
Mami Yuli tampak emosi mendengar penghinaan yang Rianti berikan terhadap sang menantu, ia tak terima jika teman sosialitanya itu berani menghina Kanaya. Berani sekali Rianti menyebut Kanaya dan Nadia gadis pergaulan bebas.
Mami Yuli beranjak dari duduknya, ia ingin segera pergi namun dicegah oleh Papi Heryawan.
"Sabar, Mi. Udah malem loh ini, besok aja kita bicara sama si Rianti itu." Cegah Papi Heryawan pelan.
"Iya, Mi. Lagian kalo Kanaya tau aku cerita ini ke Mami, dia pasti bakal marah," timpal Melvin menyahuti.
"Sekarang dimana Menantu Mami, astaga Mami tidak tahu bagaimana perasaan wanita polos itu." Tanya Mami Yuli mengkhawatirkan kondisi menantunya.
"Tidur di kamar, Mi. Mungkin dia kelelahan setelah seharian ini menjaga kakaknya," jawab Melvin dibalas manggut-mangut oleh Mami Yuli.
"Ya sudah, kamu juga pergi istirahat sana. Besok biar kami yang bicara pada Rianti," tutur Papi Heryawan.
"Baiklah, Mi, Pi. Aku ke kamar ya, selamat malam." Pamit Melvin langsung ngeluyur ke kamarnya.
Sesampainya di kamar, Melvin membuka pintu pelan. Ia melihat istrinya sedang berbaring dengan mata terpejam, satu hal yang Melvin akui dan selalu akan ia akui adalah bahwa istrinya begitu cantik.
Melvin menutup pintu kamarnya, ia lalu berjalan mendekati ranjang dan langsung berbaring di sebelah istrinya.
"Sayang." Panggil Melvin pelan seraya melingkarkan tangannya di pinggang ramping Kanaya.
Kanaya menggeliat, ia membalik badan hingga kini posisinya menghadap sang suami dan langsung mendaratkan kepalanya di dada sang suami.
"Darimana?" tanya Kanaya serak khas bangun tidur.
"Ngobrol sama Papi dan Mami dibawah." Jawab Melvin sambil mengusap kepala istrinya.
"Kangen, mau di usap perutnya." Pinta Kanaya dengan manja.
Melvin terkekeh membuat Kanaya mendongak menatapnya dengan mata merah akibat bangun tidur, namun itu tak membuat Kanaya tampak jelek, bahkan tatapan itu justru melemahkan semua saraf Melvin.
__ADS_1
"Kok ketawa sih, kan aku minta di usap perutnya." Desis Kanaya menekuk wajahnya.
"Iya Sayang, sini aku usap perutnya." Balas Melvin lalu menyelipkan tangannya masuk ke dalam kaos Kanaya.
Melvin mengusap lembut perut istrinya, sesekali tangannya itu akan naik untuk menggoda sekaligus curi-curi kesempatan, siapa tahu saja malam ini bisa dapat jackpot menjenguk Dedek bayi.
"Mas, tangannya!" tegur Kanaya tanpa menatap Melvin.
"Iya-iya maaf, Sayang." Sahut Melvin menjauhkan tangannya dari dada Kanaya dan beralih ke perut lagi.
"Siapa yang suruh turunin tangannya?" tanya Kanaya menatap suaminya.
"Hah?! Apa Sayang?!" Tanya Melvin antara terkejut dan girang.
"Kamu gak kangen tengok Baby, dia kangen loh mau ketemu Papa nya." Ujar Kanaya sukses membuat Melvin melompat dari posisinya.
Kini Melvin mengungkung istrinya, menatap manik mempesona Kanaya dengan tatapan takluk, tak lupa bibirnya memberikan kecupan sana-sini diwajah cantik Kanaya.
"Hmm suaranya, mulai nakal nih!!" bisik Melvin seraya mengulum telinga istrinya.
"Shhhh … k-kamu … ahh … gara-gara kamu!!!" teriak Kanaya semakin jadi saat tangan Melvin sudah bergerilya kemana-mana.
Sementara Melvin dan Kanaya sedang asik menengok anak mereka, lain hal nya dengan Nadia yang saat ini tengah duduk di teras bersama seorang pria, pria yang dicintainya tetapi mungkin tak ditakdirkan bersamanya.
"Lo mau apa Ren kesini malam malam?" tanya Nadia tanpa menatap pria itu.
"Gue khawatir sama lo, gimana keadaan lo?" tanya Reno dengan lembut.
Nadia menatap Reno pelan-pelan, ia lalu menganggukkan kepalanya.
"Gue baik-baik aja, dan itu juga karena lo yang udah bantu gue. Makasih ya," jawab Nadia tersenyum tipis.
__ADS_1
Reno tak menjawab, pria itu justru menarik Nadia ke dalam pelukannya. Ia usap-usap kepala Nadia pelan disertai kecupan sayang dipuncak kepala gadis itu.
"Gue gak bisa gini terus, Nad." Ucap Reno dengan masih memeluk Nadia.
Nadia diam tak menjawab, ia justru memejamkan matanya dan menikmati kenyamanan serta kehangatan dari pelukan Reno.
"Dengerin gue, Nad." Pinta Reno menangkup wajah Nadia hingga mereka saling menatap.
"Apa?" tanya Nadia lemah.
"Besok, besok kita ketemu Mami gue. Terserah reaksi dia kaya gimana yang penting kita udah minta restu!" jawab Reno sungguh-sungguh.
"Nggak, Ren. Lo gak boleh ngebantah Mami lo cuma demi gue, kita mungkin emang gak akan direstui." Tolak Nadia menggelengkan kepalanya.
"Nad, please! Nurut sama gue kali ini, gue yakin semakin lama Mami juga akan menerima lo sebagai menantunya." Pinta Reno menggenggam tangan Nadia.
Nadia menghela nafas, ia akhirnya mengangguk sebagai jawaban meski tak tahu apakah hati dan perasaannya akan sanggup menghadapi Mami Rianti yang begitu jutek dan pedas terhadapnya itu.
"Gue cinta banget sama lo, Nad." Ungkap Reno jujur.
UHHH KEYAKINAN RENO UDAH MANTAP NIH🥵
BERSAMBUNG.......................................
VISUAL RENO
VISUAL NADIA
__ADS_1
cocok gak sih?????