
"Lo pikir, gue akan biarin lo bahagia gitu aja sama Melvin? Nggak ya, Nay!!" ucap orang itu dengan begitu tajam.
Nadia yang melihat Sesha disana lantas menarik adiknya agar berdiri di belakangnya setelah itu ia menatap Sesha dengan tajam.
"Mau apa lagi lo, masih nggak malu juga lo berusaha rebut suami Adek gue meski udah ditolak?!" tanya Nadia dengan nada tinggi.
"Ih tentu nggak, gue akan ambil apapun yang memang sudah menjadi gak gue dan Melvin itu punya gue!!" jawab Sesha tidak jelas.
"Gak waras lo, Sha." Desis Nadia geleng-geleng kepala tak habis pikir.
"Jadi mau apa lo sekarang hah?!" tanya Nadia dengan tenang namun ubun-ubun nya masih terasa panas.
"Gue mau ngomong sama Kanaya." Jawab Sesha diakhiri senyuman aneh yang entah dapat dilihat oleh Nadia atau tidak.
Kanaya yang mendengar namanya dipanggil lantas berjalan ke sebelah Nadia disusul Vina disebelahnya lagi.
Kanaya maju selangkah mendekati Sesha.
"Ada apa, Kak. Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Kanaya pelan.
"Lo nggak akan bisa bahagia sama Melvin, Nay. Karena apa? Karena gue gak akan biarin gitu aja, lo yang udah bikin rencana gue gagal sejak awal. Andai aja lo gak bermalam sama Melvin waktu itu menggantikan gue, gue pasti udah nikah sama Melvin!" jawab Sesha panjang lebar.
"Itu namanya takdir, Kak. Awalnya aku justru menyesal telah melakukan hal itu dengan suami aku, tapi seiring berjalannya waktu ternyata aku sadar bahwa itu memanglah takdir kami. Kami ada untuk bersama, dan kau seharusnya yang sadar, Kak." Sahut Kanaya tegas namun pelan.
"Kau cantik, pintar dan tajir. Pria mana yang akan menolakmu, jadi berhentilah mengejar SUAMIKU." Lanjut Kanaya menekan kata 'suamiku'.
"Tapi gue maunya sama suami lo, gimana?" tantang Sesha membuat Kanaya menghela nafas sabar.
"Maka teruslah berangan-angan, karena suamiku tidak akan pernah mau berpaling apalagi dengan wanita sepertimu." Balas Kanaya diakhiri senyuman.
Sesha yang mendengar itu tentu tidak terima, ia mencekal lengan Kanaya dengan kuat lalu menghempaskan tubuh Kanaya kasar hingga terjerembab ke lantai.
"NAYA!!!!" teriak Vina dan Nadia bersamaan.
Kanaya meringis memegangi perutnya yang terbentur lantai Mall, aksi gila Sesha tentu disaksikan banyak orang. Namun nyatanya gadis itu tampak biasa saja, ia malah diam sambil menertawakan Kanaya.
"Akhhhh … Kak, perut aku sakit!!!" ringis Kanaya memegangi perutnya.
__ADS_1
"Vin, telepon Melvin." Perintah Nadia dengan tergesa-gesa.
Vina segera menghubungi Melvin, ia tampak gusar karena Melvin tak menjawab panggilannya. Vina beralih menelpon suaminya.
"Halo, Mas." Ucap Vina langsung.
"Kenapa, Sayang?"
"Mas, Mas ke Mall sekarang Mas. Tolong Kanaya, dia …" ucap Vina dengan terbata karena gugup.
"Heyy, tenang Sayang. Disebelah ku ada Melvin, katakan yang jelas. Kita sedang menuju Mall untuk menjemput kalian."
"Tidak ada waktu untuk menjelaskan, cepat datanglah ke Mall A." Timpal Vina kemudian segera menutup teleponnya.
Sesha mendekati Kanaya dan Nadia yang tampak sama-sama khawatir, gadis itu mengeluarkan sebuah belati kecil lalu menggores lengan kiri Kanaya tanpa perasaan.
"SESHA!!!!!" teriak Nadia mengambil belati itu kemudian membuangnya.
Nadia mencekik leher Sesha, Vina yang melihat itu lantas buru-buru memisahkan mereka. Vina takut nantinya akan menciptakan masalah untuk Nadia sendiri.
"Pak, tolong lapor polisi, Pak. Wanita ini gila dan psyhcopat." Ucap Vina pada pengunjung yang ada disana.
"Hiks … Kak, anak aku harus baik-baik saja …" lirih Kanaya meremat pergelangan tangan Nadia.
"SAYANG!!!!" suara teriakan Melvin terdengar begitu jelas di telinga Kanaya.
Ternyata benar apa yang Rey katakan, mereka sudah dijalan dan karena itulah mereka cepat sampai ke Mall.
"Mas, hiks … anak kita, anak kita harus baik-baik aja, Mas." Ucap Kanaya memegang lengan Melvin sambil menangis.
"Kamu dan anak kita pasti akan baik-baik saja," balas Melvin lalu menggendong Kanaya dengan cepat.
Mata Melvin tampak membulat saat melihat noda darah di lantai yang begitu banyak, barulah ia sadar bahwa ada luka di lengan istrinya.
Melvin bersumpah tidak akan membiarkan siapapun yang membuat istrinya begini hidup tenang, ia akan membuat orang itu membayar mahal perbuatannya.
"Kalian bawa Vina ke rumah sakit, aku akan menunggu Reno sekaligus membersihkan ini dulu." Tutur Nadia dengan tergesa-gesa, ia tidak akan membiarkan darah Kanaya tertinggal begitu saja di lantai Mall.
__ADS_1
***
Melvin, Rey dan Vina menunggu dengan khawatir di depan ruang pemeriksaan Kanaya. Vina sudah tampak nangis-nangis karena teringat bagaimana kondisi Kanaya yang hamil besar dan dihempaskan begitu saja oleh wanita bernama Sesha tadi.
"Apa yang terjadi, Sayang. Coba jelaskan," pinta Rey pada istrinya.
"Hiks … Sesha, wanita itu mendorong Kanaya hingga terjerembab ke lantai, bahkan bukan hanya itu, ia juga menggores lengan Kanaya dengan sebuah belati." Jelas Vina dengan terbata karena sesak di dadanya.
"Sesha?" tanya Melvin dengan penuh penekanan.
"Vin, ini sudah keterlaluan. Sejak dulu wanita itu memang terus mengancam istrimu, dan hari ini dia benar-benar membuktikan nya." Ucap Rey pada sang sahabat.
"Hmm, dan aku tidak akan membiarkan dia begitu saja di dalam penjara." Sahut Melvin dengan tangan saling mengepal.
Tak selang beberapa lama, Nadia dan Reno datang dengan tergesa-gesa. Sepasang suami istri itu langsung menghujani banyak pertanyaan.
"Bagaimana Kanaya, bayinya tidak apa-apa, 'kan?" tanya Nadia pada Melvin, Rey dan Vina.
"Dokter masih memeriksa nya." Jawab Vina pelan.
Reno mendekati sahabatnya, ia menepuk bahu Melvin dengan pelan.
"Kau harus kuat demi istri dan anakmu, urusan Sesha kita akan memberinya pelajaran bersama." Tutur Reno yang tidak mendapat balasan dari Melvin yang tampak sedang banyak pikiran.
Pintu ruang periksa Kanaya terbuka, Melvin langsung menghampiri dokter tersebut.
"Bagaimana istri saya, Dok?" Tanya Melvin.
"Nyonya Kanaya mengalami pendarahan berat, dan dengan terpaksa kami harus segera melakukan persalinan agar nyawa bayinya tidak dalam bahaya." Jawab dokter seketika membuat Melvin lemas.
"Tapi istri dan anak saya akan baik-baik saja kan 'dok?" tanya Melvin khawatir.
"Kita serahkan semuanya kepada Tuhan, Pak." Jawab dokter kemudian pergi untuk mempersiapkan peralatan untuk Kanaya.
Kanaya yang berbaring di atas brankar keluar dengan didorong oleh dua orang suster, Melvin mendekati Kanaya yang masih belum sadarkan diri dan menggenggam tangan istrinya. Ia mencium kening Kanaya sebagai pengantar kekuatan bagi istrinya.
SEMOGA IBU DAN ANAKNYA BAIK-BAIK YA😭😭
__ADS_1
BERSAMBUNG...............................................