Menikah Karena Melanggar

Menikah Karena Melanggar
Perubahan sikap


__ADS_3

Kini Mami Yuli dan Papi Heryawan tengah berkunjung ke rumah keluarga Reno, mereka kesana tentu untuk meluruskan kesalahpahaman yang telah diciptakan oleh teman sosialitanya itu.


"Rianti, Aryo. Kami datang kesini untuk meluruskan kesalahpahaman diantara kalian dan Nadia." Ucap Mami Yuli membuka pembicaraan.


"Apa lagi yang mau dibicarakan, Yul. Atau menantu kamu itu mengadu yang tidak-tidak pada mu?" tanya Mami Rianti asal tebak.


"Menantu ku bukan wanita yang sering mengadu, dia wanita mandiri dan sangat baik. Begitupun Nadia, dia adalah gadis kuat yang sangat baik," jawab Mami Yuli membuat Mami Rianti menatapnya.


"Apa buktinya, toh menantu mu saja bisa hamil diluar nikah." Timpal Mami Rianti ketus.


"Kanaya mungkin hamil sebelum menikah, tetapi itu bukan berarti Kanaya gadis yang buruk, disini kesalahan terletak pada Melvin." Ujar Papi Heryawan ikut menyahut saat mendengar menantunya di jelekkan.


"Maaf Tuan Heryawan, istriku tidak bermaksud bicara begitu." Sahut Papi Aryo merasa tak enak hati.


"Dengar, Rianti. Saat kau tahu kebenarannya maka kamu yang akan menyesal telah memperlakukan Nadia dan Kanaya tidak adil." Ujar Mami Yuli menahan amarah.


"Kebenaran apa maksudmu?" tanya Mami Rianti heran.


"Nadia dan Kanaya itu anak-anaknya Rani dan Rahman." Jawab Mami Yuli dengan mata yang sudah memerah.


Mami Rianti dan Papi Aryo saling pandang, tampak keterkejutan di wajah keduanya saat mendengar nama siapa yang mereka sebut. 


Mami Rianti menatap sang teman dengan mata yang melebar dan bibir yang terasa kelu untuk berubah.


"A-apa? Mereka anak-anak Rani dan Rahman?" tanya Mami Rianti terbata.


"Kenapa? kau terkejut?" tanya Mami Yuli tersenyum remeh.


"Ya, mereka anak dari orang yang telah kalian lenyapkan. Karena kalian lah mereka menjadi anak yatim piatu!" lanjut Mami Yuli semakin menyudutkan Rianti.


"Mi, mereka anak-anak yang kita cari." Ucap Papi Aryo memegang bahu istrinya.

__ADS_1


"Ya, lebih jelasnya begitu. Jadi kami mohon pada kalian untuk bisa menghargai Kanaya maupun Nadia, anggap saja ini menjadi penebusan dosa kalian." Sahut Papi Heryawan dengan tegas.


"Rianti, aku harap kau akan merestui hubungan Reno dan Nadia, mereka saling mencintai." Tutur Mami Yuli dengan lembut.


"Pasti, Yul. Makasih udah buat aku tahu bahwa mereka anak-anaknya Rani dan Rahman," balas Mami Rianti mengangguk pasti.


***


Reno menggenggam tangan Nadia yang terasa berkeringat, ia tentu tahu bahwa gadisnya ini tengah gemetar dan gugup untuk bertemu sang Mami.


Namun dengan lembut, Reno mengusap kepala Nadia dan melemparkan senyum hangat sebagai bentuk kekuatan untuk gadis itu.


"Jangan takut, Sayang. Ada aku yang siap melakukan apapun jika Mami berani marahin kamu," tutur Reno dengan sayang.


"T-tapi aku takut, Ren." Bisik Nadia semakin mengeratkan genggaman tangannya.


Nadia dan Reno memang sudah memutuskan untuk mengubah panggilan mereka, kan sudah mau menikah masa iya harus bicara dengan sebutan 'lo' dan 'gue'. Kan tidak sopan.


Nadia menghela nafas, ia mengangguk mantap dan harus berani menghadapi Mami Reno demi cintanya, cinta pada pria disebelahnya ini.


Pintu dibukakan oleh pelayan, angin yang menerpa wajah Nadia terasa begitu dingin namun tak membuat hawa panas bercampur gugup dapat sirna.


Reno semakin menarik tangannya masuk ke dalam, ia mengajak Nadia duduk di sofa dan menunggu sang Mami untuk keluar dari kamar.


"Mami!!!" panggil Reno saat melihat Mami Rianti berjalan menuruni anak tangga.


Nadia ikut mendongak, ia tahu bahwa tatapan Mami Reno tengah terarah padanya. Bahkan langkah kaki yang menuruni anak tangga tak sekalipun membuat tatapan Mami Rianti beralih dari wajahnya.


"Mami, aku dan Nadia--" ucapan Reno terhenti saat Mami Rianti berjalan melewati Reno begitu saja.


Mami Rianti berdiri di hadapan Nadia yang buru-buru bangkit, ia tatap gadis yang dicintai putranya ini dengan seksama, meniti kemiripan yang baru ia sadarkan.

__ADS_1


"Tante, aku dan Reno datang kesini untuk--" ucapan Nadia terhenti saat tiba-tiba Mami Rianti memeluknya.


"Maafin Tante, Nadia." Ucap Mami Rianti seraya mengusap punggung Nadia pelan.


Baik Nadia dan Reno sama-sama tercengang, mereka saling melempar pandangan penuh tanya atas apa yang Mami Rianti lakukan saat ini.


"Tante, kenapa tiba-tiba Tante begini?" tanya Nadia seraya melepas pelukan mereka.


"Tante salah menilai kamu dan Kanaya, ternyata kalian anak yang baik, persis seperti orangtua kalian." Jawab Mami Rianti.


"Orangtuaku, Tante mengenal mereka?" tanya Nadia kebingungan.


"Tentu saja, Nak. Kami bahkan sangat mengenal orang tuamu." Sahut Papi Aryo seraya berjalan menuruni anak tangga.


"Pi, maksudnya apa ini?" tanya Reno tak paham dengan keadaan.


"Papi dan Mami adalah atasan kedua orangtuanya Nadia." Jawab Papi Aryo menjelaskan.


"Atasan, maksudnya kalian adalah bos orangtuaku?" tanya Nadia membuat Rianti dan Aryo sama-sama tersenyum.


"Diantara kami, orangtua kalian dan orangtua Melvin. Tak ada yang namanya bos dan karyawan, kami memang atasan dan bawahan namun kami juga saling berteman." Jawab Mami Rianti mengusap kepala Nadia pelan.


"Tante, aku masih belum mengerti dengan semua ini." Ucap Nadia masih bingung.


"Iya, Pi, Mi. Sebenarnya bagaimana ceritanya kalian bisa saling berteman?" tanya Reno yang ikut tak paham.


"Berjanjilah bahwa kamu tidak akan marah pada Tante saat mengetahui segalanya, Nadia." Pinta Mami Rianti menggenggam tangan Nadia.


CIE DI GANTUNG, BTW UDAH 2 BAB NIH YAH😅😅


BERSAMBUNG.....................................

__ADS_1


__ADS_2