Menikahi Teman Kelas

Menikahi Teman Kelas
Ch. 28: Menghindar


__ADS_3

Ditinggalkan kursi yang sejak tadi diduduki, Angkasa menghampiri Myria. Dia melipat tangan ke dada seiring kerutan muncul di dahi. “Kenapa? Apa Mama maksa lo barusan?”


Myria menggeleng. Sebenarnya dia enggan bicara saat ini, tetapi apa boleh buat. Dia ada maksud yang ingin disampaikan. Bertemu Angkasa, membuat Myria ingat kelakuan Erika. Gadis itu harus melawan sesak di dada dan kecamuk bayangan menyedihkan yang berkelebat di kepala.


Angkasa naik ke ranjang. Dia menggulingkan tubuh mendekati Myria, lalu menarik gadis itu agar ikut duduk. Istrinya berteriak, tetapi Angkasa abaikan dan justru menempelkan kepala pada punggung. Cowok itu bertanya, “Kenapa lo diem? Beneran Mama maksa?”


Myria menarik napas kuat-kuat sebelum menjawab. Dia harus menetralkan detak jantung yang menggila setiap dapat sentuhan dari Angkasa. Hendak menolak, tetapi Angkasa suaminya. Myria memang harus membiasakan diri.


“Myria.”


Setiap Angkasa memanggil dengan panggilan demikian, Myria sadar jika suaminya sedang serius. Cewek itu menggeleng lemah. “Enggak, kok. Aku sendiri yang kepikiran, kayaknya emang itu hal baik buat kita.”


“Tapi kita nggak ngapa-ngapain, My.”


“Iya, aku tahu. Tapi buat antisipasi aja. Kalau kamu nggak mau pindah dari kamar ini, biar aku aja yang tidur di kamar bawah. Kamar tamu yang pertama kali aku tempati.”


Angkasa menarik tubuh. Dia berbaring telentang, lalu membawa guling ke pelukan. “Nggak usahlah, kalau emang lo maunya gitu, gue bisa tidur di kamar sebelah. Nggak perlu ngomong sama Mama.”


Sejak tadi menatap depan tanpa mau melihat Angkasa, kini Myria menoleh sedikit dan mengangguk. Suaminya bangkit dari kasur, lalu kembali meneruskan aktivitas belajar.


Ponsel Myria berdering. Gadis itu segera berdiri dan mencari benda pipih persegi panjang itu di dalam tas. Dia melihat siapa yang menghubungi, lalu bernapas lega kala tahu itu Friska.


Fokus Angkasa terganggu. Dia menengok istrinya yang ada di samping. Meja belajar kedua orang itu memang bersebelahan, hanya saja jadwal mereka berbeda.


“Ya, Fris.”


Suara Myria tertangkap telinga Angkasa. Cowok itu tak lagi penasaran karena tahu siapa yang menghubungi sang istri. Angkasa sudah waspada andai itu Sakti. Dia juga telah menyiapkan tindakan andai sahabatnya nekad mengejar Myria.


“Nggak pa-pa, kok.” Lagi, Myria menjawab pertanyaan dari seberang. Dia menoleh pada Angkasa, lalu memberi isyarat untuk pergi menerima telepon.


Angkasa mengangguk. Dia tatap kepergian Myria tanpa rasa curiga atau penasaran. Sepasang suami istri muda itu memang sepakat tidak mengorek privasi satu sama lain. Baik Angkasa maupun Myria, tidak akan bertanya macam-macam andai tidak diberi tahu.


Gantu ponsel Angkasa yang berdenting. Notifikasi pesan masuk membuat pemuda itu mengalihkan perhatiannya dari Myria ke tempat lain. Dia tarik ponselnya yang sejak tadi tergeletak di depan mata lalu membaca siapa yang mengirim pesan.


“Hm, baru juga gue batin lo.” Angkasa bergumam sendiri. Dia baca pesan dari Sakti sebentar.

__ADS_1


“Ka, besok pulang sekolah anak-anak tanding basket, ikut nggak lo?” Kesekian kali tawaran diberikan Sakti. Pemuda itu tidak pernah lelah dan bosan menanyakan hal yang sama pada Angkasa meski sering ditolak.


“Nggak. Males gue.” Usai mengetik singkat, Angkasa menekan tombol kirim.


“Ada anak SMA 2, Ka. Lo serius nggak ikut?” Pesan Sakti cepat sekali sampai. Tidak ada sepuluh detik, balasan sudah diterima Angkasa lagi.


Angkasa mengganjur napas. Jemarinya bergerak lincah mengetik. “Nggak. Gue udah bilang enggak.”


Sakti tak lagi membalas setelah itu. Dia paham watak Angkasa yang memang sedikit keras kepala. Daripada adu mulut melalui tulisan, Sakti mengalah agar persahabatan mereka awet.


***


“My, ayo lihat anak-anak tanding basket?”


“Basket?”


Friska mengangguk-angguk. Dia tersenyum tenang menghadap Myria. Gadis itu menambahi, “Daripada kamu murung terus, My. Lihat bentar aja sama aku. Kelas kita ada pertandingan basket sama SMA 2. Anak-anak bilang kegiatan ini cuma buat seru-seruan gitu sebelum semua fokus ujian, makanya nggak pakek rencana.”


“Tapi ….”


“Biar aku yang izinin kamu ke Angkasa.”


Sorakan satu kelas menyusul melihat ulah Friska. Teman-temannya mengira gadis itu melakukan pendekatan secara terang-terangan.


“Sabar, Fris, sabar. Penghuni kelas masih banyak.” Satu siswa berceletuk, tersusul cie-cie dari lainnya.


“Tenang, Fris, besok masih ketemu!”


“Gercep, Bro. Saingan banyak soalnya.” Lagi, suara godaan itu dari arah pojok kelas sebelah kiri. Alhasil, kelas yang awalnya sudah berisik karena jam kosong, makin gaduh tak terkira. Satu demi satu siswa senang sekali menggoda seolah dapat hiburan gratis.


Telinga Angkasa panas mendengar teman-temannya. Dia memelototi Friska. “Lo bisa mundur nggak sebelum gue dorong?”


Friska menyengir lebar. Dia mundur dan kembali duduk di bangkunya. Sambil meletakkan dua telapak tangan di pipi, gadis itu berbisik, “Kasa, bilang sama nyokap bokap lo kalau Myria izin kerja hari ini. Gue mau ajak dia nonton pertandingan basket.”


Teman sebangku Angkasa ikut kepo. Pemuda itu sampai menempel ke badan Angkasa untuk melihat wajah Friska yang tertutup. Namun, belum sempat menangkap pembicaraan, Angkasa sudah mendorongnya.

__ADS_1


“Ka.” Friska bertanya kembali. Dia menggerakkan alis naik turun untuk bernegosiasi. Tidak peduli sebagian teman lain terkikik melihat tingkahnya, fokus Friska hanya pada Angkasa. “Bilangin, ya.”


“Please ….” Kadang bar-bar, kadang konyol, begitulah Friska. Myria yang jadi sahabatnya tidak asing dengan semua tingkah laku gadis tersebut.


“Friska, udah ah.” Sejak tadi Myria diam, kini dia menarik Friska agar kembali ke posisi duduk yang nyaman. Myria sengaja tidak melihat Angkasa sedikit pun karena dia enggan melakukan kontak mata apalagi kontak fisik.


Pandangan bergeser pada gadis tepat di depannya, Angkasa menjawab, “Gue izinin lo nonton anak-anak main. Tapi balik sebelum magrib.”


“Beres, Ka.” Friska yang menyela. Dia memeluk Myria penuh kebahagian seperti usai dapat hadiah.


Para siswa berhamburan keluar kala bel pulang berbunyi. Friska bergegas menarik Myria yang masih memasukkan buku dan alat tulis lain ke dalam tas.


“Iya, bentar. Kita salat dulu juga lah, Fris.”


Bangku kembali diduduki Friska. Gadis itu menyenderkan badan ke meja. “Iya, juga. Ya, udah. Ayo, ke musala. Habis itu ke lapangan. Nanti kita nggak dapet tempat di depan.”


“Tempat depan rawan kena bola. Mau kamu?” Myria menimpali dengan nada sengit. Dia memang sedikit tidak berselera ke mana pun, tetapi demi menyenangkan sahabatnya tidak masalah mampir sebentar.


“Nggak mungkin, lah, My. Anak-anak jago mainnya.” Badan Myria ditarik mendekat, sementara mata Friska melirik ke bangku belakang. “Apalagi Kasa, dia lama nggak main. Coba anak itu turun ke lapangan, dijamin menang.”


Myria melirik belakang. Dia tidak mengucap apa pun lagi dan menggendong ranselnya lalu berdiri. “Ayo!”


Friska ikut beranjak. Dua gadis itu meninggalkan kelas lebih awal dari biasanya. Beberapa siswa masih tertinggal, sementara hari-hari kemarin keduanya pulang paling belakangan.


“Ka, lo nggak balik?” Sakti baru muncul dan langsung menghampiri. Seragam pemuda itu telah berganti menjadi kaus olahraga. Meskipun tidak terlalu hebat, Sakti cukup bisa diandalkan dalam permainan basket. “Atau lo mau terima tawaran gue? Widih, bakal pecah ini nanti pertandingan kalau lo ikutan.”


Angkasa berdiri. Pembicaraan Sakti hanya dianggap angin lalu. Tuan muda keluarga Sastra itu keluar kelas karena tidak lagi ada keperluan.


“Woi, Ka!” Sakti berteriak dengan harapan ditanggapi. Namun, tidak ada gunanya juga. Dia menggerutu kesal. “Itu anak selalu. Lo kira gue ini makhluk halus apa, Ka? Udah ngoceh, muji-muji lo tetep aja nggak dilirik. Kira-kira cewek model apa yang bisa jadi pawang buat lo.”


.


.


.

__ADS_1


Info:


Kak, mulai hari ini jadwal update aku ganti malam selesai tarawih, ya. Jam 8 atau 9 WIB. Bisa baca sebelum tidur atau besoknya juga nggak pa-pa. Aku makasih banget kalau Kakak² masih setia dengan pasangan My-Ka. Lope pull pkoknya. ❤️


__ADS_2