
Kanaya, Melvin bersama yang lainnya sedang berkumpul bersama untuk makan malam. Sudah lama tidak berkumpul karena Kanaya yang sibuk mengurus baby Daffin dan akhirnya hari ini terpaksa Kanaya menitipkan anaknya pada Mami Yuli.
Sambil menunggu pesanan datang, mereka asik berbincang diselingi sedikit pembahasan soal pekerjaan yang mana membuat para istri kesal.
"Kalian kalau mau bahas kerjaan jangan disini deh, mending sana balik kantor!" tegur Kanaya sewot.
Melvin merengkuh pinggang ramping istrinya, ia mencium kening istrinya gemas lalu menarik hidung mancung Kanaya.
"Ngambek aja ih Mama Naya, kan cuma sedikit aja bahas kerjaannya." Sahut Melvin terkekeh.
"Ya tetap aja, nggak suka kalau kumpul gini bahas kerjaan!" sewot Kanaya membuat Melvin langsung menarik istrinya ke dalam pelukannya.
"Nah kan ngambek tuh Mama Naya nya, kalian sih reseh!" celetuk Vina menatap suami dan kedua temannya.
"Lah kok jadi ke aku, tadi Reno sama Melvin loh Sayang, bukan aku." Sahut Rey tak terima.
Vina tak menjawab lagi, ia hanya geleng-geleng kepala dan mendengus mendengar jawaban suaminya.
"Yaudah iya, nggak bahas kerjaan lagi." Ucap Reno lalu menatap istrinya yang tampak tak nyaman.
Reno menggenggam tangan Nadia membuat wanita itu langsung menatapnya balik.
"Kenapa hmm?" tanya Reno pelan.
Nadia tersenyum. "Nggak apa-apa, Sayang." Jawab Nadia.
Kanaya memperhatikan kakaknya dengan tatapan bingung, wajah Nadia tampak pucat bahkan di ruangan yang dingin seperti ini Nadia tampak berkeringat.
"Kak, kau tidak apa-apa?" tanya Kanaya khawatir.
Nadia memejamkan matanya lalu mengangguk dan berusaha tersenyum paksa.
"Nggak, Nad. Muka kamu pucat, kamu sakit ya?" tanya Vina ikut memperhatikan.
"E-enggak, aku baik-baik aja kok." Jawab Nadia menggeleng pelan.
"Ren, lo nggak apa-apain istri lo, 'kan?" tanya Melvin menatap sahabatnya tajam.
"Gila lo, emang gue gak waras sampai nyakitin istri!" sahut Reno tak terima.
"Sstttt … udah, aku nggak apa-apa, mungkin cuma perasaan kalian aja. Wajah aku cantik kok," tukas Nadia melerai.
__ADS_1
Tak lama pesanan mereka datang. Nadia tampak semakin tak nyaman dengan bau yang menyeruak dari makanan yang dipesan nya.
"Uwekk …" Nadia buru-buru menutup mulutnya saat mual tiba-tiba menyerang.
Reno dan yang lain tentu menatap Nadia dengan tatapan terkejut mendengar suara mual Nadia. Terutama Reno sebagai suaminya.
"Sayang, kamu benar tidak apa-apa?" tanya Reno khawatir.
"Aku permisi ke toilet." Pamit Nadia buru-buru lalu langsung beranjak dari duduknya.
Kanaya ikut beranjak dari duduknya lalu mengikuti sang kakak ke arah toilet. Sampai disana, Kanaya mendengar Nadia yang mual-mual.
"Kak, are you okay?" tanya Kanaya memijat tengkuk kakaknya.
"Kepala aku pusing dari kemarin, dan tadi saat cium bau seafood mendadak mual." Jawab Nadia jujur.
"Mending kita ke dokter ya, Kak. Aku takut ada apa-apa," ajak Kanaya tampak begitu khawatir.
Nadia tak menjawab, tiba-tiba rasa pusingnya semakin terasa. Nadia meremat rambutnya sendiri, pandangannya mulai kabur sebelum akhirnya jatuh di lantai kamar mandi yang dingin itu.
"Kakak!!!!" teriak Kanaya terkejut melihat Nadia yang tak sadarkan diri.
"Mas, Mas Kak Nadia pingsan!" ucap Kanaya seketika membuat semuanya bangkit dari duduknya.
Reno langsung berlari menuju toilet saat mendengar ucapan adik iparnya. Sesampainya di toilet, ia terkejut melihat istrinya tak sadarkan diri.
"Sayang, sayang buka mata kamu, hei! Kamu kenapa!" ucap Reno sambil menepuk-nepuk pipi istrinya pelan.
Reno menggendong tubuh istrinya, ia berlari keluar dari toilet dan keluar dari restoran menuju mobilnya. Di belakangnya ada Melvin dan Rey yang juga sudah membawa mobil masing-masing.
"Hiks … Kak Nadia kenapa, Mas. Kak Nadia akan baik-baik aja kan?" tanya Kanaya sambil menangis.
"Iya, Sayang. Kamu tenang, Nadia pasti baik-baik aja," jawab Melvin berusaha menenangkan istrinya.
Sementara itu di mobil Rey, Vina tampak tak kalah khawatir terlebih lagi ingat bahwa wajah Nadia yang pucat dan tampak tak nyaman saat duduk. Seperti menahan sesuatu.
"Mas, Nadia nggak apa-apa kan?" tanya Vina gugup.
"Ssstt … kamu jangan khawatir, jangan stress Sayang nanti bayi kita ikut merasakannya." Tutur Rey mengusap tangan istrinya.
Sesampainya di rumah sakit, Nadia langsung ditangani oleh dokter. Reno menunggu di depan ruangan seperti orang gila, mondar-mandir sambil menjambak rambutnya sendiri. Ia merasa gagal menjaga istrinya, sampai saat Nadia sakit begini ia tak menyadarinya.
__ADS_1
"Gue suami yang buruk, gue sampai nggak tahu jika Nadia sakit!!" lirih Reno duduk sambil menundukkan kepalanya.
Melvin menghampiri sahabatnya, ia menepuk bahu Reno pelan. "Nggak gitu, Ren. Kita harus yakin bahwa Nadia baik-baik aja," tutur Melvin berusaha membuat sahabatnya tenang.
"Yang Melvin ucapkan itu benar, Ren. Lo harus tenang, kita semua yakin Nadia baik-baik aja." Sahut Rey ikut duduk disebelah Reno.
Sementara Kanaya dan Vina masih tampak mondar-mandir di depan ruang periksa Nadia. Sampai hampir 15 menit akhirnya ruangan itu terbuka.
"Dokter, bagaimana keadaan istri saya?" tanya Reno langsung saat dokter keluar.
"Jangan khawatir, Pak. Kondisi seperti ini memang wajar bagi ibu hamil," jawab Dokter seketika membuat semuanya melongo.
"Kakak saya hamil, Dok?" tanya Kanaya dianggukki oleh dokter.
"Usia kandungannya memasuki Minggu ke 7, namun saya harus mengatakan bahwa kandungan Nyonya Nadia tampak lemah, jadi jangan buat dia stress apalagi tertekan." Jawab dokter menjelaskan.
Reno yang awalnya khawatir kini berganti tersenyum, ia menatap ruang periksa istrinya lalu segera menerobos masuk. Tampaklah Nadia yang sudah membuka matanya sambil tersenyum lemah.
"A-aku hamil, Ren. Akhirnya kita akan punya anak," lirih Nadia seraya membuka tangannya bermaksud minta dipeluk.
Reno segera menghampiri istrinya, memeluk dan menciumi seluruh wajah Nadia dengan sayang. Tanpa sadar, pria yang biasanya bersikap dingin itu mengeluarkan air mata karena terharu akan kabar yang didapatkannya.
"Terima kasih, Sayang." Bisik Reno semakin mengeratkan pelukannya.
Nadia menggelengkan kepalanya, ia pun tak kalah menangis. Akhirnya ia bisa hamil, memang usia pernikahan mereka masih terhitung baru, tetapi Nadia tahu bahwa suaminya memang sudah memiliki anak. Dan akhirnya ia akan bisa mewujudkan keinginan Reno.
"Aku yang makasih, kamu selalu bilang bahwa kamu nggak paksa aku untuk hamil, tapi aku tahu Sayang bahwa sejujurnya kamu sangat menginginkan anak." Balas Nadia mengusap wajah tampan Reno.
Reno terdiam sesaat, namun tak lama ia langsung mencium kening turun ke bibir dengan cepat.
"Mungkin aku memang ingin, tapi aku benar-benar nggak mau paksa kamu karena aku cinta sama kamu itu tulus. Lupakan saja, sekarang kita akan fokus pada kehamilan kamu," tutur Reno dianggukkan oleh Nadia.
Tak lama yang lain ikut masuk dan mengucapkan selamat atas kehamilan Nadia. Kini ada dua orang ibu hamil yang sama-sama cantik dan sama-sama disayangi oleh suami mereka.
"Jadi baby Daffin akan punya dia adik ya." Celetuk Kanaya membuat semuanya tertawa.
SELAMAT MBA NADIA DAN MAS RENO 🥰🥰
btw awalnya mau tamat bulan ini loh, tapi ternyata kurang keburu. intinya sih novel ini akan tamat dalam waktu dekat😕😕
BERSAMBUNG......................................
__ADS_1