
Vina dan Rey saat ini sedang pergi ke butik untuk fitting baju pengantin. Keduanya tampak sama-sama excited untuk segera menikah dan membangun rumah tangga. Meskipun demikian, Vina terkadang masih malu-malu sehingga Rey lah yang harus bekerja untuk menggoda calon istrinya itu.
"Ihhh cantiknya istri aku, jadi makin gak sabar mau sah." Celetuk Rey dengan riang.
"Pak Rey, jangan liatin saya terus." Tegur Vina masih menjaga nada bicara formalnya.
"Pak lagi, 'kan. Aku cium nih," ancam Rey sambil menaik turunkan alisnya.
"Iya maaf, S-sayang." Balas Vina memanggil Rey dengan sedikit ragu.
Setelah fitting baju pengantin dan mendapatkan pakaian yang sesuai. Mereka segera pergi untuk mengisi perut yang sudah mulai berbunyi.
Keduanya makan di restoran yang tidak terlalu jauh dari butik, mereka duduk di dekat jendela lalu mulai memesan makanannya.
Rey memberikan daftar pesanan nya kepada pelayan, ia lalu beralih menatap Vina yang tampak melamun.
"Hei, ada apa? mau nambah pesanan?" tanya Rey menggenggam tangan Vina.
"Aku, aku memikirkan kedua orangtuaku. Dimana mereka dan sedang apa, apa mereka tak mau andil dalam persiapan pernikahan putri mereka." Jawab Vina sedih.
Rey tersenyum lalu berpindah duduk di sebelah Vina, ia mengusap bahu calon istrinya itu dengan lembut.
"Sssttt … nggak apa-apa, tapi aku yakin dihari pernikahan kita nanti, mereka akan datang dan aku janji." Tutur Rey mengusap wajah lembut Vina.
"Heh!!!" Tiba-tiba seseorang datang dan langsung menggebrak meja makan mereka.
"Apaan sih lo, ganggu aja." Ketus Rey melihat pasangan yang akan menikah bersama mereka.
"Wahhh kurang ajar dia, Yangg. Batalin aja Sayang, biarin dia nikahnya di undur," celetuk Nadia membuat Rey melototkan matanya.
"Eh kagak! Sembarangan lo main tunda-tunda, orang gue udah ngebet banget." Timpal Rey tak terima.
"Yaudah biasa aja, lagian itu tangan lo jauh-jauh dari Vina. Belum halal!" Tegur Reno tak berkaca diri, padahal dulu ia lebih parah lagi pada Nadia.
__ADS_1
"Ah berisik, calon gue ini." Balas Rey acuh.
"Sayang, jangan gitu." Bisik Vina menegur calon suaminya.
"Vin, lo bahagia kan mau nikah sama Rey?" tanya Nadia memastikan.
"Iya, Nad. Aku bahagia kok, bahkan sangat bahagia. Pak Rey itu baik dan sangat penyayang," jawab Vina jujur, bahkan ia tanpa sadar mengatakannya.
"Sayang ….. yuk ke KUA sekarang!!!" rengek Rey terbang mendengar pujian dari Vina.
"Dih, alay lo anak setan." Ketus Reno memutar bola matanya jengah.
"Berisik anak Dinosaurus!" timpal Rey tak kalah ketus.
Pertemuan tak sengaja mereka akhirnya membuat kedua pasangan itu makan siang bersama. Mereka tentu sama-sama tak sabar untuk menikah dan membangun rumah tangga bahagia seperti Kanaya dan Melvin.
Bicara soal Kanaya, saat ini dirumah Kanaya tengah berbaring di atas ranjangnya. Ia mengusap perutnya yang sejak pagi kram, bahkan terasa begitu kencang.
"Shhhh … anak Mama, baik-baik didalam ya, Nak." Celoteh Kanaya semakin mengusap perutnya yang semakin besar.
"Akhhhh aww … aww …" ringis Kanaya saat merasakan kram itu semakin mendera dirinya.
"Astaga, Nona kenapa?" tanya salah satu pekerja di rumah Melvin.
"Perut aku sakit, Bi. Kram sepertinya, tapi rasanya lebih sakit dari biasanya!" jawab Kanaya menarik nafas dan membuangnya.
"Astaghfirullah, biar bibi panggil Nyonya ya. Nona harus dibawa ke rumah sakit," ujar pekerja itu kemudian pergi ke kamar Mami Yuli.
Tak selang beberapa lama, Mami Yuli datang. Ia terkejut melihat Kanaya sedang memegangi pinggang dan mengusap perutnya yang besar itu.
"Ya ampun, Kanaya!!!" seru Mami Yuli seraya mendekati Kanaya.
"Nak, kamu kenapa?" tanya Mami Yuli tampak khawatir.
__ADS_1
"Nggak tau, Mi. Sejak pagi perut aku sakit, mungkin kram tapi rasanya lebih sakit." Jawab Kanaya seraya menahan sakitnya.
"Mbak, tolong panggil pak sopir ya. Kita bawa Kanaya ke rumah sakit sekarang," ucap Mami Yuli pada pelayanannya.
***
Melvin dan Papi Heryawan yang saat itu sedang mengadakan rapat lantas terkejut mendapat kabar bahwa Kanaya masuk ke rumah sakit. Melvin meminta tolong pada sang Papa untuk menggantikan nya sementara dirinya harus pergi ke rumah sakit untuk melihat keadaan istrinya.
"Kalau ada apa-apa, kabarin Papi ya." Ucap Papi Heryawan menepuk pundak putranya.
"Iya, Pi. Aku pergi ya," balas Melvin kemudian berlari meninggalkan sang Papi untuk segera pergi ke rumah sakit.
Melvin mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia tidak peduli pada klakson kendaraan lain yang mungkin terganggu karena cara mengendarai dirinya.
Tak butuh waktu lama, akhirnya Melvin sampai dirumah sakit. Ia keluar dari mobil kemudian masuk ke dalam dan berlari menuju ruangan yang sudah diberitahukan suster.
Sesampainya di ruangan tersebut, Melvin langsung membuka pintu kamar. Ia melihat Kanaya sedang berbaring di atas brankar dengan selang infus menempel di tangannya.
"Sayang…." panggil Melvin mendekat lalu memeluk istrinya.
"Maaf ya, Mas. Udah buat kamu khawatir," bisik Kanaya mengusap punggung suaminya.
"Kenapa bisa gini, Sayang?" tanya Melvin lemas.
"Kecapean, Vin. Istri kamu ini kram perut karena terlalu lelah, kamu apain istri kamu hmm?" tanya Mami Yuli menjawab pertanyaan Melvin.
"Nggak ada, Mi. Bahkan aku selalu menyuruh Kanaya istirahat." Jawab Melvin lalu beralih menatap istrinya.
"Kamu nakal sih, kan aku bilang istirahat." Rengek Melvin hendak menangis.
"Ihh Mas kok jadi gini, aku nggak apa-apa, tadi cuma sakit dikit aja kok." Tutur Kanaya tampak tercengang melihat suaminya merengek.
Melvin tak menjawab, ia kembali memeluk istrinya dengan erat lalu menciumi wajah Kanaya yang tersenyum melihat tingkahnya.
__ADS_1
LHOOO KOK MAS MELVIN YANG MERENGEK PADAHAL ISTRINYA YANG MASUK RUMAH SAKIT🤣
BERSAMBUNG............................................