
Hari yang paling ditunggu-tunggu oleh pasangan Reno, Nadia dan Rey, Vina akhirnya tiba. Terlihat senyuman lebar tak pernah hilang dari wajah kedua pasangan mempelai pengantin wanita maupun pria setelah kata 'sah' terdengar tadi.
Kanaya ikut bahagia menyaksikan bagaimana wajah cantik sang kakak yang tampak begitu bahagia, senyuman tak pernah hilang dari wajahnya.
"Sayang, hei ada apa? perutnya sakit?" tanya Melvin mendengar isak tangis istrinya.
"Hiks … aku terharu, Mas. Kak Nadia terlihat sangat bahagia dengan pernikahannya," jawab Kanaya seraya menyeka air matanya.
Melvin tersenyum manis, ia lantas menarik Kanaya masuk ke dalam pelukannya dan mengusap bahu wanita itu dengan pelan.
"Aku tahu, tidak akan ada seorang adik yang tidak bahagia melihat kakaknya menikah. Aku juga merasa ikut bahagia melihat kakak ipar dan sahabat-sahabatku menikah." Balas Melvin jujur.
"Kita kesana yuk, Mas." Ajak Kanaya menunjuk ke arah pelaminan.
Melvin mengangguk, ia memindahkan tangannya ke pinggang istrinya. Berjalan bersama mendekati panggung pelaminan lalu naik dengan perlahan.
"Kanaya, ya ampun hati-hati." Ucap Nadia melihat perut adiknya yang semakin besar.
"Kakak hiks … selamat!!!!" ucap Kanaya langsung berhamburan ke pelukan Nadia.
"Ihh lo ngapain nangis, Nay. Jangan cengeng ah, nanti anak lo ikutan nangis," sahut Nadia namun tak dapat menyangkal bahwa ia juga ingin sekali menangis.
"Selamat ya, Ren." Ucap Melvin menjabat tangan Reno yang tampan dengan balutan kemeja berwarna hitam di tubuhnya.
"Makasih, Vin. Doain gue semoga pernikahan gue akan sama bahagianya dengan pernikahan lo," balas Reno membuat Melvin mengangguk.
"Kak Reno, selamat ya. Aku titip Kak Nadia, jangan buat dia nangis, eh kebalik kayaknya. Aku titip Kak Nadia, dan Kak Reno jangan nangis ya kalau dimarahi oleh nya." Celetuk Kanaya mengundang tatapan tajam Nadia.
__ADS_1
"Hehehe, siap Nay. Nanti kalau dia marah, kan tinggal aku cium," balas Reno tertawa.
Sementara Nadia hanya bisa melengos kesal bercampur malu mendengar ucapan suaminya. Bisa-bisanya Reno mengatakan itu kepada sang adik.
Kemudian, Melvin dan Kanaya beralih ke pasangan Vina dan Rey. Keduanya pun tampak sama bahagianya dengan Reno dan Nadia, namun mereka tentu tahu ada rasa kesedihan di hati Vina karena orangtuanya tak datang.
"Rey, Vin. Selamat ya, semoga pernikahan bahagia selalu," ucap Melvin pada keduanya.
"Makasih banyak, Vin." Balas Rey memeluk sang sahabat sambil menepuk punggung Melvin pelan.
"Vina, selamat ya. Jangan sedih terus, mungkin saja mereka sibuk. Aku doakan semoga kamu dan Kak Rey selalu bersama," ucap Kanaya menggenggam tangan Vina.
"I-iya, Nay. Makasih ya," balas Vina sedikit terbata guna menahan air matanya.
Setelah selesai memberi ucapan selamat pada kedua pasangan, Kanaya dan Melvin memutuskan untuk duduk sambil menikmati hidangan yang telah disediakan. Mereka sengaja duduk bersama Papi dan Mami mereka yang tampak asik berbincang.
"Makasih, Mi." Ujar Kanaya tersenyum manis seraya duduk disebelah Mami Yuli.
"Mas, mau apa nanti biar aku ambilkan?" tanya Kanaya pada suaminya.
"Nggak, Nay. Biarin Melvin aja yang ambil makanan, kamu duduk diam. Kandungan kamu sudah besar, Papi capek lihat kamu mondar-mandir dari tadi," sahut Papi Heryawan khawatir pada menantunya itu.
"Hehe, padahal enggak loh Pi. Cucu Papi ini anteng, gak buat Mama nya susah," balas Kanaya tersenyum.
"Papi benar, Sayang. Biar aku saja yang ambil, kamu mau apa?" tanya Melvin dengan lembut.
"Buah, sama jus." Jawab Kanaya dengan riang.
__ADS_1
Melvin mengangguk, ia segera menuju prasmanan untuk mengambil yang diinginkan oleh istrinya. Sementara Kanaya diam bersama mertuanya.
"Mami nggak sabar mau gendong cucu, Pi." Ucap Mami Yuli tampak asik mengusap perut menantunya.
"Sama, Mi. Nanti kalau cucu nya udah lahir, Papi nggak kerja lagi ah, mau main aja sama dia." Celetuk Papi Heryawan sambil tertawa.
"Ya terserah Papi, kan udah ada Melvin yang pimpin perusahaan." Timpal Mami Yuli.
"Sabar ya, Mi, Pi. Tinggal satu bulan lagi kok, nanti dia akan temani Papi dan Mami bermain." Sahut Kanaya yang tadi menjadi pendengar obrolan mertuanya.
"Iya, Nay." Balas Papi dan Mami mertuanya dengan kompak.
Tak lama Melvin datang membawa buah dan jus buah yang Kanaya mau, ia meletakkan di meja lalu menyuapi Kanaya yang tampak senang disuapi.
"Akhhhh …" ringis Kanaya tiba-tiba.
Hal itu sontak mengundang tatapan khawatir dari Melvin dan kedua mertuanya.
"Kenapa Sayang, ada yang sakit?" tanya Melvin dengan panik.
"Kita ke rumah sakit, 'ya." Ucap Papi Heryawan yang tak kalah panik.
"Nggak. Aku cuma kaget aja, si dedeknya nendang kenceng banget." Jelas Kanaya membuat Melvin dan orangtuanya bernafas lega.
Kanaya tersenyum senang, ia bahagia karena bisa menjadi menantu kesayangan mertua dan istri kesayangan suami.
AAAA ENAKNYA JADI MENANTU KESAYANGAN😭🤣
__ADS_1
BERSAMBUNG.........................................................