
Kanaya masih duduk di sofa sambil mengusap perut nya yang semakin sakit, sebelah tangan lainnya ia gunakan untuk meremat sofa guna menetralisir sakit yang tengah dirasakannya.
Kanaya begitu lemas, ia masih mencoba menghubungi Melvin sejak tadi namun tak mendapat jawaban.
"Nay, lebih baik kamu ke kamar dan istirahat." Ucap Mami Yuli menyarankan.
Kanaya berusaha bangkit dari duduknya, ia kembali menangis lalu menggelengkan kepalanya.
"Hiks … aku nggak bisa istirahat sebelum dapat kabar Mas Melvin, Mi." Jawab Kanaya seraya menyeka air matanya.
"Hiks … Mas Melvin baik-baik saja kan, Mi?" tanya Kanaya semakin keras menangis.
Mami Yuli dan Papi Heryawan saling pandang, mereka tampak kasihan pada Kanaya yang terlihat begitu sedih.
"Kanaya, lebih baik--" Ucapan Papi Heryawan terhenti saat tiba-tiba Kanaya meringis.
"Akhhh … Mi, perut aku, hiks … Mami perut aku!!!" ringis Kanaya mengusap perutnya yang terasa sakit seperti diremas kencang.
"Naya, kamu kenapa Nay?" tanya Mami Yuli panik.
Kanaya masih meringis, ia menundukkan kepalanya saat merasakan sesuatu mengalir dari kakinya. Ponsel ditangan Kanaya jatuh begitu saja, pandangannya mulai melemah.
"Astaga, Kanaya!!!!" teriak Mami Yuli terkejut melihat darah segar keluar dari jalan lahir menantunya.
Tubuh Kanaya begitu lemas, ditambah lagi dengan darah yang mengalir dari kakinya saat ini. Kanaya hampir jatuh merosot jika seseorang tak sigap menahan tubuhnya.
"Sayang." Panggil Melvin tergesa-gesa.
Kanaya menatap Melvin dengan tatapan lemah, wanita itu berusaha meraih wajah suaminya namun tak sempat karena langsung tak sadarkan diri dengan darah yang semakin mengalir.
"Vin, bawa istri kamu ke rumah sakit sekarang!!!" ucap Papi Heryawan seraya keluar untuk menyiapkan mobilnya.
Melvin merutuki kebodohannya sendiri, berniat memberikan kejutan ulang tahun untuk istrinya malah membuat Kanaya tertekan dan berakibat pada kandungannya juga. Jika sampai terjadi sesuatu pada Kanaya dan bayi mereka, Melvin tak akan bisa memaafkan dirinya sendiri.
"Sayang, buka mata kamu. Maafkan aku," lirih Melvin seraya menepuk pipi istrinya pelan.
Sesampainya di rumah sakit, Kanaya langsung ditangani oleh dokter kandungan. Melvin tampak begitu panik bahkan seakan tak rela melepaskan tangan istrinya saat itu. Kemeja putih Melvin tampak kotor dengan darah istrinya.
__ADS_1
"Mi, jika sampai terjadi sesuatu pada Kanaya dan anak kami, maka aku tak akan bisa memaafkan diriku sendiri." Ucap Melvin menjambak rambutnya sendiri.
"Tenang, Vin. Kita doakan semoga Kanaya dan bayinya baik-baik saja," balas Mami Yuli berusaha tenang meski sejujurnya ia juga begitu panik.
Tiba-tiba ponsel Melvin berdering, ia segera mengangkatnya.
"Gimana kejutannya, lancar? gue sama Nadia otw kesana." Suara Reno tampak riang.
"Kanaya masuk ke rumah sakit."
"APA?!! Bagaimana bisa?" tanya Reno tampak terkejut.
Belum sempat Melvin menjawab, telinganya langsung disambut oleh teriakan dari kakak iparnya.
"Gimana bisa Adek gue masuk rumah sakit, Lo apain?!" cecar Nadia diseberang sana.
"Rumah sakit permata Bunda." Bukannya menjawab, Melvin malah memberitahu rumah sakit dimana Kanaya sedang ditangani kemudian menutup teleponnya sepihak.
Bersama dengan itu, pintu ruangan Kanaya diperiksa terbuka. Terlihat dokter keluar disusul oleh Suster yang mendorong brankar dengan Kanaya berbaring tak sadarkan diri diatasnya.
"Maaf, Tuan. Kita harus melakukan operasi persalinan pada Nyonya Kanaya, beliau mengalami pendarahan hebat dan harus segera mendapat penanganan." Ucap dokter lalu memberikan surat persetujuan operasi pada Melvin.
"Dokter, tapi istri saya akan baik-baik saja, 'kan?" tanya Melvin lirih.
"Kami akan berusaha, Tuan. Silahkan ditandai tangani agar kami bisa secepatnya mengambil tindakan!" jawab Dokter itu.
Melvin menatap istrinya sesaat, ia menarik nafas dalam lalu menghanguskan nya pelan. Dengan berat hati akhirnya Melvin menandatangani surat persetujuan itu, ia memberikannya kembali pada dokter.
"Lakukan yang terbaik, Dok." pinta Melvin yang dibalas anggukan oleh dokter.
***
Panik semakin terasa saat lampu diatas pintu ruang operasi tak kunjung padam, Melvin berkali-kali terlihat menyeka air matanya yang merasa begitu menyesal telah membuat istrinya begini.
Disaat masih menunggu, Reno dan Nadia datang dengan tergesa-gesa. Nadia langsung menghampiri Melvin.
"Bagaimana Kanaya, Vin?" tanya Nadia membuat Melvin mendongak.
__ADS_1
"Kanaya harus operasi, dia mengalami pendarahan." Jawab Melvin lirih.
"Nadia, kamu doakan semoga Kanaya dan bayinya baik-baik saja ya." Tutur Mami Yuli melihat Nadia tampak terkejut dan takut.
"Iya, Tante." Balas Nadia menganggukkan kepalanya.
Sementara Reno tampak menepuk pelan bahu sahabatnya, ia dapat merasakan kekhawatiran temannya itu karena ia juga pernah berada di posisi seperti nya. Menunggu istri melahirkan adalah hal paling menegangkan dari apapun.
"Gue tahu istri lo itu kuat, gue yakin dia akan baik-baik saja." Ucap Reno seakan memberi semangat.
Tak selang beberapa lama Reno dan Nadia datang, Rey dan Vina pun datang setelah mendapat kabar dari Nadia.
"Gimana dengan Kanaya?" tanya Vina dengan nafas terengah-engah.
"Masih ditangani dokter." Jawab Nadia menunjuk ruang operasi.
"Vin, gue tahu lo pasti nyalahin diri lo sendiri. Tapi jujur ya, ini bukan salah lo, lo cuma mau beri kejutan sama Kanaya saja, nggak mungkin lo mau bikin istri lo begini." Ucap Rey mendekati Melvin yang masih diam.
"Tetap saja, Rey. Jika saja gue gak berpikir untuk menakuti Kanaya dengan rencana gue itu, dia akan baik-baik dan nggak akan pendarahan gini." Sahut Melvin lirih.
"Yang Rey bilang itu benar, Vin. Kamu tidak boleh menyalahkan diri sendiri. Sekarang kita doakan saja istrimu baik-baik saja," tutur Papi Heryawan yang juga sedih melihat putranya.
Setalah hampir 2 jam, akhirnya terdengar suara tangis bayi yang begitu di nantikan sejak tadi. Tak kama ruangan itu terbuka. Dokter keluar dengan pakaian hijau khas dokter saat bertugas di dalam ruang operasi. Melvin beranjak dari duduknya langsung mendekati dokter.
"Bagaimana istri saya, Dok?" tanya Melvin dengan tergesa-gesa.
Dokter itu tersenyum. "Selamat, Pak. Anak anda perempuan, sehat dan sangat cantik. Dan untuk nyonya Kanaya, saat ini beliau masih dalam perawatan intensif. Kami akan melakukan pemeriksaan secara berkala," jawab dokter membuat pikiran dan hati Melvin sedikit tenang.
Melvin melirik ke arah brankar yang didorong oleh suster, Kanaya berbaring dengan masih belum sadarkan diri sementara Suster terakhir keluar sambil menggendong bayi yang masih berlumuran darah.
"Selamat, Vin." Ucap Reno dan Rey bergantian.
"Pi, kita punya cucu perempuan." Ucap Mami Yuli tersenyum dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya.
"Alhamdulillah, Mi. Sekarang kita doakan semoga Kanaya cepat pulih," sahut Papi Heryawan tersenyum hangat.
EKSTRA PART NYA BANYAK, WKWKWKWK. MASIH ADA YA😜🤣🤣
__ADS_1