
Kanaya memekik girang saat mendengar bahwa sang Kakak dan Reno saling mencintai, sebagai adik bagaimana ia bisa tak menyadarinya selama ini, sementara kisah cinta keduanya sudah dimulai sejak sebelum ia masuk ke kampus.
Sama hal nya dengan Kanaya, Rey pun tak kalah lebih girang dan heboh mendengar kabar backstreet antara kedua temannya itu.
"Akhirnya terungkap juga kalian background!!" Celetuk Rey lalu memukul bahu Reno tanpa alasan.
"Lo ngapain mukul gue, anj--" ucapan Reno terhenti saat Melvin reflek memukul paha pria itu.
"Ada bini gue, masih kecil dia." Ujar Melvin menatap Reno sinis.
"Masih kecil masih kecil tapi diembat juga sampe melendung kaya balon." Celetuk Reno seraya menatap Kanaya yang sudah menekuk wajahnya.
"Sayang, aku kaya balon?" Tanya Kanaya memelas.
"Nggak dong, kamu cantik. Emang si Reno aja mulutnya lemes kaya balon," jawab Melvin jujur.
Sementara Nadia sejak tadi hanya diam, ia sesekali tersenyum melihat tingkah sang adik. Sejujurnya ia agak canggung duduk di dekat Reno, bukan karena tak suka, hanya saja ia takut akan ada perasaan cinta yang kian membesar pada pria itu.
"Nad, lo jangan diem aja. Coba cerita gimana sih lo bisa dapetin Reno, modelan cowo beginian?" Tanya Rey menyenggol lengan Nadia.
"Apaan sih, gak jelas banget." Ketus Nadia menggosok bahunya pelan.
"Jangan gangguin Nadia, Rey!" Tegur Reno menarik tangan Rey menjauh dari Nadia.
"Gak usah banyak omong, cepetan cerita." Ujar Melvin yang ikutan kepo akan kisah cinta Reno dan Nadia.
Reno melirik Nadia yang tampak diam saja, ia menghela nafas lalu melihat ke arah satu persatu temannya.
Matanya kembali melirik ke arah Nadia, gadis yang telah berhasil merebut hatinya karena sikap dan keberanian yang ia saksikan hari itu.
Sore itu benar-benar terasa seperti malam karena langit yang menghitam, sejak pagi Reno masih berada di kampus untuk membantu mempersiapkan acara seminar yang akan dilaksanakan lusa.
Bersama Melvin dan Rey, ia mulai menata kursi dan meja serta dekorasi panggung yang standar untuk melakukan seminar.
"Lo pada haus gak sih?" Tanya Reno menyeka keringat yang mulai membasahi keningnya.
"Tumben amat, lo kalo mau beliin minum gak usah tanya kali." Jawab Melvin ketus.
__ADS_1
"Ck, nanya salah, gak nanya apalagi." Decak Reno menekuk tangannya di pinggang.
"Lo mau juga, Rey?" Tanya Reno menawarkan.
"Iya, lagian kerjaan kita masih lumayan banyak nih." Jawab Rey menganggukkan kepalanya.
Reno segera pergi untuk membeli minuman dan kacang-kacangan. Karena kantin telah tutup, Reno memutuskan untuk pergi ke minimarket yang ada di depan kampus.
Saat di perjalanan hendak keluar dari kampus, mata Reno tanpa sengaja menatap seorang gadis yang baru saja keluar dari perpustakaan dengan wajah lesuhnya.
"Nadia, kenapa dia belum balik jam segini?" gumam Reno melirik sesaat lalu kembali melanjutkan langkahnya.
Reno mendapatkan minuman dan kacang-kacangan yang ia butuhkan, ia kembali ke kampusnya, dan lagi lagi matanya menangkap Nadia, namun tidak sendiri, ada seorang pria yang Reno cukup kenal sedang asik mengganggu gadis itu.
"Lo bacot amat si, Bar. Gue bukan kaya cewek kebanyakan yang gampang lo ajak ngedate ya," celetuk Nadia dengan nada ketusnya.
"Sok jual mahal lo, masih mending gue mau sama cewek ketus dan bar-bar kaya lo!" Pungkas Bara, anggaplah pria ini berada dibawah kasta Rey untuk tingkatan perkampusan. Artinya Bara cukup terkenal di kampus, namun tak seterkenal Melvin dan teman-temannya.
"Tapi sayangnya gue gak mau sama lo, lagian lo sok kegantengan amat semua cewek diajak date." Ejek Nadia disertai lirikan tajam.
Semua itu Reno perhatikan dengan seksama, ia mulai memperhatikan penampilan Nadia yang sederhana. Bermodalkan jeans dan kemeja serta kaos putih sudah membuat penampilan Nadia tetap cantik. Nadia berbeda dari gadis kebanyakan, ia tak memikirkan soal penampilan, dan Reno suka tipikal cewek seperti itu.
"Mampuss, dia gak sadar kan gue liatin." Batin Reno berusaha tetap stay cool.
Sementara Nadia menyipitkan matanya, ia melanjutkan tulisannya dan setelahnya duduk di sebelah Reno tanpa babibu.
"Apa?" Tanya Reno dengan alis sebelah yang terangkat.
"Lo ngeliatin gue ya, lo berpikir mesumm sambil ngeliat badan gue ya?" Cecar Nadia menunjuk wajah Reno.
"Cih, badan triplek aja mana mungkin bisa bikin gue berpikir negatif." Balas Reno menggelengkan kepalanya.
"Terus lo ngapain ngeliatin gue terus, dari beberapa hari ini gue ngerasa lo ngeliatin gue terus. Lo ada niat jahat ya sama gue?" Tanya Nadia pelan.
"Iya, gue mau bikin lo jadi milik gue." Jawab Reno kemudian segera beranjak dari duduknya tanpa mempedulikan dosen yang sedang menjelaskan dan asik nyelonong keluar kelas.
Nadia mengangkat sudut kiri bibirnya, ia menarik nafas lalu membuangnya seraya menggeleng karena tak paham dengan ucapan Reno barusan. Memilih untuk tak peduli, Nadia akhirnya menganggap acuh ucapan Reno.
__ADS_1
Hari-hari semakin berlalu, Nadia dan Reno sudah sering terlihat lebih baik dari sebelumnya meski sesekali suara ketus Nadia menyerang indera pendengarannya dengan tidak sopan hanya karena masalah sepele.
Jika ditanya bagaimana mereka dekat, maka jawabannya karena Nadia terus bertanya soal Reno yang tak henti memperhatikan dirinya. Reno yang merasa sudah memberikan jawaban hari itu hanya diam karena lelah jika harus menjelaskan.
"Stop, gue tanya serius ini mah. Lo sebenarnya kenapa sih Ren?" Tanya Nadia menggebrak meja perpustakaan.
"Jangan berisik, dodol!" Tegur Reno melirik sekitar yang tengah menatap mereka.
"Lo nanya itu terus, gak capek apa? Lagian gue kan udah jawab waktu itu." Tambah Reno seraya membalik lembaran buku ditahannya.
"M-maksud lo?" tanya Nadia terbata saat teringat dengan ucapan Reno.
"Ya, gue suka sama lo. Ck sial, tapi lo gak pernah ngerti!" umpat Reno kemudian segera pergi dari hadapan Nadia.
Reno menghela nafas dalam, ia meraih minumannya dan hendak bicara pada Nadia. Ia masih ragu untuk menceritakan tentang sikap ibunya terhadap Nadia kepada teman-temannya terutama Kanaya ada disana.
Mungkin hari ini cukup untuk memberitahu kisahnya dan Nadia, bagaimana dirinya yang terkesan diam malah terpesona dengan gadis banyak omong dan tidak bisa diam seperti Nadia.
Benar-benar aneh.
"Lanjut." Ucap Rey yang sudah memangku dagunya dengan tangan.
"Gue gak bisa lanjut cerita, cuma Nadia yang punya hak." Balas Reno lalu melirik Nadia.
Semua yang ada disana lantas melirik Nadia, Kanaya bahkan sampai berpindah duduk mendekat ke arah Nadia.
"Ayo Kak, cerita. Aku penasaran tau!" pinta Kanaya memaksa.
"Lain kali ya, gue lagi gak mood cerita." Ucap Nadia lemas.
"Yahhh, lo mah gak seru!!" Pungkas Rey memukul pelan ujung meja.
"Yaudah karena Nadia belum siap cerita, kenapa kita gak makan aja sih. Kita kan kesini juga buat makan," ucap Melvin dianggukki semuanya.
Sementara Reno tak bisa mengalihkan pandangannya, sebegitu sakit hati kah Nadia pada ucapan sang Mami. Namun Reno pun sadar bahwa apa yang Mami nya ucapkan adalah perkataan yang tak pantas dikatakan, bahkan Reno yang menyesal sampai sekarang.
DIKIT-DIKIT YA, SOALNYA AGAK PANJANG 😭
__ADS_1
Dan ya, makasih untuk doa nya Sayang 🌹
BERSAMBUNG..........................................