
Kedua pasangan yang habis liburan itu sudah kembali ke rumah masing-masing, Rey kebetulan datang ke rumah Melvin untuk mengantarkan Vina pulang.
Saat mereka sampai, Kanaya tampak mengerutkan keningnya melihat raut wajah keduanya yang sepertinya sedang tidak baik.
"Vin, Nay. Aku masuk duluan ya, mau istirahat." Ucap Vina pada pasangan suami istri itu.
"Iya, Vin." Balas Kanaya sementara Melvin hanya mengangguk.
Sebelum masuk Vina sempat menoleh ke arah Rey lalu tersenyum canggung. Rey yang melihat itu hanya mengangguk dan tersenyum lebar.
"Nay, gue mau ngomong sama suami lo bentaran. Boleh gak?" tanya Rey meminta izin.
"Oh iya, Kak. Ya udah aku masuk ya," jawab Kanaya kemudian langsung masuk dan membiarkan suaminya berbincang dengan temannya.
Kini di teras rumah tinggal Rey dan Melvin, mereka duduk bersama di anak tangga yang memang ada sebagai jalan sebelum masuk ke pintu utama rumahnya.
"Mau ngomong apaan lo sampe ngusir bini gue?" tanya Melvin to the point.
"Gue suka sama Vina." Jawab Rey cepat.
"Oh." Balas Melvin dengan dingin dan ekspresi wajah datar.
"Lah kok oh si!" protes Rey yang menganggap bahwa Melvin pasti tak percaya padanya.
"Ya gue harus bereaksi apaan, gue udah kenal banget sama cowok kaya lo, Rey. Lo gak bisa ngeliat cewek licin dikit aja pasti suka, termasuk istri gue ka." Ujar Melvin dengan santai.
"Nggak, Vin. Kali ini beda, gue benar-benar tulus cinta sama Vina." Kekeh Rey dengan yakin.
"Maksud lo, lo beneran cinta sama dia?" tanya Melvin menaikkan sebelah alisnya.
"Please, Vin. Percaya sama gue, gue beneran suka sama Vina, bahkan cinta. Gue gak main-main kali ini, Vin." Jawab Rey memohon.
__ADS_1
"Dia gadis yang baik dan manis, Vin. Gue juga gak tau sejak kapan bisa cinta sama dia, entah karena gue terus bercandain dia dengan godaan atau karena sifatnya yang sabar dan anaknya manis." Tambah Rey jujur dari hatinya.
"Anaknya manis? Vina belum punya anak." Celetuk Melvin sengaja meledek temannya.
"Anjir lo, gue lagi ngomong serius!" ujar Rey memukul pelan bahu Melvin.
"Ya terus kenapa bilangnya ke gue, kenapa gak langsung ke si Vina?" tanya Melvin melirik sahabatnya sinis.
Rey menghela nafas, ia lalu menatap temannya itu. "Gue udah bilang ke dia, tapi dia cuma diem. Entah dia belum ada jawaban atau apalah." Jawab Rey lirih.
"Lo harus temuin orangtuanya kalau gak mau kehilangan Vina." Cetus Melvin seraya beranjak dari duduknya.
"Maksud lo?" tanya Rey tak paham.
"Vina dijodohin, bulan depan pernikahannya." Jawab Melvin seketika membuat jantung Rey seakan berhenti berdetak.
Melvin pun tahu dari orangtuanya, dan inilah alasan mengapa gadis itu memilih untuk menginap selama itu. Ternyata Vina sedang butuh healing.
"Siapa pria nya?" tanya Rey menghentikan langkah Melvin yang hendak pergi.
"Kita mengenalnya, dia salah satu pengusaha terkenal di Indonesia." Jawab Melvin ambigu.
"Ck, siapa?!" tanya Rey mulai kesal.
"Bapak Pandu Dewandra." Jawab Melvin seketika membuat Rey melotot.
Pria menyebalkan itu, pria yang beberapakali ia lihat dengan beda wanita hendak dijodohkan dengan Vina, si gadis baik dan manis itu.
"Gilak lo, Vin!" sentak Rey seketika membuat Melvin tertawa.
Melvin mendekati Rey, ia menepuk bahu temannya itu pelan.
__ADS_1
"Buktiin kalau lo emang benar-benar cinta sama Vina, gue gak akan ikut campur. Gue juga gak akan sudi sepupu gue dinikahi sama pria hidung zebra kaya pak Pandu." Tutur Melvin memberi kepercayaan.
"Tapi gimana bisa orangtua Vina menjodohkan anaknya sendiri dengan pria seperti Pandu?" tanya Rey tak habis pikir.
"Kekuatan bisnis." Jawab Melvin kemudian segera masuk ke dalam rumah meninggalkan Rey yang masih terdiam.
***
Sementara itu di kamar Vina, Kanaya mendengarkan dengan seksama cerita dari sepupu suaminya, ia juga tampak beberapakali mengusap bahu bergetar Vina yang tampak bimbang dengan pilihan hidupnya.
"Aku gak tahu harus gimana, Nay. Di satu sisi aku sayang Papa dan Mama, aku gak akan tega untuk membantah perintah yang membuat mereka bahagia. Tapi disisi lain aku … aku juga menyukai Pak Rey." Ucap Vina sedikit menjeda ucapannya di akhir kalimat.
Kanaya tersenyum, ia lantas menggenggam tangan Vina dengan erat. Melempar tatapan hangat dan penuh kepercayaan.
"Kamu udah dewasa, Vin. Bahkan aku dan kamu itu lebih tua kamu, aku minta maaf jika aku salah bicara, namun menurutku kamu harus bisa memutuskan berdasarkan hati kamu sendiri." Ucap Kanaya pelan.
"Aku bukan mengajarkan kamu membantah orang tua, ataupun membuang perasaan kamu terhadap Rey. Sebelumnya, apa kamu mengenal pria yang akan di jodohkan dengan kamu, bagaimana sifatnya dan kepribadiannya?" tanya Kanaya memegang bahu Vina.
"Aku pernah bertemu beberapa kali, tapi aku hanya tahu namanya, entah bagaimana sifat dan kekakuannya aku sama sekali tidak tahu." Jawab Vina menghela nafas pelan.
"Lalu Rey, apa selama beberapa hari belakangan bekerja dengannya membuat kamu bisa mengenal Rey?" tanya Kanaya dijawab anggukkan oleh Vina.
"Mungkin aku dan pak Rey baru bertemu juga, tapi entah mengapa aku sudah sangat mengenalnya. Dia pria yang baik, meski sifatnya terlihat seperti cowok genit, tetapi kenyataannya tidak, dia begitu hanya ke beberapa teman dekat, itupun hanya bermaksud bercanda. Pak Rey pria yang humoris, dan selalu siap bersikap konyol demi tawa orang terdekatnya, meski begitu aku sangat tahu bahwa dia sangat dingin kepada orang lain." Jawab Vina dengan jujur.
Kanaya tersenyum. "Sekarang aku harap kamu paham yang mana yang harus kamu pilih, aku hanya memberi saran saja." Tutur Kanaya dengan begitu dewasa.
"Makasih banyak ya, Nay." Ucap Vina dibalas anggukan kepala oleh Kanaya.
BANTU MAS REY WE, KASIAN DIA NANTI JADI JONES LAGI 🤣🤣
BERSAMBUNG.............................................
__ADS_1