
Rey tak dapat fokus dengan pekerjaannya karena memikirkan tentang perjodohan Vina dan si pengusaha playboy itu. Tidak, tidak mungkin ia akan melepas Vina, terlebih lagi pada pria yang begitu tak pantas untuk wanita itu.
Lamunan Rey buyar saat seseorang mengetuk pintu dan terlihatlah wanita cantik yang kini sudah mengisi hatinya datang membawa sebuah berkas.
"Pak, ini berkas keuangan yang memerlukan tanda tangan anda." Ucap Vina dengan sopan.
"Duduklah." Tutur Rey seraya menerima berkas pemberian gadis itu.
Vina yang disuruh hanya menurut, ia duduk di depan Rey seraya memperhatikan berkas yang tak kunjung ditandatangani atasannya itu.
"Maaf, Pak." Tegur Vina mengingatkan.
Rey tiba-tiba saja melempar berkas itu asal ke sisi meja yang berisi tumpukan berkas juga, pria itu beranjak dari duduknya lalu mendekati Vina yang ikut bangun.
"Aku tidak mau menandatangani nya, jika …" Rey menggantung ucapannya.
"Jika apa, Pak?" tanya Vina kebingungan.
"Jika kau tidak memberitahu ku dimana alamat orangtuamu. Berikan padaku alamatnya," pinta Rey memberikan telepak tangannya.
"Tapi untuk apa Bapak ingin mengetahui alamat orangtua saya?" tanya Vina sedikit ragu.
Rey menggenggam tangan Vina, ia memegang dagu Vina lalu mengangkatnya agar gadis itu mau menatapnya.
"Aku sudah mengatakan perasaanku kemarin, awalnya aku mengira kau tidak menyukaiku, namun saat mendengar kebenaran dari Melvin soal perjodohan itu --" Ucapan Rey terhenti karena Vina langsung memotongnya.
"Bapak tahu soal perjodohan saya?" tanya Vina memotong ucapan Rey.
Rey tersenyum. "Jangan memotong ucapanku, Sayang. Dengarkan aku dulu, 'ya." Tutur Rey dengan lembut.
"Perjodohan itu tak akan aku biarkan terjadi, selain karena aku mencintaimu, pria itu juga tak pentas untukmu." Lanjut Rey diakhiri helaan nafas.
__ADS_1
"Sekarang aku benar-benar menanyakan ini padamu, apa kau memiliki perasaan yang sama sepertiku?" tanya Rey sungguh-sungguh.
Vina tampak terdiam, ia tak tahu harus menjawab apa, namun ketidakrelaan untuk menikah sekaligus rasa nyaman dan aman apabila dekat dengan Rey begitu dirasakannya. Ia bimbang.
"Pak Rey, saya belum punya jawaban untuk itu." Jawab Vina lirih.
"Aku memberimu waktu satu tiga hari, ada tidaknya perasaanmu padaku kau harus tetap mengatakannya. Pernikahanmu sebentar lagi dan aku tidak ingin terlambat." Ucap Rey masih lembut namun memberi kesan lebih tegas dari perkataan sebelumnya.
Rey melepaskan tangan Vina, ia lalu kembali duduk di kursinya dan menandatangani berkas yang dibawa gadis itu.
"Lanjutkan pekerjaanmu dan silahkan pergi, saya masih banyak pekerjaan." Ucap Rey mengubah panggilannya menjadi lebih formal.
Vina tampak tersentak dengan perubahan sikap Rey yang tiba-tiba, ia tentu tahu alasannya, namun ia benar-benar belum memiliki jawaban pasti tentang perasaanya. Ia takut perasaan nyaman dan aman itu hanya sesaat.
"Baiklah, Pak Rey. Saya permisi, selamat pagi." Pamit Vina kemudian langsung keluar dan tak lupa membawa berkasnya.
Siang hari di jam makan siang, Vina baru saja bangkit dari duduknya, namun tiba-tiba pintu ruangan Rey terbuka, memperlihatkan pria itu yang pasti hendak makan siang.
Rey tak menjawab dan langsung berlalu meninggalkan Vina begitu saja. Perubahan itu tentu mengganggu Vina yang biasanya akan diajak makan bersama atau pria itu sekedar menggodanya dengan rayuan.
"Astaga, bagaimana ini." Gumam Vina memainkan jari-jarinya.
Vina menghela nafas, ia segera pergi ke kantin untuk makan siang. Namun entah mengapa selera makannya menjadi hilang, alhasil gadis itu kembali duduk di kursinya tanpa berniat untuk makan siang.
***
Sikap Rey yang berubah cuek sejak kemarin tentu mengganggu pikiran dan perasaan Vina, ia jadi teringat akan waktu yang diberikan oleh pria itu.
Apakah Rey bersikap demikian untuk membuatnya sadar tentang perasaanya sendiri, tapi kenapa harus cuek dan membuatnya tak nyaman.
Vina berjalan mendekati dapur dan melihat semuanya sudah menunggu untuk sarapan.
__ADS_1
"Selamat pagi." Sapa Vina dengan riang.
"Pagi, ayo duduk dan sarapan." Sahut Kanaya sementara yang lain hanya melempar senyum.
"Bagaimana kerja dengan Rey, Vin?" tanya Papi Heryawan seraya menyuap makanan ke dalam mulutnya.
"Menyenangkan, Om. Pak Rey baik dan selalu menghargai kerja keras karyawannya." Jawab Vina jujur.
"Tapi sebentar lagi kau harus resign, 'kan? perjodohan mu sudah semakin dekat." Ucap Melvin menyahut tanpa menatap Vina.
"Mas." Bisik Kanaya menegur.
"Vin, kamu sudah yakin dengan perjodohan itu? Tante dengar pria itu terkenal akan sikap gonta-ganti pasangan. Tante jadi khawatir sama kamu, bahkan Tante tidak tahu kenapa Liana mau menjodohkan anak mereka dengan pria seperti nya." Ucap Mami Yuli seraya menggenggam tangan Vina.
"Aku tidak tahu, Tante. Aku masih belum memikirkan nya, semua ini terlalu cepat untukku." Balas Vina lirih dengan kepala tertunduk.
Kanaya berpindah duduk di sebelah Vina, wanita hamil itu lantas mengusap bahu Vina yang tampak masih murung.
"Ya sudah, nanti dipikirkan lagi. Sekarang sarapan saja karena kau kan harus bekerja." Tutur Kanaya penuh pengertian.
"Iya, Nay. Makasih ya," balas Vina lalu mulai menyantap sarapannya.
"Sayang kamu hari ini kuliah, 'kan?" tanya Melvin menatap istrinya.
"Iya, Mas. Bisa nganterin aku?" tanya Kanaya balik.
"Iya, aku antar kok." Jawab Melvin mengangguk.
Semuanya melanjutkan sarapan mereka meski terkadang Vina terdiam untuk sekedar berpikir dan merenungi keputusan apa yang harus diambil olehnya.
AYO MBA VINA, PIKIRKAN YA!!!
__ADS_1
BERSAMBUNG.........................................