan Rey merebahkan anaknya di ayunan kecil yang ada disana, ia tampak tersenyum bahagia melihat hasil cintanya dengan Vina. Rey tak menyangka jika akan merasakan kebahagiaan sebesar ini, apalagi bersama wanita cantik seperti istrinya.
Karena hari semakin sore, Melvin dan yang lain memutuskan untuk pulang ke rumah terlebih lagi ia meninggalkan putranya yang pasti akan menangis kehausan.
"Sayang, kita pulang yuk. Aku ingat Daffin, pasti dia cariin kamu!" Ajak Melvin berbisik.
Kanaya mengangukkan kepalanya, ia mendekati brankar Vina lalu mengusap punggung tangan wanita itu lembut.
"Vin, aku sama Mas Melvin pulang dulu ya. Nanti kesini lagi ajak Daffin," pamit Kanaya membuat Vina tersenyum.
"Iya, Nay. Makasih ya sudah datang jenguk baby Arsha." Sahut Vina mendapat balasan anggukkan dari Kanaya.
"Rey, gue balik dulu. Jagain anak bini lo, dan ingat puasa 2 bulan, hahahha!" ledek Melvin tertawa puas.
"Diem lo!" sentak Rey menekuk wajahnya.
__ADS_1
"Gue sama Reno juga balik deh ya, lagian ini sudah sore besok kita kesini lagi." Ucap Nadia seraya menggandeng tangan suaminya.
"Oh iya, hari ini jadwal aku dapat jatah ya Sayang?" tanya Reno yang otaknya sudah tertular Rey.
"Woy! Inget istri lagi hamil," sentak Rey memukul bahu sahabatnya pelan.
"Nggak gitu Kak Rey, kalau istri hamil tua itu justru bagus berhubungan, dulu Mas Melvin nggak pernah melewatkan kesempatan itu." Celetuk Kanaya membuat Melvin menghela nafas.
"Sayang, udah ayo pulang." Ajak Melvin cepat-cepat sebelum istrinya ini tertular otak kedua sahabatnya.
Keempatnya pamit pada Rey dan Vina, mereka pulang ke rumah masing-masing dengan mobil yang berbeda.
Sesampainya di rumah kediaman Atmadja, telinga Kanaya langsung disambut oleh suara tangis Daffin. Kanaya berlari masuk dan melihat Mami Yuli sedang menimang putranya.
"Astaghfirullah, Mi. Maafin aku ya, Mami pasti kerepotan mengurus Daffin yang rewel?" tanya Kanaya mendekati ibu mertuanya.
Mami Yuli memberikan Daffin pada Kanaya, bocah itu seketika dia namun tak urung menepuk dada Kanaya.
"Gimana sama anak Rey dan Vina?" tanya Mami Yuli pada kedua anaknya.
"Sehat, Mi. Bayinya perempuan," jawab Melvin mewakilkan.
"Wah … wah … Papi jadi ikutan kepengen punya cucu perempuan." Celetuk Papi Heryawan yang baru saja keluar dari kamar nya.
"Tenang, Pi. Usaha kan setiap malam, nanti jika Kanaya hamil lagi terus belum dapat anak perempuan ya berusaha lagi." Sahut Melvin tertawa sementara Kanaya sudah menekuk wajahnya.
"Nggak, dua anak cukup pokoknya." Ketus Kanaya membuat Melvin langsung menghentikan tawanya.
"Iya, Sayang. Ya udah yuk ke kamar, kasihan tuh Daffin udah minta susu!" Ajak Melvin merangkul bahu istrinya.
__ADS_1
Keduanya pamit pergi ke kamar untuk menyusui Daffin, sementara itu Melvin masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Kanaya merebahkan tubuhnya disebelah Daffin yang sudah tak sabar ingin menyusu, hal itu justru membuat Kanaya gemas akan tingkah anaknya.
"Kenapa anak Mama, haus ya. Mau mimi susu?" tanya Kanaya usil.
Daffin menangis, Kanaya buru-buru memberikan asi pada Daffin sebelum anaknya itu semakin keras menangis.
Sambil menyusui, bibir Kanaya sesekali mencium wajah tampan putranya, Daffin yang gemuk membuat pipinya ikut gemuk dan seakan ingin tumpah. Kanaya selalu ingin menggigit pipi putranya jika saja itu tidak bahaya, ia takut kebablasan menggigit putranya.
Tak lama Melvin keluar dari kamar mandi dengan keadaan yang sudah segar, hanya mengunakan celana pendek sebatas paha tanpa baju, pria itu langsung menyusul anak istrinya berbaring.
"Mas, nggak dingin?" tanya Kanaya saat merasakan pelukan Melvin hingga punggungnya dapat merasakan perut suaminya yang tak tertutup.
"Nggak dong, kan mau buat panas-panasan sama kamu." Jawab Melvin ambigu.
"Mau main bakar-bakaran?" tanya Kanaya dengan usil.
"Iya bakar napsu, aku dibawah kamu diatas ya biar enak." Jawab Melvin seketika mendapat cubitan gemas dari istrinya.
Kanaya mengunyel pipi Daffin yang masih setia menyusu. "Daffin jangan bobok ya, gangguin Papa aja biar nggak modusin Mama," tutur Kanaya.
Melvin yang mendengar itu lantas mengangkat wajahnya, ia mencium Kanaya dari samping dengan rakus, membuat Kanaya hanya bisa tertawa mendapat serangan bertubi-tubi dari suaminya.
"Mas … udah!! Daffin lagi nyusu!" tegur Kanaya namun siapa sangka jika Melvin malah semakin menjadi dengan mengigit leher Kanaya hingga meninggalkan bekas.
"Ayo buat ranjang panas." Ajak Melvin dengan suara yang begitu berat.
KARENA KEMARIN NGGAK UPDATE, HARI INI AKU USAHAIN UP LEBIH DARI SATU✌️😭
__ADS_1
BERSAMBUNG............................