
Lanjut part yang sebelumnya!!!!
"Kakak!!!" panggil Kanaya terkejut.
Kanaya mendekati Nadia yang terlihat sudah begitu emosi, ia bahkan tak menyangka jika sang Kakak akan bisa memukul bahkan sampai membuat Melvin terjatuh.
"Gue bisa aja bunuh lo Vin, tapi gue inget sama janin yang ada di kandungan Kanaya!!" ucap Nadia dengan tatapan tajam ke arah Melvin.
Melvin yang tadinya memasang wajah garang kini berubah, wajahnya mendadak pias bercampur terkejut mendengar penuturan dari Nadia.
Melvin bangun dan langsung berdiri di depan Nadia. "Lo bilang apa?" tanya Melvin mengerutkan keningnya.
"Oh lo tuli? Pantesan sampai adek gue nangis mohon-mohon aja lo gak dengar dan tetap menghancurkan kehidupannya!!!" bentak Nadia semakin mencak-mencak.
"Kakak udah kak, tenang!!!" bisik Kanaya tak ingin sang Kakak mengalami hipertensi karena dirinya.
"Lo--" Melvin hendak berucap, tetapi suara Mami Yuli menghentikan nya.
"Cukup Vin!! Kamu sudah sangat keterlaluan!!" potong Mama Yuli ikut geram.
"Saat ini Papi sedang pergi memeriksa rekaman cctv, kita butuh bukti atas apa yang Kanaya dan Nadia katakan, meski pada kenyataannya Mami sangat percaya pada mereka." Lanjut Mami Yuli.
"Enough, Mom, Why is Mami defending them??" tanya Melvin terkejut karena Mami Yuli justru membela Kanaya dan Nadia.
"because that's true. Lo yang salah disini, dan lo masih berani nyari pembelaan?!" timpal Nadia dengan tatapan tajam dan menusuk.
Sementara Kanaya hanya menangis, ia tak tahu harus bereaksi seperti apa karena dirinya sudah cukup lelah dan pasrah akan semua ini. Disini Nadia lah yang banyak bertindak, sebagai seorang kakak tentu ia akan melakukannya demi sang adik.
Melvin mendekati Kanaya dan handak meraih pergelangan tangan gadis itu, tetapi aksinya terhenti karena tangannya di pegang oleh seseorang.
__ADS_1
"Lepas!!!" pinta Melvin menepis tangan yang mencegahnya tanpa tahu siapa itu.
"Nay, kita harus bicara, kita sama-sama telah berjanji, 'kan?" tanya Melvin tak mendapat jawaban dari Kanaya.
"Melvin, hentikan omong kosongmu dan lihat siapa yang datang untuk mu." Sahut Mami Yuli.
Melvin menoleh, ia terkejut melihat sang Papi yang sedang menatapnya dengan datar dan dingin, wajah Papi Heryawan terlihat biasa, tetapi di matanya banyak sekali amarah dan kekecewaan.
"Kau membuat gadis itu ketakutan, jadi duduklah!" tegas Papi Heryawan lalu duduk di sofa single dengan kedua tangan di samping kanan kiri sofa.
"Kanaya, Nadia, duduklah." Tutur Mami Yuli mempersilahkan.
Kanaya dan Nadia nurut, mereka duduk diikuti Mami Yuli di sebelah mereka, sementara Melvin berada tepat di depan Kanaya.
"Jelaskan Melvin, sudah tidak ada waktu lagi untuk berbohong," ucap Papi Heryawan diakhiri deheman.
"Ya, baiklah. Aku mengakui nya, aku mengaku bahwa aku telah melecehkan Kanaya!" ujar Melvin mengakui.
Nadia ikut bangun. "Dan lo gak ada niat untuk tanggung jawab hah?!" tanya Nadia kepalang kesal.
"Gue bukan nya gak mau tanggung jawab, gue cuma butuh waktu untuk itu. Tapi kayanya adek lo ini benar-benar tidak sabaran." Jawab Melvin menunjuk Kanaya.
Kanaya mengangkat kepalanya. "Karena Kakak juga gak kasih kejelasan apapun sama aku, setelah hari itu Bahkan kakak seakan menghindari aku!" sahut Kanaya tak terima jika disalahkan.
"Karena gue butuh waktu Nay, waktu!!!!" teriak Melvin dengan nafas menggebu.
"Melvin!!!!" bentak Mami Yuli ketika melihat Melvin berteriak pada Kanaya.
"Kanaya itu sedang hamil anak kamu, anak kamu. Dan sekarang kau justru membentak nya?!" tanya Mami Yuli tak menyangka.
__ADS_1
"Hentikan!!!" lerai Papi Heryawan dengan tegas.
Papi Heryawan berdiri, ia menatap Melvin dan yang lain dengan serius, kini tatapan Papi Heryawan menusuk ke arah Melvin.
"Papi sudah melihat rekaman cctv nya, bagaimana kamu memaksanya masuk ke dalam kamar, meski rekaman itu tidak lengkap." Ucap Papi Heryawan.
"Dan kini Kanaya sedang hamil atas perbuatan yang kau lakukan padanya, kau juga sudah melanggar janjimu sendiri untuk tidak melakukan hubungan sebelum pernikahan, kau gagal dan kau harus menepati janjimu." Lanjut Papi Heryawan tegas dan tak dapat di bantah.
Melvin mengepalkan tangannya, ia menatap Kanaya lalu mendekati gadis itu beberapa langkah.
"Lo yakin itu anak gue?" tanya Melvin pelan tetapi menyakitkan.
Kanaya mendongak, ia menatap Melvin dengan mata berair dan amarah yang memuncah. Kanaya mengangkat tangan nya dan memberikan tamparan yang mungkin rasanya lebih menyakitkan dari tamparan Nadia dan Mami Yuli.
Melvin memegangi pipinya yang terasa panas, masih dengan posisi menoleh, mata Melvin melirik Kanaya dengan tajam.
"Kau pikir aku wanita semacam apa ha? Berani sekali kau menanyakan kebenaran anak mu sendiri!!" jawab Kanaya dengan berani.
Kanaya mencengkram kerah baju Melvin, ia tatap Melvin dengan menohok.
"Kau yang sudah menghancurkan hidupku Melvin, kau. Dan sekarang kau ingin lari dari tanggung jawab mu, kau tak memikirkan aku yang sudah mengecewakan mendiang orang tuaku!!" teriak Kanaya penuh amarah.
"Kau tak tahu bahkan aku sangat malu untuk menatap foto mereka, menatap wajah kakak ku yang kini begitu kecewa, dan itu karena kau Melvin!!!!" teriak Kanaya sekuat tenaga.
Kanaya merasakan sakit di kepala nya, ia memegangi sebelah kanan kepalanya dengan pandangan yang mulai buram. Kanaya tak sadarkan diri, beruntung Melvin menangkap tubuh lemah dan tak berdaya itu dengan cepat.
"Naya!!!!" kejut Nadia buru-buru mengambil alih Kanaya dalam pelukan Melvin.
Sementara Melvin hanya diam, ia mencerna semua ucapan Kanaya, tatapan gadis itu yang terlihat hancur, dan itu karena dirinya.
__ADS_1