
Mami Yuli tampak melempar tatapan tajam dan penuh kebencian pada wanita yang justru terlihat biasa saja setelah melakukan kejahatan. Sejak tadi Mami Yuli berusaha untuk sabar tak menampar wajah wanita didepannya ini.
Sementara Melvin, ia sudah ditahan oleh kedua sahabatnya, mereka tahu bahwa Melvin bisa saja lepas kendali dan berakhir membunuh wanita itu tanpa peduli.
"Bagaimana istrimu, Vin. Apakah sudah mati?" tanya Sesha seraya memainkan jarinya dengan santai.
"Atau dia masih baik-baik saja, apa aku kurang mendorong nya, atau anak kalian yang tiada?" Lanjut Sesha tersenyum menang.
Melvin mengeraskan rahangnya, ia benar-benar tak bisa menahan emosi dan berakhir menepis tangan kedua sahabatnya.
"Kau gila!! Berani sekali kau berbuat begitu pada Kanaya?!!!" cecar Melvin menunjuk Sesha dengan tidak santai.
"Begitu bagaimana, bukankah itu bagus? Sejak awal pernikahan kalian memang tidak berdasarkan cinta, andai saja malam itu aku tidak memberimu obat, maka kalian tak akan pernah menikah." Timpal Sesha beranjak dari duduknya dan mensejajarkan wajahnya dengan Melvin.
"Kanaya itu wanita miskin, dia dan kakaknya itu hanya ingin memanfaatkan kekayaan keluargamu. Dia wanita murahan yang langsung mau saat kau menyeret nya ke dalam kamar dan berakhir hubungan terlarang itu." Ujar Sesha panjang lebar.
Mami Yuli menggebrak meja di depannya, ia menggeser posisi Melvin hingga kini dirinya lah yang berada di depan Sesha.
Emosi Mami Yuli tampak sudah meletup-letup, ia mengangkat tangan dan tepat sekali mengenai wajah Sesha hingga wanita itu oleng dan hampir saja terjerembab ke lantai jika tak berpegangan pada meja.
"Kau menyebutku menantuku murahan, lalu bagaimana denganmu?" tanya Mami Yuli.
"Apakah kau sejelek itu sampai tak ada yang mau denganmu dan berakhir mengejar putraku yang statusnya sudah beristri?" tanya Mami Yuli lagi diakhiri tawa remeh.
"Tante, aku anggap tamparan mu ini sebagai sebuah kasih sayang mertua untuk menantunya." Celetuk Sesha bagai orang tidak waras.
__ADS_1
"Sesha, kau benar-benar sudah gila!!" desis Reno menatap jijik kepada Sesha.
"Setidaknya aku tidak lebih gila dari istrimu." Sahut Sesha terkekeh pelan.
"Anj--" Umpatan Reno terhenti karena Rey menahan tangannya.
Mami Yuli tiba-tiba mencengkram rahang Sesha dengan penuh tenaga, ia menatap tajam wanita yang sebenarnya tampak takut namun berusaha biasa saja.
"Bagaimana caramu menyakiti menantuku? Dengan mendorongnya hingga kritis dan menggores lengan nya dengan sebuah belati?" tanya Mami Yuli lalu menghempaskan wajah Sesha begitu saja.
"Aku turut bahagia mendengar bahwa Kanaya kritis, Tante." Celetuk Sesha seketika membuat Melvin tak tahan lagi.
Ia mendekati Sesha dan langsung menampar wajah wanita itu dengan keras, Papi Heryawan langsung menahan putranya yang bisa saja menghabisi wanita itu.
Sementara Sesha yang sudah terjerembab ke lantai hanya bisa diam, tamparan Melvin terasa lebih sakit dari Mami Yuli, bahkan sudut bibirnya sampai mengeluarkan darah.
"Maaf, Pak. Bu. Silahkan pergi, jangan membuat keributan di kantor polisi." Ucap seorang polisi yang melihat keributan itu.
"Om, Tante. Lebih baik kita pergi, ayo!" ajak Rey pada semuanya.
Sebelum pergi Melvin melempar tatapan tajam dan penuh kebencian itu pada Sesha yang ternyata sudah dipegangi oleh polisi.
"Aku bersumpah akan membuatmu memilih kematian atas hukuman yang kau terima Sesha, jika istriku benar-benar tak baik-baik saja, maka tanganku sendiri yang akan membunuhmu." Tekan Melvin kemudian segera pergi.
***
__ADS_1
Melvin dan yang lain kembali ke rumah sakit, Melvin sangat berharap Nadia dan Vina memberi kabar bahwa istrinya sudah sadar, namun sepertinya saat ini belum waktunya. Kanaya masih belum sadar dan masih dalam kondisi yang kritis.
"Mi, aku tidak akan bisa hidup tanpa Kanaya." Lirih Melvin menatap nanar pintu tempat Kanaya dirawat.
"Kenapa kamu bicara begitu, Mami yakin bahwa Kanaya akan baik-baik saja." Tutur Mami Yuli mengusap punggung putranya.
"Vin, gue yakin Kanaya akan baik-baik aja dan bisa memberikan asi serta kasih sayang nya untuk anak kalian hingga besar." Timpal Nadia yang mendengar suara Melvin.
"Tapi Kanaya masih kritis," bisik Melvin seraya memegangi dadanya yang berdenyut sakit.
"Setelah melewati masa kritisnya, kita yakin bahwa Kanaya akan sadar dan langsung minta peluk sama lo." Ujar Rey menepuk bahu Melvin pelan.
Mendengar ucapan Rey seketika membuat Melvin teringat, biasanya sore hari seperti ini, istrinya itu akan menyambutnya pulang dengan senyuman merekah dan tangan terbuka lebar minta untuk dipeluk.
Mata Melvin terasa panas, meski begitu bibirnya tetap membentuk seulas senyuman mengingat bagaimana tingkah lucu dan menggemaskan Kanaya yang selalu membuatnya tak tahan untuk mencium atau bahkan mengigit pipi chubby istrinya.
"Mas."
Melvin merindukan panggilan itu, ia rindu Kanaya memeluk dirinya sehabis mandi atau hendak tidur. Rindu mencium kening Kanaya yang dibalas usapan lembut di dadanya.
"Sayang, aku rindu. Aku mohon cepatlah sadar, aku dan anak kita menunggu." Batin Melvin memejamkan matanya dan berharap bisa melihat senyuman istrinya yang manis saat ia membuka mata nanti.
KALO SAD END SIH KAYAKNYA AKU NGGAK KUAT😭
BERSAMBUNG....................................................
__ADS_1