
Semenjak kejadian hari itu, kini Kanaya selalu ikut suaminya ke kantor, bukan karena Kanaya ingin, namun Melvin yang memaksa dirinya dengan alibi rindu anak dalam kandungannya.
Saat ini, Kanaya tengah duduk di ruangan Melvin, menunggu suaminya yang sedang mengadakan rapat, katanya sih 1 jam, namun ternyata di kalikan 3, benar-benar membosankan.
"Dek, kabur aja yuk! Tapi nanti Papa nyariin ya," celoteh Kanaya namun masih berpikir.
"Haduhhh … Mama bosan!" Lanjut Kanaya beranjak dari duduknya dan menghentak kakinya keras.
Tak selang beberapa lama, pintu ruangan Melvin terbuka, mata Kanaya berbinar karena berharap bahwa Melvin lah yang datang, namun nihil karena ternyata yang datang adalah wanita yang ingin merebut Melvin darinya.
"Kau, mau apa kau kesini?" Tanya Kanaya dingin.
"Oh … kau berani sekali bicara dengan nada seperti itu padaku, kau pikir dirimu siapa?" Tanya Sesha menantang.
"Aku siapa? Aku istri Pimpinan mu." Jawab Kanaya bangga.
Sesha merasa kesal, ia lantas mencekal lengan Kanaya cukup keras membuat Kanaya kesakitan namun tak merintih.
"Aku bisa saja menyakitimu jika aku mau, bahkan aku bisa melukai anak dalam kandunganmu itu." Desis Sesha seraya menunjukkan sebuah belati kecil namun tampak begitu tajam.
Mata Kanaya membesar, ia berusaha untuk bersikap biasa meskipun sejujurnya ia agak takut. Kanaya tersenyum, ia memegang tangan Sesha tak kalah kuat.
"Lepas!" Ujar Kanaya menepis kasar tangan Sesha yang apik mencekal lengan nya.
"Seharusnya aku yang berkata begitu, kau masih ada di perusahaan ini adalah karena aku, andai saja aku mau, pasti Melvin akan menurutinya untuk memecatmu." Tekan Kanaya membuat wajah Sesha semakin pucat.
Sesha mengepalkan tangannya, ia hendak memukul Kanaya, namun pandangan biasa dan senyuman di wajah Kanaya membuatnya merasa rendah.
"Tunggu saja pembalasan dariku!" Seru Sesha lalu membalik badan hendak pergi.
__ADS_1
"Tunggu, Sesha!" Cegah Kanaya saat Sesha hampir menyentuh gagang pintu.
Sesha mengentikan langkahnya tanpa membalik badan menghadap Kanaya, ia berusaha untuk menahan kekesalannya saat ini.
"Kau seorang wanita, kau pasti bisa merasakan bagaimana rasanya saat pria yang kita cintai ingin direbut dari kita. Jadi, daripada mengejar suami orang, akan lebih baik kau mencari pria lain diluar sana." Ucap Kanaya dewasa.
"Berhentilah mengejar SUAMIKU." Lanjut Kanaya menekan kata 'suamiku'.
Sesha mengerem kesal, ia segera keluar dari ruangan Melvin dengan kekalahan, padahal awalnya ia berencana ingin mengancam Kanaya, tetapi nyatanya kini wanita itu sudah berubah menjadi wanita yang berani.
Sementara itu Kanaya, ia menghela nafas lalu mencepol rambutnya asal, ia benar-benar merasa haus sekali setelan beradu mulut dengan Sesha.
"Kita keluar aja yuk, Dek. Beli minum sebentar, Papa kamu pasti masih lama diruang rapatnya." Ucap Kanaya hendak keluar namun sudah keburu kedatangan Melvin.
"Sayang, kamu udah balik?" Tanya Kanaya memundurkan langkahnya.
"Iya, lama ya. Maaf Sayang, tadi banyak banget yang dibahas, ucap Melvin lembut.
"Sayang, mereka kenapa disini?" Tanya Kanaya menatap para karyawan yang ada didepan ruangan Melvin.
"Entahlah, mungkin mereka ada urusan denganmu." Jawab Melvin lalu memeluk istrinya tanpa peduli banyak karyawan disana.
Kanaya mendesis, ia segera melepaskan pelukan Melvin lalu berjalan dua langkah mendekati karyawan suaminya itu.
"Masuklah, kenapa disana?" Tutur Kanaya dengan lembut.
Kelima karyawan yang terdiri dari 2 wanita dan 3 laki-laki itu lantas melangkah masuk ke dalam ruangan Melvin.
"Bu Kanaya, sebenarnya kami ingin meminta maaf atas kejadian hari itu dan kami juga sangat menyesal telah melakukannya." Ucap salah satu karyawan wanita mewakili.
__ADS_1
"Tolong jangan pecat kami, Nyonya." Pinta nya lagi.
Kanaya mengerutkan keningnya, ia lalu menatap Melvin yang tampak mengangkat kedua sisi bahunya.
Kanaya kembali menatap karyawan Melvin, terlihat sekali banyak penyesalan dan ketakutan dimata karena pekerjaan mereka saat ini berada diujung tanduk.
"Lanjutkan pekerjaan kalian, selama perkejaan kalian bagus, perusahaan tidak mungkin memecat kalian." Ucap Kanaya memerintah.
"Bu, apakah itu artinya anda telah memaafkan kami?" Tanya seorang pria tampak senang.
"Ya, tentu saja. Jadi lanjutkan pekerjaan kalian sebelum perusahaan benar-benar memecat kalian karena lalai dalam bekerja." Jawab Kanaya dibarengi candaan.
"Terima kasih banyak, Bu, Pak. Kami permisi dulu," pamit kelimanya lalu pergi dari ruangan Melvin.
Setelah kepergian karyawan nya, Melvin bangun dari duduknya lalu memeluk tubuh mungil istrinya dari belakang. Ia meletakkan kepalanya di bahu Kanaya dengan tangan yang telah apik mengusap perut istrinya.
"Kamu nunggu lama banget ya, jadi mau beli sesuatu gak?" Tanya Melvin menawarkan.
"Haus, mau beli minuman yang seger." Jawab Kanaya mengusap pergelangan tangan Melvin lembut.
"Tapi nanti malam jatah aku kan, 'ya?" Tukas Melvin menaik turunkan alisnya saat Kanaya menatapnya tajam.
"Enggak! Selama 3 hari ini kamu minta jatah terus, seharusnya kan kamu lagi di hukum." Tolak Kanaya tegas.
"Ya itu kan karena aku tahu bahwa kamu pengen." Timpal Melvin membuat Kanaya melotot.
"Mana ada! Kamu tuh yang pengenan, gak bisa liat istrinya tenang, meleng sedikit aja udah disikat." Balas Kanaya tak terima.
"Ya tapi kan kamu juga suka, ketagihan malah." Tukas Melvin mendapat pukulan reflek dari istrinya.
__ADS_1
NEXT EPS PANAS WE😭🤣🤣
BERSAMBUNG.............................................