
Melvin siap-siap untuk bekerja dengan dibantu oleh Kanaya, mulai dari dasi sampai memasang jas nya, kini penampilan Melvin sudah tampan dan rapi, bahkan Kanaya sejenak terpesona akan ketampanan dari suaminya itu.
Kanaya dan Melvin turun bersama untuk sarapan, mereka sudah ditunggu oleh kedua orangtua mereka.
"Selamat pagi Mi, Pi." Sapa Kanaya lalu menarik kursi untuk duduk.
"Maaf kami membuat kalian menunggu," ucap Melvin seraya membenarkan posisi duduknya.
"Tidak apa-apa, sudah ayo dimakan karena waktu juga semakin siang!" tutur Mami Yuli.
Kanaya mengangguk, ia lalu mengambilkan nasi dan juga lauk pauk untuk suaminya, tak lupa ia pun menuangkan segelas air untuk Melvin.
"Terima kasih." Ucap Melvin disertai senyuman nya.
"Sama-sama." Balas Kanaya.
Kedekatan dan sikap hangat Melvin membuat Mami Yuli bingung, namun tak dapat dipungkiri bahwa ia senang melihatnya. Senyuman Kanaya tampak tulus untuk sang anak.
Berbeda dengan Mami Yuli yang merasa heran, Papi Heryawan justru bersikap biasa saja, ia tahu benar alasan perubahan putranya itu.
Setelah sarapan, Melvin langsung berangkat bersama sang Papi untuk ke kantor. Selama perjalanan tidak ada pembicaraan dari Melvin dan sang Papi karena Melvin yang tampak masih kesal.
"Jadi kamu masih marah dengan Papi?" tanya Papi Heryawan melirik putranya.
"Tidak, Pi. Aku hanya kecewa saja, bagaimana bisa Papi melakukan ini semua padaku." Jawab Melvin seraya tetap fokus menyetir mobilnya.
"Memang apa yang Papi lakukan, perusahaan ayahnya Sesha itu cukup besar." Balas Papi Heryawan mengangkat bahunya.
"Pi, tapi Sesha itu tak henti mendekatiku, dia bahkan terang-terangan mau merusak rumah tanggaku." Tukas Melvin dengan sedikit tinggi.
__ADS_1
"Jadi kau mengakui Kanaya sebagai istrimu?" tanya Papi Heryawan menaikkan kedua alisnya.
"Mengakui atau tidak, kenyataannya Kanaya adalah istriku dan saat ini dia sedang mengandung anakku, Pi." Jawab Melvin membuat Papi Heryawan tertawa kecil.
"Jadi kau mengakui juga anak dalam kandungan Kanaya, bukankah sebelumnya kau menyangkal nya?" tanya Papi Heryawan semakin jadi.
"Hentikan Pi! Aku tidak mau membahasnya lagi!" timpal Melvin dengan kesal.
Papi Heryawan hanya terkikik, ia sudah lelah melihat putranya berlaku semena-mena pada Kanaya, dan lihat apa yang akan dirinya lakukan untuk membuat Melvin sadar.
Sementara Kanaya, ia sudah bersiap untuk pergi ke kampus, kini perutnya sudah mulai terlihat sehingga ia memutuskan untuk memakai pakaian yang sedikit longgar.
"Anak Mama makin sehat ya disini." Celetuk Kanaya mengusap lembut perutnya.
Kanaya meraih tas selempang dan bukunya, ia pergi ke kamar mertuanya untuk berpamitan dan meminta izin pergi ke kampus.
"Mi, Mami didalam?" tanya Kanaya seraya mengetuk pintu kamar mertuanya.
Kanaya segera masuk setelah dipersilahkan, ia membuka pintu dan menghampiri mertuanya yang sedang duduk sambil melihat sebuah kalung.
"Mi, sedang apa?" tanya Kanaya.
"Mami sedang melihat kalung Mami, niatnya Mami mau berikan kepada kamu." Jawab Mami Yuli lalu memperlihatkan kalung berlian di tangannya pada Kanaya.
"Aku, tapi Mi, inikan punya Mami." Ujar Kanaya menunjuk kalung ditangan Mami Yuli.
"Iya benar, tapi kan kamu anak Mami jadi wajar Mami berikan." Timpal Mami Yuli mengusap kepala menantunya.
"Oh iya, kamu kesini mau izin kuliah ya?" tanya Mami Yuli.
__ADS_1
"Iya Mi, aku mau izin ke kampus." Jawab Kanaya mengangguk kecil.
"Ya udah kamu hati-hati, dan sebelum pergi simpan kalung nya dulu ya." Tutur Mami Yuli memberikan kalung pemberiannya.
"Makasih banyak ya Mi." Balas Kanaya lalu memeluk ibu mertuanya.
***
Kanaya sampai dikampus, ia langsung duduk dikelasnya sambil melipat tangan diatas meja. Tak lama Melisa datang dengan dua botol minuman dan camilan di tangannya.
"Halo Naya cantik!!!" sapa Melisa riang.
"Hmmm … Halo Mel." Balas Kanaya lemas.
"Kok lemes bangat, kenapa?" tanya Melisa duduk disebelah Kanaya.
"Kepala aku tiba-tiba pusing." Jawab Kanaya memegangi kepalanya.
"Kamu udah makan, coba nih minum dulu." Tutur Melisa memberikan sebotol air pada Kanaya.
Kanaya menerima minum dari Melisa, ia menenggaknya sedikit lalu kembali memegangi kepalanya, entah mengapa tiba-tiba kepalanya bisa pusing.
"Nay?" panggil Melisa melihat Kanaya diam saja.
"Kepala aku makin sakit Mel." Jawab Kanaya lalu menyandarkan kepalanya di bahu Melisa.
"Aku telepon Kak Melvin ya," ucap Melisa hendak menelpon Melvin tetapi dihentikan Kanaya.
"Enggak, jangan. Lebih baik telepon kak Nadia aja." Cegah Kanaya membuat Melisa hanya bisa mengangguk.
__ADS_1
KANAYA BAWAAN BAYI ADUHH.....
BERSAMBUNG..............................