
Tubuh Vina tampak gemetar melihat kedatangan kedua orangtuanya ke rumah keluarga Melvin, terlebih lagi saat mendengar alasan kedatangan mereka yang hendak menjemputnya karena hari pernikahan sudah semakin dekat.
Kedua orangtua Vina ingin anaknya pulang agar bisa mengenal lebih jauh siapa calon suaminya, namun dengan tegas Vina menolaknya, dia sudah memiliki pilihan sendiri.
"Vina, kenapa kamu jadi membantah kami?" tanya Toni, ayah Vina.
"Toni, apa kau yakin akan menjodohkan anakmu dengan Pandu, kita semua tahu bagaimana sifat pria itu." Ujar Papi Heryawan ikut nimbrung.
"Aku sangat yakin, Mas. Lagipula pernikahan ini akan menguntungkan bagi perusahaanku, kami bisa sama-sama berkembang pesat bersama." Jawab Toni dengan pasti.
"Tapi kebahagiaan anak nomor satu kan, Pak?" tanya seseorang diambang pintu.
Rey. Orang itu adalah Rey yang datang setelah Melvin memberitahu bahwa orangtua Vina akan membawa kekasihnya itu pergi.
"Pak Reynan, anda disini?" tanya Toni tampak terkejut melihat pengusaha yang juga hampir sama terkenalnya dengan keluarga Atmadja.
"Tentu, saya harus disini." Jawab Rey mengangguk pasti.
"Pak Rey." Panggil Vina pelan membuat Rey langsung tersenyum dan mengangguk sebagai jawaban bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Baiklah, Pak Toni. Saya akan langsung ke intinya saja, alasan saya datang malam-malam ke rumah Melvin ini itu untuk menemui kalian." Ucap Rey langsung.
"Menemui kami, untuk apa?" tanya Liana, Mama Vina.
"Saya mencintai putri kalian, bahkan saya berniat untuk menikah dengannya." Jawab Rey dengan sopan.
"Maaf, Pak Rey. Vina sudah dijodohkan, dia juga akan segera menikah." Pungkas Liana membuat Rey menghela nafas.
"Tapi pernikahan itu belum terjadi, saya masih bisa merebut Vina dari pria itu, pria yang kalian akan jodohkan dengan Vina bukan pria baik-baik. Bagaimana bisa kalian menyerahkan putri kalian begitu saja hanya demi kekuatan bisnis. Kalian tega memberikan beban seumur hidup pada Vina." Ucap Rey panjang lebar.
"Maaf sekali, Pak Rey. Tetapi anda tak bisa ikut campur dalam masalah ini, ini adalah masalah keluarga kami, lagipula Vina menerimanya." Celetuk Toni sedikit tidak enak.
__ADS_1
"Nggak, Pa. Aku gak mau nikah sama pria itu, dia tukang selingkuh, Pa. Bagaimana jika nantinya aku hanya akan dijadikan pelampiasan saja?" tolak Vina dengan tegas.
"Vina!!!" bentak Toni mendengar penolakan putrinya.
"Om," tegur Melvin merasa tak suka mendengar bentakan pada sepupunya itu, terlebih lagi ini rumahnya.
"Liana, jangan keras kepala. Kalian tergiur akan tawaran kekuatan bisnis, bagaimana jika itu sampai gagal sementara putri kalian sudah terlanjut menderita bersama pria itu." Ucap Mami Yuli berusaha menasehati adiknya.
"Maaf, Mbak. Tapi ini sudah menjadi keputusan kami, kami yakin Pandu tak akan menyakiti Vina!" balas Liana dengan begitu yakin.
"Ibu dan Bapak Toni yang terhormat, saya benar-benar tidak tahu harus menjelaskan dengan apa. Tapi bukankah dengan melakukan ini kalian sama saja menjual Vina?" tanya Rey yang mulai kehabisan kesabaran.
"Katakan saja begitu." Jawab Toni tanpa disangka.
"Papa!!" Kejut Vina mendengar jawaban enteng Papanya.
"Om, maaf. Tapi bagaimana anda bisa mengatakan itu dengan mudah, menjual putri anda?" tanya Kanaya yang sejak tadi diam.
"Kau tidak tahu apa-apa jadi diamlah." Jawab Toni dengan sedikit tinggi.
"Pak Toni, sesuai yang anda katakan bahwa anda menjual putri anda Vina. Maka saya yang akan membelinya, berapa yang harus saya bayar?" tanya Rey sedikit sakit, ia terpaksa harus mengatakan itu, sejujurnya Rey tak ingin mengatakan 'beli' karena ia tulus mencintai Vina.
"Saya tidak butuh uang Anda." Jawab Toni dengan sombong.
"Cukup!!!" Teriak Vina bangkit dari duduknya.
"Aku bukan barang sehingga kalian bisa bernegosiasi tentang harga, aku juga manusia dan punya perasaan. Kalian tega sekali!!" ucap Vina kemudian segera berlari ke kamar nya sambil menangis.
Kanaya yang melihat itu lantas buru-buru menyusul Vina, ia khawatir akan keadaan gadis itu yang pasti merasa hancur dengan apa yang diterimanya.
Kanaya mengetuk pintu kamar Vina, tak mendapat jawaban lantas membuat Kanaya langsung masuk, beruntung pintunya tidak terkunci.
__ADS_1
"Vin." Panggil Kanaya pelan.
"Hiks … kenapa semuanya tega padaku, bahkan Pak Rey!" lirih Vina seraya menyeka air matanya kasar.
"Vin, Rey melakukan itu demi kamu, aku yakin dia bukan berniat menganggap kamu sebuah barang, dia hanya ingin kamu lepas dari pria itu dan kecaman orang tua kamu yang entah mengapa bisa bersikap demikian." Jelas Kanaya dengan penuh pengertian.
"Aku tahu, Nay. Tapi entah mengapa hati aku sakit dengarnya," balas Vina kemudian menangis tersedu-sedu membuat Kanaya langsung memeluknya.
Sementara itu di ruang tamu, Rey masih terlihat berdebat santai dengan orangtua Vina. Andai kata mereka bukan orangtua dari gadis yang ia cintai, ia pasti sudah menghajarnya.
"Om, jika kau mau membiarkan Vina bahagia dengan pilihannya. Maka bukan hanya perusahaan saya yang akan mau bekerja sama, tetapi juga perusahaan Atmadja dan perusahaan Pramudya." Ucap Rey yakin, sebelum mengatakan itu ia tentu sudah berdiskusi dengan Melvin dan Reno melalui telepon.
Wajah kedua orangtua Vina tampak berbinar, siapa yang tak mau bekerjasama dengan tiga perusahaan besar itu. Bahkan perusahaan Pandu tidak jauh lebih besar dari perusahaan Rey, hanya saja mereka memanfaatkan untuk mendapatkan lebih.
"Baik, Vina putri kami bisa menikah dengan mu asal kau menepati janji mu." Balas Toni dengan yakin.
"Tentu saja, tapi saya merasa kasihan pada Vina karena memiliki orangtua tamak dan tak berperasaan seperti kalian." Sarkas Rey memutar bola matanya jengah.
"Kami tidak peduli," balas Liana membuat Mami Yuli menatapnya tak percaya.
"Mbak gak nyangka kamu punya sifat seperti ini, Liana. Kamu tidak mencerminkan apa yang telah diajarkan orangtua kita, Mbak benar-benar malu dengan sikap kamu." Ungkap Mami Yuli menatap adiknya dengan tatapan tak menyangka.
"Aku tidak peduli, Mbak." Balas Liana acuh.
"Pergilah dari rumahku, orang-orang seperti kalian tidak pantas berada ditengah-tengah kami!" Usir Papi Heryawan.
"Baiklah, Mas. Kami pergi, kami serahkan Vina asal janji pria ini ditepati." Ucap Toni bangkit dari duduknya.
"Anda jangan khawatir." Sahut Rey tanpa menatap calon ayah mertua nya itu.
ORANGTUA VINA KETERLALUAN YA, ANAKNYA SAYANG BANGET TAPI MEREKA MALAH TAMAK😤😤
__ADS_1
BERSAMBUNG...............................................
Btw, aku udah sekolah lagi. Gak janji update lebih dari satu karena pulangnya tuh mau magrib, biasanya langsung molor 😭 tapi aku usahain guys 😘