
Rey tampak menggenggam tangan Vina dengan begitu erat, setelah kemarin perdebatan dan kesepakatan bersama orangtua gadisnya, ia memutuskan untuk cepat-cepat meminang gadis itu. Sebelum mengambil keputusan, Rey tentu membutuhkan persetujuan dari kedua orangtuanya.
Rey dan Vina baru saja sampai di rumah kediaman keluarga Dewari, atau lebih tepatnya adalah rumah keluarga Rey. Keduanya saling bergandengan tangan sebelum masuk ke dalam.
"Ada apa?" tanya Rey saat merasakan genggaman tangan Vina mengerat dan langkah gadis itu terhenti.
"A-aku takut keluarga kamu tidak menyukaiku." Jawab Vina gugup.
Rey tersenyum manis, ia lantas mengusap puncak kepala Vina dengan sayang.
"Nggak kok, Sayang. Keluarga aku bukan orang yang pemilih, mereka akan menerima gadis manapun asalkan dia baik dan aku mencintainya." Tutur Rey menjelaskan.
"Tapi aku bukan gadis baik, aku hanya gadis yang dijual oleh orangtuanya." Lirih Vina menundukkan kepalanya.
"Nggak, Sayang. Kamu gadis baik dan aku sangat mencintaimu," balas Rey dengan riang, berusaha mengusir ketidaknyamanan yang dirasakan kekasihnya.
Rey mengangkat wajah Vina yang sejak tadi menunduk, ia menatap manik mempesona miliki Vina. Tatapan mata Rey beralih ke bibir yang terpoles lipglos pink, entah mengapa ia sangat terpesona melihatnya.
Wajah Rey perlahan mendekat, ia bahkan sudah memejamkan matanya membuat Vina yang terhipnotis ikut memejamkan matanya. Bibir keduanya hampir saja menempel, namun sebelum itu tarjadi, Rey sudah merasakan panas ditelinga nya.
"Nah, bagus kamu ya!!!" tegur Mama Dina, ibunda Rey.
"Awww … Mama sakit, Ma. Kuping Rey putus, Ma!!!" ringis Rey berusaha melepaskan jeweran sang Mama yang tiada tanding.
"Biarin aja, siapa suruh anak orang main sosor!" ketus Mama Dina.
__ADS_1
"Yailah, Ma. Calon istri ini, lagian Mama bahasanya sosor, emangnya aku soang!" protes Rey seraya mengusap telinganya.
Sementara Vina hanya bisa menahan tawa, kini ia tahu darimana sifat baik dan humoris yang dimiliki pria itu, ternyata keluarganya memang satu golongan. Rey sangat beruntung memiliki orangtua yang baik.
"Cantik, ayo masuk." Ajak Mama Dina dengan lembut.
Vina menoleh ke arah Rey yang menganggukkan kepalanya. Ia benar-benar tak menyangka akan disambut baik oleh keluarga kekasihnya.
"Wah cantiknya, inikah gadis yang buat anak kita ngebet nikah, Ma?" tanya Papa Ari, ayah Rey.
"Iya dong, Pa. Kenalin nih, Vina si cantik kesayangan Rey!" jawab Rey dengan bangga seraya merangkul mesra bahu Vina.
Vina hanya diam saja, ia benar-benar malu diperlakukan begitu oleh Rey. Ia menyalami tangan Mama dan Papa Reno bergantian, bodoh sekali ia lupa tadi.
"Om, Tante. Perkenalkan, saya Vina. Sekretarisnya Pak Rey," ucap Vina memperkenalkan diri.
"Pah, mereka ini memang harus buru-buru dinikahkan. Tadi Mama lihat si Rey main sosor aja, untung Mama datang." Adu Mama Dina pada suaminya.
"Wahh harus dipertahankan, Rey. Papa juga dulu gitu," sahut Papa Ari yang ternyata sama gesreknya dengan Rey.
"My Papa is my bestie." Celetuk Rey membuat Mama Dina menepuk keningnya.
Mama Dina lantas merangkul calon menantunya, ia mengajak Vina menjauh sebelum terkontaminasi oleh anak dan ayah yang sama-sama aneh itu.
"Meraka emang gitu, Vin. Maklum aja ya," ucap Mama Dina seraya menarik kursi meja makan untuk Vina.
__ADS_1
"Tante mohon maaf, tapi apakan Tante sudah tahu tentang orangtua saya yang--" ucapan Vina terhenti saat Papa Ari datang bersama Rey.
"Kami tahu, Vin dan kami tidak peduli karena yang akan menikah dengan Rey itu kan kamu dan bukan orangtua kamu, dan kami sangat percaya pada pilihan Rey." Potong Papa Ari membuat Vina tampak terkejut sekaligus senang.
"Benar, Vin. Kami memang sempat terkejut, dan maaf Tante harus mengatakan bahwa orangtua kamu bodoh karena rela menukar anaknya yang cantik dan baik ini hanya demi saham perusahaan." Tambah Mama Dina jujur.
Vina menundukkan kepalanya, ia bukan tersungging oleh ucapan Mama Dina, ia justru malu karena kebaikan keluarga Rey padanya.
"Sayang, jangan dipikirkan ya. Yang terpenting adalah kamu selalu bahagia," bisik Rey menggenggam tangan Vina erat.
"Papa dan Mama sudah putuskan bahwa pernikahan kamu dan Vina akan digelar bersama dengan pernikahan Reno dan Nadia." Ucap Papa Ari tiba-tiba.
"Apa, tapi apakah Reno dan Nadia setuju?" tanya Rey terkejut.
"Tentu saja, bahkan mereka sangat bahagia." Jawab Mama Dina menyahut.
Rey yang mendengar itu lantas menggebrak meja saking bahagianya, ia lantas mengajak Vina beranjak dari duduknya lalu tanpa aba-aba langsung menggendong gadis itu.
"Pak Rey!!" pekik Vina terkejut.
"Yesss …. Akhirnya mau punya istri!!!!!!" Teriak Rey seraya memutar Vina dalam gendongannya.
"Anak kamu tuh!" celetuk Mama Dina terkekeh.
"Anak kita loh, Sayang." Sahut Papa Ari ikut terkekeh melihat kelakuan putranya.
__ADS_1
CIEEE YANG MAU NIKAH🤣🤣🤣
BERSAMBUNG..................................................