Menikah Karena Melanggar

Menikah Karena Melanggar
Pregnant again (End)


__ADS_3

Tanpa terasa sama sekali 3 tahun sudah berlalu, Kanaya dan Melvin yang begitu fokus dan semangat membesarkan putranya tanpa sadar kini Daffin telah tumbuh menjadi anak periang dan sangat aktif. Berlari kesana-kemari membuat sang Mama kerap kali kelelahan, dan saat di malam hari nya, tak jarang bocah itu menangis minta susu membuat Kanaya harus bangun untuk membuatkan susu. Kanaya sudah melepas asi untuk Daffin dari bocah itu berusia 3 tahun dan sudah terhitung satu tahun setelah itu.


Saat sore hari seperti ini, Kanaya sudah direpotkan dengan tingkah Daffin yang seringkali sulit untuk disuapi duduk. Jika sedang makan anak itu senang sekali berlari hingga membuat Kanaya yang harus mengejarnya.


"Daffin, anak Mama yang tampan. Ayo makan dulu, nanti kita main sama Papa." Rayu Kanaya saat anaknya itu tak hentinya berlari.


Daffin berhenti, ia melahap suapan dari sang Mama lalu kembali berlari.


"Mama kejar, Mama …" teriak Daffin memenuhi rumah.


Kanaya tampak mengatur nafasnya, ia benar-benar lelah mengejar Daffin, namun demi menyuapi anaknya tentu ia tak merasa keberatan.


"Eh cucu Oma kenapa lari-larian saat makan?" tanya Mami Yuli yang baru saja keluar dari kamar nya.


"Oma!!!" Pekik Daffin dengan suara imutnya kemudian langsung memeluk Mami Yuli.


Kanaya bangun dari duduknya, ia menghampiri Mami Yuli. "Aku sudah berusaha bilang padanya, Mi. Tapi entahlah, namanya anak-anak," ujar Kanaya membuat Mami Yuli tersenyum.


"Wajah kamu pucat, Nay. Kamu baik-baik saja?" tanya Mami Yuli saat menyadari wajah menantunya yang lebih pucat.


"Nggak apa-apa, Mi. Mungkin kurang tidur karena terkadang saat malam harus bangun untuk membuat susu Daffin dan setelahnya aku nggak bisa tidur lagi, Mi." Jawab Kanaya memijat pelipisnya.


"Ya ampun, sini-sini. Biar Mami yang suapin Daffin, kamu istirahat sana. Kamu bukan hanya kurang tidur itu, Nay. Tapi juga kelelahan," tutur Mami Yuli meraih piring makan Daffin dari tangan Kanaya.


"Maaf ya, Mi. Merepotkan, aku ke kamar dulu." Pamit Kanaya dibalas senyuman dan anggukkan kepala oleh Mami Yuli.


Tak lama setelah Kanaya pergi ke kamarnya, Melvin pulang membawa mainan yang memang sudah ia janjikan untuk Daffin.


"Assalamualaikum." Salam Melvin saat masuk seraya menghampiri Mami Yuli.


"Kanaya mana, Mi?" tanya Melvin sambil mencium punggung tangan sang Mami.

__ADS_1


"Ke kamar istirahat, wajahnya pucat pasti karena kelelahan dan kurang tidur." Jawab Mami Yuli seketika membuat Melvin khawatir.


"Kamu kalau malam bantu istri kamu dong, Vin. Kasihan kan kalau harus buat susu Daffin sendiri," lanjut Mami Yuli memberitahu.


"Iya, Mi. Aku titip Daffin ya, Mi. Mau lihat Kanaya dulu," ucap Melvin dianggukki oleh Mami Yuli.


"Daffin, main nya jangan nakal ya sama Oma." Tutur Melvin pada putranya yang kini tengah asik membongkar mainannya.


"Papa, ini obot." Ucap Daffin menunjukkan mainan robotnya.


Melvin hanya mengangguk kemudian langsung pergi ke kamar, saat masuk ia melihat Kanaya sedang tidur begitu pulas. Terlihat jelas diwajah Kanaya bahwa ia sangat mengantuk dan lelah.


Melvin melempar jas dan tas kerjanya ke sofa, ia melonggarkan dasinya lalu mendekati Kanaya yang begitu tenang dalam tidurnya.


"Istirahat ya, Sayang. Kamu seringkali sulit jika aku yang menyuruh istirahat," bisik Melvin lalu mencium kening istrinya.


***


"Ayo Sayang, buka mulut," tutur Kanaya langsung menyuap makanan ke dalam mulut Daffin saat bocah itu membuka mulutnya.


"Vin, apa nggak sebaiknya cari pengasuh untuk Daffin. Kasihan tuh istri kamu tampak sangat lelah, itu pasti karena Daffin yang sangat aktif di usianya yang sekarang." Ucap Papi Heryawan menyarankan.


"Aku sudah berulang kali memberi saran seperti itu, Pi. Kanaya nya selalu menolak, dia ingin merawat Daffin sendiri." Sahut Melvin menjelaskan lalu menatap istrinya.


"Gimana, Sayang?" tanya Melvin bermaksud kembali meminta persetujuan istrinya.


Kanaya menghela nafas, ia lalu menatap suami dan juga mertuanya bergantian.


"Aku tahu kalian semua khawatir, tapi aku benar-benar ingin merawat Daffin sendiri, tapi jika memang pengasuh itu dibutuhkan untuk sekedar membantu ku dan tidak sepenuhnya mengurus Daffin, baiklah." Jawab Kanaya dengan yakin diakhiri senyuman.


"Baiklah, nanti biar Mami minta tolong sama temen untuk carikan pengasuh ya, kebetulan dia seorang agen jasa." Tutur Mami Yuli dibalas anggukan kepala oleh Kanaya.

__ADS_1


"Oh iya, soal wajah aku yang pucat, sebelumnya aku juga sudah periksa ke dokter kemarin. Dokter bilang--" Ucapan Kanaya terhenti saat Melvin tiba-tiba bangkit dari duduknya lalu mendekati istrinya.


"Apa, apa yang dokter katakan Sayang? Semuanya baik, 'kan?" tanya Melvin tampak panik.


Kanaya tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Jangan khawatir, Mas. Aku pucat itu bukan karena kelelahan, tapi karena adiknya Abang Daffin." Jawab Kanaya.


Melvin mengerutkan keningnya berusaha mencerna ucapan sang istri, sementara Papi dan Mami sudah menahan tawa bahagia setelah paham maksud ucapan menantu mereka.


"Adik Daffin?" tanya Melvin mengerutkan keningnya.


"Tunggu, maksud kamu … maksud kamu, kamu hamil?" tanya Melvin tampak terkejut.


Kanaya tersenyum. "Iya, Mas. Aku hamil, usia kandungannya baru 5 Minggu." Jawab Kanaya mengusap perutnya.


Melvin menarik tangan istrinya hingga Kanaya berdiri, ia lantas menciumi seluruh wajah Kanaya tanpa malu di depan orangtuanya, bahkan Daffin yang masih polos hanya bisa diam memperhatikan Papa dan Mama nya yang saling melempar senyuman.


"Baik-baik di perut Mama ya, Dek." Bisik Melvin kemudian menunduk untuk mencium perut istrinya.


Papi Heryawan dan Mami Yuli ikut bangkit dari duduknya, mereka memberikan ucapan selamat pada Kanaya yang sebentar lagi akan memiliki anak kedua dan tentunya cucu kedua juga untuk keluarga Atmadja.


"Sehat-sehat ya cucu Oma." Ucap Mami Yuli mengusap perut Kanaya.


Papi Heryawan menggendong cucunya, ia mencium pipi Daffin lalu mengangkat sebelah alisnya tangan bocah itu.


"Yeay!!! Sebentar lagi Daffin punya adik, hore!!!!" celetuk Papi Heryawan seakan mewakili Daffin.


Semuanya tertawa melihat tingkah Papi Heryawan, bahkan Daffin sekalipun yang terlihat begitu bahagia seakan mengerti dengan ucapan orang dewasa.


END🌹


MASIH ADA EKSTRA PART YA, JADI JANGAN UNFAV DULU😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2