Menikah Karena Melanggar

Menikah Karena Melanggar
Pertengkaran


__ADS_3

Untuk merayakan pertunangan Nadia dan Reno, pasangan itu mengajak berlibur ke Bandung untuk sekedar mencari udara segar. Hmm, hanya untuk mencari udara segar alibinya, padahal mereka pasti akan tetap menginap juga.


Melvin antara mau ataupun tidak mengajak istrinya untuk ikut, mengingat kandungan Kanaya yang sudah lumayan besar kerap kali membuatnya ketar-ketir jika istrinya itu melakukan sesuatu.


"Yahhh, masa kamu gitu sih, Mas!" ucap Kanaya setelah mendengar penolakan dari suaminya.


"Aku takut terjadi apa-apa sama kamu dan baby, next time aja ya, Honey?" tawar Melvin dengan lembut.


"Nggak, aku maunya bareng sama yang lain." Tolak Kanaya menggelengkan kepalanya.


Sementara Papi Heryawan dan Mami Yuli hanya menjadi penonton dari anak menantunya, meja makan yang seharusnya terisi dengan suara dentingan sendok, kini malah terdengar suara rengekan Kanaya dan penolakan Melvin.


"Vin, udahlah gak apa-apa ajak istri kamu. Kasihan dia, lagian kan ada kamu juga disana. Nanti bayi nya ngiler loh," tegur Mami Yuli.


"Tapi, Mi. Kandungan Naya itu udah besar, aku takutnya nanti disana ada aja keluhan nya." Ujar Melvin seraya mengusap perut besar Kanaya.


Tak lama kemudian Vina baru saja pulang setelah lembur di kantor Rey, ia menyapa Om dan Tantenya kemudian beralih menyapa Kanaya dan Melvin.


"Kalian udah siap-siap untuk pergi besok?" tanya Vina menatap Melvin dan Kanaya.


Kanaya menekuk wajahnya lalu menggelengkan kepalanya.


"Kita gak akan ikut mungkin, kandungan Kanaya udah lumayan besar." Jawab Melvin sementara Kanaya hanya diam.


"Aku sudah selesai, Pi, Mi. Aku duluan ke atas, 'ya?" ucap Kanaya pamit dan langsung beranjak dari duduknya.


Semua yang ada disana menatap kepergian Kanaya dengan tatapan sendu, mereka tahu bahwa ibu hamil itu kehilangan mood nya akibat penolakan yang Melvin lontarkan. Bahkan makanan Kanaya baru tersentuh sedikit saja.


"Vin, susul istri kamu sana." Tutur Papi Heryawan.


"Meskipun nantinya Kanaya nangis minta ikut, aku tetap gak akan izinin Pi, bukan apa tapi aku beneran takut jika terjadi sesuatu pada kandungannya." Ucap Melvin lalu segera pergi menyusul istrinya.


Tinggal lah Vina bersama Om dan Tantenya. Vina menatap Mami Yuli dan Papi Heryawan bergantian, ia ikut beranjak dari duduknya.


"Om, Tante. Aku juga ke kamar dulu ya, mau bersih-bersih," pamit Vina segera pergi setelah diangguki oleh keduanya.

__ADS_1


Sementara itu di kamar, Kanaya berbaring membelakangi Melvin yang ingin bicara padanya. Entahlah ia sedang marah saja pada suaminya, ia ingin sekali ikut bersama kakak dan yang lainnya, tetapi Melvin justru melarang.


"Sayang, aku mohon kamu ngerti ya. Aku bukan mau ngekang apalagi posesif sama kamu, tapi aku takut aja terjadi sesuatu yang nggak diinginkan nantinya." Ucap Melvin menjelaskan.


Kanaya tak menjawab, hanya tangisan wanita itu yang terdengar dari mulutnya disertai bahu yang dapat Melvin lihat bergetar.


"Sayang." Panggil Melvin masih lembut.


"Sayang, kamu ngerti kan?" tanya Melvin semakin meninggikan suaranya.


Kanaya sedikit tersentak mendengar suara suaminya yang lebih tinggi dari biasanya, namun ia bukannya membalik badan, Kanaya masih tetap diam.


"Kanaya!" panggil Melvin semakin tinggi.


Kanaya tercengang, ia bangun dari tidurnya lalu berjalan hendak keluar dari kamar. Namun belum sempat tangannya menggapai pintu, Melvin sudah mencegahnya.


"Suami kamu lagi ngomong Naya, kamu dengar gak?!" bentak Melvin tepat di depan wajah Kanaya.


Kanaya menangis, ia melepaskan cekalan tangan Melvin lalu mendorong suaminya menjauh.


"Jelas aku marahin kamu, itu karena kamu susah di atur, aku capek ngurusin kamu yang terus merengek!" jawab Melvin masih dengan nada membentak.


"Mas, hiks … maaf kalau aku nyusahin, ya udah kita gak usah jadi pergi." Lirih Kanaya menundukkan kepalanya.


"Bagus, sana tidur dan jangan menangis lagi atau nanti kamu merengek karena perut kamu sakit!" ujar Melvin sedikit ketus.


Kanaya yang awalnya sudah ingin tidur dan mengakhiri pertengkaran nya lantas kembali mengangkat kepalanya setelah mendengar ucapan suaminya barusan.


"Mas, kamu merasa di susahkan jika aku merengek?" tanya Kanaya namun Melvin hanya diam.


"Oke, Mas. Aku gak akan merengek sama kamu lagi ataupun minta tolong sama kamu, aku bisa melakukan semuanya sendiri!" tambah Kanaya hendak berbaring, namun baru selangkah ia berjalan, tiba-tiba perutnya terasa kram.


Kanaya menggigit bibirnya, ia tak boleh merengek di depan sang suami atau nanti Melvin akan kembali marah. Kanaya akhirnya berusaha menahan, ia berjalan pelan lalu langsung berbaring seraya mengusap perutnya.


"Papa mungkin lelah, Nak. Jangan marah sama Mama atupun Papa yang tadi bertengkar ya," batin Kanaya seakan berbicara dengan bayi dalam kandungannya.

__ADS_1


Keesokan harinya, Kanaya bangun dan tidak menemukan suaminya disana. Ia segera beranjak dari ranjang lalu langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


15 menit kemudian, Kanaya keluar hanya dengan menggunakan handuk, ia segera mengambil pakaian di lemari lalu mengenakannya.


"Kemana Mas Melvin." Gumam Kanaya menghela nafas pelan.


Kanaya merapikan tempat tidur, setelahnya Kanaya segera keluar dari kamar untuk mencari suaminya yang mungkin sedang sarapan.


Sesampainya di lantai bawah, Kanaya melihat Melvin baru saja dari luar. Ia menghampiri suaminya.


"Mas, kamu kok gak siap-siap ke kantor?" tanya Kanaya lembut, ia sudah melupakan tentang pertengkaran semalam, namun sepertinya tidak dengan Melvin.


"Males." Jawab Melvin singkat lalu meninggalkan istrinya begitu saja.


Kanaya menatap suaminya dengan nanar, ia memejamkan mata dan berusaha tetap tersenyum sebelum menyusul suaminya yang pergi ke dapur.


Kanaya melihat Melvin sedang minum, ia mendekati Melvin lagi.


"Kamu sudah sarapan, mau aku buatkan sesuatu?" tawar Kanaya seraya mengusap bahu suaminya.


"Nggak, Nay. Aku tidak lapar," jawab Melvin memanggil istrinya dengan nama.


"Mas, kamu masih marah?" tanya Kanaya memegang pergelangan tangan suaminya.


"Nggak." Jawab Melvin kemudian langsung pergi meninggalkan Kanaya kembali begitu saja.


Kanaya menangis, ia memegangi dadanya yang sedikit sesak akibat perlakuan Melvin yang membuat perasaanya sakit sejak semalam. Mengapa suaminya bisa tiba-tiba berubah begitu hanya karena ia meminta untuk ikut pergi.


Bicara soal pergi, Kanaya teringat mungkin saja kakaknya sudah pergi dengan yang lain. Rumah pun tampak sepi karena Vina juga ikut bersama Rey kesana.


Kanaya tak menyesal karena tidak ikut, sekarang yang terpenting baginya hanya Melvin, ia harus bisa membujuk suaminya yang masih marah padanya itu.


GAK MAU NGOMONG AH, KALIAN TEBAK AJA KENAPA TUH SI MAS MELVIN😤


BERSAMBUNG...................................................

__ADS_1


__ADS_2