Menikah Karena Melanggar

Menikah Karena Melanggar
Restu Mami Rianti


__ADS_3

Seperti setiap paginya pasangan suami istri itu akan berangkat ke kantor dan meninggalkan anak-anak mereka di rumah bersama asisten rumah tangga.


Tuntutan ekonomi membuat keduanya harus sama-sama bekerja demi memenuhi semua kebutuhan rumah tangga, terlebih lagi anak mereka yang sudah harus sekolah.


Rahman dan Rani, pasangan suami istri yang bekerja disebuah kantor cukup besar dan menjabat sebagai karyawan biasa.


Setiap hari mereka akan pergi menggunakan motor yang mereka beli dari hasil gaji keduanya. Pagi ini sama dengan pagi sebelumnya, mereka berpapasan dengan atasan mereka yang baik hati dan sangat ramah.


"Selamat pagi, Pak Heryawan." Sapa Pak Rahman dengan sopan.


"Eh Pak Rahman dan Bu Rani, kalian baru datang?" tanya Pak Heryawan pada keduanya.


"Iya, Pak. Tadi Kanaya agak susah ditinggal," jawab Pak Rahman menjelaskan.


"Astaga sama saja dengan Melvin, dia juga tadi pagi sempat merengek dan minta diantar oleh Mami nya ke sekolah. Aneh-aneh saja anak itu padahal sudah besar," ujar Pak Heryawan menimpali.


"Mungkin Nak Melvin sedang rindu pada Mami nya, Pak. Wajar saja, karena Kanaya dan Nadia sering mengungkapkan nya juga." Sahut Bu Rani membuat Pak Heryawan manggut-manggut.


Setelah saling berbincang sedikit, keduanya segera masuk. Pak Heryawan menyukai pasangan suami istri itu karena kejujuran dan semangat mereka dalam bekerja.


Bahkan sempat teman investornya datang ke kantor untuk melakukan kontrak kerjasama dengan perusahaan nya waktu itu, sang investor kehilangan dompet dan dengan jujurnya Pak Rahman mengembalikan dompet tersebut yang isinya bukan uang sedikit.


"Ya ampun, Pak Heryawan. Anda beruntung sekali masih memiliki pekerja jujur seperti Pak Rahman ini." Ucap Pak Aryo seraya menatap Pak Rahman hangat.


"Tentu saja, dia adalah karyawan kesayangan saya. Atas kejujuran dan semangatnya dalam bekerja," balas Pak Heryawan bangga.


"Terima kasih Pak, tapi saya tidak sehebat itu. Saya hanya mengembalikan apa yang bukan milik saya." Ucap Pak Rahman dengan sopannya.


"Baiklah, untuk ucapan terima kasih saya. Malam ini saya mengajak keluarga Pak Rahman untuk ikut makan malam dengan keluarga saya dan Pak Heryawan. Bagaimana?" Tawar Pak Aryo.


"Tapi Pak, apa pantas saya ikutan bersama kalian?" Tanya Pak Rahman tak enak.


"Jangan sungkan, Pak." Jawab Pak Heryawan menepuk pelan bahu Pak Rahman.

__ADS_1


Dan malam harinya, Pak Rahman bersama istrinya datang ke acara makan malam dengan keluarga atasan mereka.  Kebetulan tak membawa anak-anak karena Kanaya sudah tidur dan tidak mungkin Nadia meninggalkan adiknya.


Makan malam berjalan dengan lancar, bahkan sejak saat itu Pak Rahman dan istrinya dianggap teman oleh keluarga Pak Heryawan dan Pak Aryo, yang tak lain adalah atasan mereka.


Satu bulan berlalu, tanpa di sangka sama sekali bahwa keluarga Pak Heryawan memberikan pasangan suami istri itu sebuah hadiah berupa mobil. Keduanya sempat menolak, namun atas paksaan akhirnya mereka terima juga.


"Ya siapa tau saja pertemanan kita bisa jadi besan, kebetulan anak Pak Rahman dan Bu Rani kan perempuan ada 2." Ucap Bu Yuli sekedar mengisi pembicaraan.


"Benar, Jeng. Lagipula anak-anak mereka itu cantik dan pandai, kita pasti beruntung memiliki menantu seperti mereka kelak." Sahut Bu Rianti membuat Bu Rani tersenyum.


"Kalian bisa saja, Bu. Saya takut anak-anak saya tidak pantas dengan anak kalian," ujar Bu Rani tak enak.


"Kita tidak tahu, Bu Rani. Kita tunggu saja sampai takdir yang menentukan, semoga ucapan kita hari ini bisa jadi kenyataan." Ucap Bu Yuli dianggukki oleh Bu Rianti dan Bu Rani.


Pak Rahman dan Bu Rani pulang menggunakan mobil pemberian Pak Heryawan, keduanya pamit setelah 1 jam Pak Aryo dan istrinya pamit duluan dari rumah Pak Heryawan.


"Terima kasih banyak atas semuanya, Pak. Kami permisi dulu," ucap Pak Rahman menunduk sopan.


Keduanya segera pulang, namun dipertengahan jalan tiba-tiba mereka berpapasan dengan sebuah mobil yang berjalan dengan tak beraturan. 


"Pah, kenapa mobil itu jalannya salah jalur. Itu sangat berbahaya," ucap Bu Rani pada suaminya.


"Iya, Mah. Astaga mobilnya kesini, Mah!!!!" Kejut Pak Rahman panik melihat mobil itu mengarah padanya dengan kecepatan tinggi.


Pak Rahman hendak menghindar namun terlambat, mobil menghantam mobil Pak Rahman hingga terpental, bahkan pintu mobil bagian kiri terlepas hingga Bu Rani terlempar keluar.


"Mamah!!!!" Teriak Pak Rahman diikuti suara ledakan dari mobil yang masih di duduki oleh Pak Rahman.


Sementara mobil yang oleng tadi menabrak pembatas jalan, mobil berisi sepasang suami istri itu juga hancur tak berbentuk dengan penumpang yang ikut tak sadarkan diri.


Kecelakaan itu begitu tragis, bahkan sampai dimuat dalam sebuah berita. Pak Rahman dan istrinya tak bisa diselamatkan, mereka tewas di tempat kejadian, bahkan tubuh Pak Rahman sudah tak berbentuk akibat ledakan mobilnya.


Sementara orang yang menabrak selamat, mereka harus di rawat di rumah sakit. Orang yang menabrak itu tak lain adalah Pak Aryo dan Bu Rianti yang saat itu menyetir mobil dalam keadaan mabuk sepulang dari rumah Pak Heryawan.

__ADS_1


"Dan saat kami sadar, jasad orangtua kamu sudah di makamkan, kami sangat menyesal atas kecerobohan yang kami buat." Ucap Mami Rianti dengan berderai air mata.


"Kami juga berusaha mencari anak-anak Pak Rahman dan Bu Rani, tapi kami tak menemukannya. Kalian hilang tanpa jejak," sambung Papi Aryo ikut sedih.


"Yuli selalu mengatakan bahwa kita harus mewujudkan ucapan terakhir malam itu, saat kita sama-sama berjanji untuk menikahkan anak-anaknya dengan anak kami. Karena itulah Om dan Tante selalu mencari kamu dan Kanaya." Ujar Mami Rianti semakin menangis.


Sementara Nadia jatuh terduduk di lantai, mengapa bisa ia baru tahu penyebab kecelakaan mendiang orangtuanya. Memang benar sejak kecelakaan itu, ia dan Kanaya memutuskan untuk pindah, mereka tak mau berlarut-larut dalam kesedihan.


"Mah, Pah. Hiks … hiks …" lirih Nadia menangis sambil memegangi dadanya yang sesak.


"Nadia, maafkan Tante Sayang. Tante akan mempertanggungjawabkan segala nya dengan menikahkan kamu dengan Reno, seperti janji Tante pada mendiang orangtua kamu." Ucap Mami Rianti menggenggam tangan Nadia.


"Tante, hiks … kenapa aku baru tahu semuanya, kenapa Tante Yuli tidak cerita." Ucap Nadia semakin keras menangis.


Mami Rianti segera memeluk Nadia, ia tahu bahwa gadis di depannya ini begitu syok dan lemah setelah mendengar sebuah kenyataan. Namun disisi lain ia juga senang, karena akhirnya menemukan anak-anak yang mereka cari selama ini.


Reno perlahan mendekati Nadia, ia menarik Nadia hingga kini gadis itu berada dalam pelukannya. Reno dapat merasakan tangis Nadia semakin keras saat melihat bahu bergetar Nadia, ia membalasnya dengan mengusap punggung dan sesekali mencium kepala gadisnya.


"Sssttt … udah jangan nangis, nanti kamu sesak lagi." Tutur Reno menangkup wajah Nadia seraya menyeka air mata Nadia dengan lembut.


"Nadia, kamu tidak akan membenci Om dan Tante kan?" tanya Papi Aryo pelan.


Nadia menoleh, ia menyeka air matanya lalu tersenyum. "Om ini bicara apa, tentu saja aku tidak akan membenci kalian." Jawab Nadia jujur.


Mami Rianti mengusap kepala Nadia sayang. "Tante bahagia bisa menemukan kamu, dan sekarang Tante katakan bahwa Tante setuju kamu menikah dengan Reno." Ungkap Mami Rianti tulus.


Nadia dan Reno saling menatap, mereka melempar senyum disertai air mata di wajah Nadia karena terlalu senang mendengar ucapan Mami Rianti, meski hati Nadia masih terasa sesak atas kebenaran tentang kedua orangtuanya.


AKHIRNYA WOYYY NADIA DAN RENO 😭😭


BERSAMBUNG............................................


Note. Cetak miring adalah Flashback

__ADS_1


__ADS_2