
“Besok kalian ujian semester?”
Empat gelas jus jambu diletakkan Nyonya Nasita ke meja ruang tengah. Beliau lantas duduk di samping Tuan Aji yang sedang sibuk dengan tablet di tangan.
Angkasa menoleh dan lepas perhatian dari ponsel sejenak, begitu pula Myria yang sedang menonton televisi ikut memperhatikan ibu mertua.
Semua sedang berkumpul. Hari Minggu menjadi hari yang bisa mempertemukan anggota keluarga lebih lama dari biasanya.
“Iya, Ma. Minta doanya.” Angkasa menjawab. Dia tinggalkan sepenuhnya ponsel karena sudah ada sang ibunda yang mengajak mengobrol.
Nyonya Nasita mengulas senyum. “Mama selalu doakan kalian.”
Tuan Aji melirik istri dan anak-anaknya. Beliau berdehem. “Apa kalian masih tetap bersaing kalau sudah menikah seperti ini?”
Angkasa dan Myria saling pandang. Mereka bahkan lupa perkara siapa yang akan jadi juara. Satu kelas terisi 40 siswa, dua anak manusia itu memang selalu unggul dan masuk sepuluh besar rangking di kelas maupun rangking umum dari satu tingkatan.
“Eee, Myria enggak pernah ngerasa saingan sama Kasa, kok, Pa.” Myria menjawab dengan sedikit gamang. Namun, kenyataannya memang demikian. Selama ini hanya fokus belajar dan dapat nilai terbaik dari hasil kerja kerasnya, perkara juara hanya dianggap sebagai penyemangat.
Tujuan Myria belajar giat memang bukan jadi juara karena semua orang juga ada kesempatan. Namun, dia lebih menyikapi bagaimana menyerap pelajaran sebaik mungkin agar ilmunya berguna.
“Papa nanyanya juga aneh-aneh.” Nyonya Nasita menyela sembari menepuk paha sang suami. “Dari dulu Kasa mana pernah melebihi Myria, Pa? Juara satu sampai tiga semua diisi cewek. Pernah juara 3 itu aja, Mama anggap sebuah kebetulan.”
Angkasa melirik sebal sang ibunda. Sejak kehadiran Myria di rumah ini, posisi sebagai anak sepertinya memang terganti. Nyonya Nasita terlihat lebih menyayangi sang menantu daripada anak sendiri.
“Ma, kalau aku juara, apa hadiahya?”
Senyum Nyonya Nasita hilang sekejap, sementara Myria di samping Angkasa sampai menoleh karena sedikit kaget. Gadis itu menerka, apa Angkasa tersinggung dengan ucapan ibunya? Andai seperti itu, Myria merasa bersalah.
“Kasa, kamu ingin apa, Nak?”
“Tiket liburan ke Jepang.”
“Apa?” Suara Nyonya Nasita sempat meninggi. Beliau lupa jika ada sang suami di sebelah. Tarikan dari Tuan Aji baru menyadarkan, sehingga Nyonya Nasita kembali duduk.
“Tenang, Ma.” Berbeda dari istrinya yang syok, Tuan Aji jauh lebih bisa mengontrol diri. Bukan beliau tidak trauma perkara kepergiaan putra pertamanya, tetapi memang sebagai lelaki, Tuan Aji lebih banyak memakai logika dan menerima kenyataan bahwa hidup terus berjalan.
__ADS_1
“Kasa, apa kamu tidak salah ucap? Apa kamu lupa kakakmu meninggal karena naik pesawat? Ke Jepang sama saja harus melalui lintas udara, Mama tidak bisa mengabulkan permintaanmu.”
Keputusan Nyonya Nasita membuat Angkasa menyenderkan diri ke sandaran sofa. Dia tidak akan membantah apa pun karena liburan ke luar negeri sebenarnya bukan kemauan yang menggebu. Angkasa hanya ingin tahu respons ibunya bagaimana jika dirinya pergi ke luar negeri, apalagi kuliah di sana.
“Ma, tahun sudah berganti. Dan aku, apa akan tetap ada dalam kekangan seperti ini?”
“Kasa.”
“Ma, jangan berdebat.” Tuan Aji menengahi. Beliau menepuk perlahan punggung tangan sang istri dan memberi senyuman tulus. Pria yang telah menemani Nyonya Nasita bertahun-tahun itu memahami perasaan istri dan anaknya, tetapi dalam kondisi seperti ini, dia rasa tidak perlu ada yang dibela.
“Kasa sudah dewasa, Ma.” Dengan langgam tenang, Tuan Aji berkata. “Beberapa tahun ini dia lebih menurut, bahkan rela meninggalkan hobinya. Papa tahu Mama khawatir, tapi kita tidak mungkin mengurung anak kita di rumah terus. Angkasa itu laki-laki, dia butuh pengalaman banyak untuk memperluas cara pikirnya.”
Kalimat panjang lebar dari Tuan Aji membungkam anggota keluarga yang ada. Beliau mengubah posisi dan merengkuh bahu Nyonya Nasita. “Ayo, belajar jadi orang tua yang lebih memahami. Mendidik secara otoriter itu tidak baik juga untuk anak. Papa yakin, Kasa bisa memegang amanah. Dia bukan anak TK lagi sekarang. “
Angkasa bernapas lega. Sepertinya, pembicaraan dengan sang ayah beberapa waktu lalu mulai dicarikan solusi. Terbukti, kini Tuan Aji menengahi daripada membela Nyonya Nasita. Padahal, Angkasa hafal jika sang ayah memang lebih memihak sang mama selama ini.
Hampir semua kemauan Nyonya Nasita terkabul tanpa pikir panjang. Tuan Aji memang selalu memprioritaskan kebahagiaan istri adalah nomor satu. Mengenai pengasuhan anak, pria itu tidak terlalu banyak ikut campur dan percaya bahwa Nyonya Nasita tidak mungkin mengarahkan putranya ke hal buruk.
“Gimana, Ma? Boleh, kan?” Rayuan kembali dikerahkan, tetapi kali ini ditambahi lagi oleh Angkasa. “Aku sama Myria, Ma.”
“Kasa.” Myria berbisik. Dia nyaris mencubit paha Angkasa yang hanya mengenakan celana pendek.
Akan tetapi, Angkasa sudah peka dan menggenggam jemari Myria erat-erat. Pemuda itu tersenyum tipis, tetapi ada maksud di balik senyumnya.
Nyonya Nasita tidak menjawab. Beliau hanya mengamati anak dan menantunya lekat-lekat. Saking seriusnya, pengamatan wanita itu membuat Myria tegang.
Hampir satu menit tidak ada tanggapan, akhirnya helaan napas berat terdengar. Wanita yang masih di pelukan Tuan Aji itu memberi keputusan. “Tunggu Mama salat istikarah dulu. Jawaban iya atau tidak, akan Mama katakan setelah terima raport kalian.”
Sekalipun sudah menyiapkan hati atas keputusan sang mama, pada akhirnya, Angkasa harus tetap pasrah saat dapat jawaban demikian. Dia tidak ingin melawan apalagi memberontak. Setidaknya, masih ada sedikit harapan mendengar jawaban ibunya tadi.
Selesai obrolan malam, semua anggota keluarga masuk ke tempat peristirahatan masing-masing.
Myria menghampiri ranjang di mana Angkasa sudah rebahan di sana lebih dahulu. Gadis itu merangkak naik, lalu mengintip aktivitas suaminya.
Angkasa melirik ke samping karena merasa diperhatikan. Pemuda itu segera menaruh ponsel ke dekat badan, lalu merentangkan kedua tangan pada Myria.
__ADS_1
“Apa?” tanya Myria dengan muka bingung.
Lidah berdecak, Angkasa membuang napas lelah. “Sini, peluk!”
“Nggak, ah. Kamu modus mulu.”
“Modus gimana? Cuma ngajak peluk, doang, ini.”
Myria kukuh dengan pendiriannya. Dia abaikan rentangan tangan Angkasa dan memilih merebahkan badan di sisi lain. Mana mau dia diakali seperti beberapa malam yang lalu, di mana lehernya hendak digigit.
Angkasa mencebik melihat kelakuan Myria. Namun, tentu saja pemuda itu masih punya banyak cara untuk dapat apa yang dikehendaki. Myria terlalu polos bagi pemuda seperti Angkasa, gadis itu mudah sekali menurut sekalipun itu hanya kejailan.
“Kasa, kamu serius soal tadi?”
“Yang mana?”
“Pembicaraan sama Bunda.”
“Oh, itu. Seriuslah. Kenapa? Kamu takut kalah?”
Myria mendesis. Sepertinya sikap menyebalkan Angkasa sedang kambuh. Dia menimpali, “Ngapain takut kalah? Aku enggak merasa bersaing, kok.”
Tubuh Angkasa miring sepenuhnya menghadap Myria. Dia mengulas senyuman lembut, selembut usapan jemarinya di pipi sang istri. “Bantu gue berjuang, biar juara kelas di semester ini. Nanti kita bisa jalan-jalan. Gue yakin, Mama pasti ngizinin.”
“Aku nggak pengin jalan-jalan juga, kok, sebenarnya.”
Tanggapan Myria membuat Angkasa melongo. Pemuda itu meraup wajah setengah frustrasi. “Ah, My. Elo malah bilang gitu. Dukung gue, kek. Urusan liburan itu cuma bonus. Kalau lo nggak pengin ke Jepang, kita cari wisata deket-deket sini aja.”
Myria nyaris tertawa. Dia merasa lucu atas sikap Angkasa yang seperti bocah di situasi begini. “Gimana caranya bantu?”
Satu tangan dipakai menyangga kepala. Angkasa mencondongkan badan sedikit. “Kasih contekan gue besok.”
Dua mata Myria langsung melotot seolah-olah hendak keluar. Gadis itu siap memarahi suaminya karena berniat curang. Namun, belum sempat mulut mengeluarkan perkataan, Angkasa sudah menerjang bibirnya secara spontan.
“Kasaaa …!” Teriakan Myria menggema setelah berhasil mendorong Angkasa. Dia lempar semua bantal dan guling dari kasur saat melihat Angkasa kabur. “Aku mau marah sama kamu!” teriak Myria lagi. Dadanya naik turun karena emosi.
__ADS_1
.