
Kanaya diperiksa oleh dokter pribadi keluarga Atmadja, Melvin dengan setia menemani sambil menggenggam tangan istrinya.
Kekhawatiran Melvin semakin besar kala melihat ekspresi wajah Dokter. Mami Yuli pun ada disana untuk mengetahui kondisi menantunya.
"Bagaimana, Dok, istri saya tidak apa-apa, 'kan?" tanya Melvin membuka suaranya.
"Kondisi Nona Kanaya buruk, Pak. Beliau mengalami ensefalitis atau yang biasa disebut radang otak. Untuk pemeriksaan lebih lanjut, silahkan ajak Nona Kanaya ke rumah sakit." Jawab Dokter Ridwan, selaku dokter pribadi yang telah melayani keluarga Melvin sejak lama.
"Apa Dok, radang otak?!" kejut Mami Yuli mendengar penjelasan dokter.
"Benar sekali Nyonya, rasa pusing yang dijelaskan oleh Pak Melvin tadi adalah bentuk gejala yang sedang ditunjukkan, Nona Kanaya tidak boleh stress apalagi berpikir berat karena itu akan berakibat pada kondisi kesehatan nya, bahkan bisa saja sampai kepada bayi dalam kandungannya." Jawab Dokter membuat jantung Melvin serasa mencelos begitu saja.
"Secepatnya anda harus membawa Nona Kanaya ke rumah sakit untuk melakukan pengobatan, karena komplikasi dapat berkembang lebih parah seperti kelelahan yang berlebihan." Lanjut Dokter Ridwan.
Melvin terdiam, ia menunduk menatap Kanaya yang masih belum sadarkan diri, jadi selama ini Kanaya stress memikirkan dirinya, bahkan istrinya itu sampai memiliki penyakit yang akan berbahaya jika dibiarkan.
"Dokter, lakukan semua pengobatan yang terbaik, besok kami akan membawa Kanaya ke rumah sakit!" ujar Mami Yuli yang tak ingin sesuatu hal terjadi pada menantu cantiknya.
"Baiklah Nyonya, saya akan menunggu Nona Kanaya besok, saya permisi dulu, selamat sore." Pamit Dokter Ridwan kamudian segera pergi.
Mami Yuli menatap Kanaya sama seperti Melvin, mereka begitu khawatir pada kondisi wanita itu dan juga bayinya. Melvin pun masih belum mengalihkan tatapan nya, ia menggenggam tangan Kanaya dengan perasaan takut, menyesal dan khawatir menjadi satu.
"Nay, bangun Nay!" pinta Melvin lirih.
__ADS_1
"Melvin, Mami akan buatkan makan malam untuk Kanaya, kamu jaga istrimu ya." Tutur Mami Yuli.
"Iya, Mi. Terima kasih," balas Melvin mengangguk kecil.
Kini di kamar hanya tinggal Melvin dan Kanaya, tak lama Kanaya akhirnya sadar dari pingsannya, perlahan matanya terbuka dan langsung dihadapkan dengan wajah Melvin yang sedang mencium tangannya dengan mata terpejam.
"Kak." Panggil Kanaya pelan.
Melvin terkejut sekaligus senang melihat Kanaya, ia tersenyum namun matanya berkaca-kaca, membuat Kanaya yang melihatnya merasa bingung.
"Kak, ada apa?" tanya Kanaya memegang sebelah sisi kanan wajah Melvin.
"Naya, aku pria yang sangat jahat bukan?" tanya Melvin dengan tatapan dalam kepada istrinya.
"Kenapa gak pernah cerita?" tanya Melvin lalu menjatuhkan kepalanya di bahu istrinya.
Kanaya mengerutkan keningnya, ia mengusap kepala turun ke bahu Melvin dengan lembut.
"Cerita apa Kak?" tanya Kanaya masih belum paham dengan apa yang diucapkan oleh suaminya.
"Sejak kapan kamu sakit, Nay?" tanya Melvin pelan namun berhasil membuat Kanaya terdiam.
Diamnya Kanaya membuat Melvin mengangkat wajahnya, ia menangkup wajah Kanaya lalu menghadapkan ke arahnya.
__ADS_1
Kanaya tiba-tiba tersenyum. "Itu bukan penyakit berbahaya, Kak." Jawab Kanaya masih dengan senyuman yang sama.
"Gak bahaya gimana Nay? Selama ini kamu merasa pusing bahkan seringkali pingsan dan kamu bisa bilang ini gak bahaya?!" tanya Melvin seraya mengacak rambutnya sendiri.
Kanaya terkekeh, ia mengusap wajah Melvin lalu mencium hidung mancung Melvin.
"Kenapa sih? Aku baik-baik saja, Kak." Tutur Kanaya lalu berusaha untuk bangun tetapi dihentikan oleh Melvin.
"Nay, cukup istirahat dan jangan pernah memikirkan apapun yang membuat kamu stress." Timpal Melvin dengan tatapan memohon.
"Iya." Balas Kanaya manut dan menganggukkan kepalanya.
Melvin tersenyum, ia mengusap kening Kanaya lembut lalu memberikan istrinya ciuman yang dalam dan tulus. Setelahnya, Melvin memeluk Kanaya dengan erat sambil sesekali mencium bahu istrinya.
Kanaya membalas pelukan suaminya, ia senang karena Melvin merasa khawatir pada keadaannya saat ini, dan semoga ini adalah awal yang baik untuk rumah tangga mereka kedepannya.
"Aku menyayangi kamu dan anak kita, Nay." Bisik Melvin jujur.
Rasa sayang memang ada sejak ia merasakan mual muntah layaknya ibu hamil, tetapi jika untuk cinta, Melvin masih belajar untuk itu dan semoga Kanaya mau menunggunya.
MAAF UPDATENYA KEMALEMAN, JUJUR AKU PAKSA BANGET BUAT NGETIK, JARIKU RASANYA PADA LEMES, BADAN JUGA LAGI GAK PADA ENAKš¤§
YANG MINTA UPDATE LEBIH DARI DUA, NANTI YA INSYAALLAH KALO AKU UDAH ENAKANāŗ
__ADS_1
BERSAMBUNG......................................