Menikahi Teman Kelas

Menikahi Teman Kelas
Ch. 10: Bertemu Orang Tua


__ADS_3

Rumah lumayan besar dengan gerbang hitam menjadi pemberhentian Angkasa. Cowok itu membunyikan klakson dan tidak berselang lama, gerbang terbuka. Myria yang ada di belakang menoleh ke samping kala mendengar seseorang menyapa.


“Mau kenalan sama dia?”


Myria langsung menoleh.


“Kayaknya enggak perlu. Nanti juga kenal sendiri kalau lo tinggal di sini.” Angkasa melanjutkan. Nada bicaranya terkesan menggoda.


“Kasa, apaan, sih?” Pipi Myria bersemu merah. Dia yang sejak tadi menangis, kini mulai bisa mengukir senyum.


Senyum Myria membuat Angkasa bernapas lega. Pasalnya, dia ikut resah kala gadis itu terus bercucuran air mata sepanjang jalan. “Ayo!”


Langkah Myria terayun pelan di belakang Angkasa. Dia mengikuti teman kelasnya itu masuk rumah. Sebenarnya, Myria gugup dan sedikit takut andai orang tua Angkasa memarahi nanti.


“Ma, assalamualaikum.” Angkasa berteriak dari ruang tamu. Tidak berselang lama ibunya datang menghampiri.


“Kasa.” Nyonya Nasita mengulurkan tangan dan membelai rambut putranya. Tidak lupa kecupan di pipi diterima oleh beliau. Wanita itu lantas menggeser pandangan. Saat mendapati sang anak datang dengan teman, Nyonya Nasita segera menghampiri.


Myria meraih punggung tangan Nyonya Nasita lalu menciumnya penuh takzim. Dia sedikit terharu saat melakukan itu lantaran teringat mendiang sang ibu.


“Duduk, Myria. Bunda senang kamu kemari.” Nyonya Nasita mengiringi langkah Myria ke sofa. “Tunggu di sini, Bunda ambilkan sesuatu untuk camilan.”


“Tidak perlu repot-repot, Bunda.”


“Memuliakan tamu adalah sunah nabi kita. Bunda tidak merasakan direpotkan, diam di sini dulu, ya.”


Akhirnya Myria mengangguk dan tidak lagi membantah.


“Tunggu di sini, gue ganti baju bentar sambil nyari bokap.”


“Kasa.” Myria menahan Angkasa dengan suaranya. Dua tangan yang bertumpu di paha mengepal erat sembari mencengkeram rok yang dipakai. “Aku … takut,” katanya dengan suara lirih.


Angkasa justru terkekeh. Cowok itu baru kali ini melihat secara penuh wajah Myria dari dekat. Selama dua tahun lebih satu kelas, dia tidak pernah menyadari keindahan yang ada pada Myria sedikit pun.


“Tenang aja, ortu gue bukan orang jahat. Kalau marah, pasti gue yang dimarahi. Bukan elo.”


Myria tak menjawab. Dia hanya menatap Angkasa dengan kedipan teratur.

__ADS_1


“Percaya sama gue, My.”


Keraguan memang tidak sepenuhnya terhapus, tetapi Myria berusaha percaya atas ucapan Angkasa. Dia mengangguk lalu mengatur napas agar lebih tenang.


Setelah Angkasa pergi, Nyonya Nasita datang dengan nampan penuh piring berisi kue. Di belakang beliau, tersusul wanita dewasa yang ikut membawa minuman. Myria hendak membantu,  tetapi ditolak.


“Biar Bibi saja, Non.”


Ah, dari cara wanita itu bicara, Myria menebak bahwa beliau asisten rumah tangga keluarga Angkasa. Dia hampir melupakan kalau rumah sebesar itu tidak mungkin diurus seorang diri.


“Mana Angkasa?”


“Ee, katanya ganti baju, Bunda.”


“Oh, ya.” Sofa di sebelah kanan diduduki Nyonya Nasita. Wanita itu membenarkan rok sebentar agar tidak kusut. “Bunda senang kalau ada teman Kasa main ke rumah. Tapi sayangnya, anak itu tidak pernah mengajak siapa pun kemari.”


Myria manggut-manggut sambil mendengarkan.


“Besok kalian libur, ya? Apa Angkasa sengaja menjemputmu kemari, Myria? Kenapa malam begini?”


“Kamu minum dulu.” Gelas dari meja diambilkan oleh Nyonya Nasita lalu diberikan pada Myria. Sebagai wanita dan ibu dua anak, Nyonya Nasita begitu peka dan sangat responsif atas sikap seseorang. “Jangan gugup begini.”


Dalam kondisi mulut tertutup gelas, Myria melirik sambil berusaha mengangguk. Dia ingin meneriaki Angkasa, kenapa lama sekali cowok itu kembali dan membiarkannya seorang diri.


Gelas turun ke meja. Myria terus berusaha mengulur waktu agar tidak menjawab. Beberapa kali dia bergerak gelisah dalam duduknya.


“Ma.”


Akhirnya Myria bisa bernapas lega saat mendengar suara itu. Dia ikut menoleh dan berdiri untuk memberi penghormatan pada tuan rumah. Dua tangan Myria menangkup di dada sembari menundukkan kepala sekali.


Ayah Angkasa yang paham akan hal itu membalas tak kalah ramah. “Ada apa ini malam-malam bawa teman perempuan sampai bangunkan Papa?”


Myria menelan ludah mendengar suara berat pria berbaju hijauitu. Dia berasa ingin lari dan melupakan tawaran Angkasa. Namun, belum sempat pikirannya terealisasikan, tiba-tiba dia merasa sentuhan lembut di punggung tangan.


“Pa, Ma, aku ingin menikahi Myria.”


“Apa?” Nyonya Nasita spontan berteriak. Sang suami yang di dekatnya tak kalah kaget. Dua indra penglihatan orang tua itu sama-sama melotot begitu mendengar ucapan sang anak. “Kasa, bicara apa kamu, Nak?”

__ADS_1


Nyali Myria makin mengerut. Duduknya sampai mundur dengan kapala menunduk dalam. Sementara itu, Angkasa tetap tenang. Bisa-bisanya cowok itu tidak bereaksi takut sedikit pun.


“Ma, aku cuma pengin melindungi Myria. Aku naksir dia. Lagi pula, dia sekarang hidup sendiri, kalau jadi menantu Mama sama Papa terus tinggal di sini, nanti dia nggak akan sendirian lagi.”


Mulut Nyonya Nasita menganga tanpa suara. Wanita itu terlalu kaget hingga tak mampu berkutitk. Jangankan nasihat untuk sang putra, kesadaran saja entah di mana.


“Kasa.” Sang ayah mengambil alih pembicaraan. Angkasa dan Myria segera menaruh perhatian pada beliau. “Papa tidak ingin mendengar leluconmu malam-malam. Ingat umurmu. Sekolah saja belum lulus, kenapa bisa berpikir akan menikahi seorang gadis?”


“Aku sudah katakan alasannya tadi, Pa.”


“Kalau niatmu menikah karena hanya ingin membantu, Papa dan Mama bisa menjadikan gadis ini saudara angkatmu. Tidak harus menempuh jalur pernikahan.”


“Apa bedanya kalau begitu? Kalau dia nikah sama aku, Myria juga jadi anak Papa sama Mama. Sekarang mau diangkat jadi anak, suatu saat nanti kalau aku tetap ingin menikah dengannya, itu sama aja, kan?”


“Kasa!”


Nyonya Nasita segera mengelus lengan sang suami. Pria pemimpin keluarga itu nyaris hilang kesabaran mendengar sanggahan Angkasa. Di mana pun orang tua, tentu akan berpikir ulang saat anak ingin menikah di usia dini.


“Kasa, Myria, pernikahan itu bukan sesuatu yang mudah. Laki-laki dan perempuan disatukan dengan janji dan tanggung jawab masing-masing. Mereka akan ditanya kelak di akhirat tentang tanggung jawab perannya sebagai suami atau istri. Menikah itu perlu ilmu, Nak.”


Omongan Nyonya Nasita makin menenggelamkan kepercayaan diri Myria. Memang seharusnya dia tidak datang dari awal dan tidak perlu pula menghadapi keadaan semacam ini. Bukan dia tidak mau dinasihati, tetapi nasihat itu makin membuat dadanya sesak.


“Aku tahu, Ma.” Angkasa yang menyela. Dia benar-benar belum ingin menyerah. “Aku ceritakan pada Mama dan Papa kenapa aku senekad ini.”


Dua orang tua yang ada di depan, Angkasa perhatikan satu per satu. Sang mama masih berwajah teduh seperti biasa, sementara ayahnya menatap serius dengan sorot mata ketegasan. “Tawaran menikah ini memang aku yang mengajak, Ma, Pa. Sebenarnya Myria menolak dan aku enggak maksa lagi. Tapi, malam ini, dia hampir dilecehkan sama preman. Aku tadi melihatnya terus segera menolong, dari kejadian barusan, aku ingin menjaganya. Tanpa pernikahan, kami enggak halal, jadi aku membuat keputusan bawa Myria kemari.”


Nyonya Nasita dan suaminya terdiam. Sempat terjadi keterkejutan kala putranya mengatakan kejadian yang menimpa Myria.


“Aku janji nggak akan aneh-aneh, Ma, Pa.” Angkasa melanjutkan.  “Aku cuma pengin nemenin Myria kalau dia perlu ke mana-mana.  Aku janji kalau nikah sekarang, itu enggak bakal ganggu masa depan kami. Aku tetep bakalan ikuti kemauan Papa buat jadi penerus di perusahaan suatu saat nanti. Sekolah, kuliah dan bekerja dengan benar.”


Anak bungsu Nyonya Nasita itu memang berkemauan keras. Beliau hafal sikap Angkasa dan sulit untuk meluluhkan sedari dahulu. Namun, sekeras apa pun, Nyonya Nasita masih bisa mendapati sifat baik dari diri Angkasa.


Ada jeda sampai hitungan menit sebelum pembicaraan berlanjut. Dua orang tua yang ada di depan anak-anak perlu memperhitungkan semua. Nyonya Nasita berbisik pada sang suami sampai akhirnya, pria itu angkat suara. “Malam sudah hampir larut. Sebaiknya kalian istirahat dulu. Papa dan Mama akan berikan keputusan besok.”


Wajah tegang Angkasa mulai rileks. Napas yang sejak tadi ditahan di dada, kini bisa diembuskan pelan. Cowok itu bergeser dan hendak bicara pada Myria.


“Kasa, kembalilah ke kamarmu. Mama yang akan antar Myria ke kamar tamu.” Belum sempat Angkasa bicara, Nyonya Nasita telah lebih dahulu menyela. Beliau beralih pandang. “Myria, tidur di sini, Nak. Bunda ingin bicara denganmu sebagai perempuan.”

__ADS_1


__ADS_2