
“My, si Kasa kenapa diem terus dari pagi?” Bisikan Friska memecah konsentrasi Myria pada guru kelas yang tengah menjelaskan.
Myria menolehkan kepala sedikit ke belakang untuk melihat apa yang dimaksud sahabatnya. Hanya beberapa detik untuk memperhatikan Angkasa, setelah itu dia kembali menghadap depan. “Kenapa emangnya? Kayak nggak tahu Kasa aja, Fris. Dia, kan, emang gitu kalau di sekolah.”
“Hish.” Badan Friska makin merapat. “Ya, aku ngerti kalau Angkasa cuek abis, tapi kamu lihat, deh, ekspresinya beda tahu, hari ini.”
Myria mengedik. Dia tidak mau memperpanjang urusan. Memperhatikan Angkasa terlalu sering dan intens, bisa saja membuat teman lain curiga atas tindakannya. Maka dari itu, Myria tidak pernah dekat dengan Angkasa. Mengobrol pun, jarang sekali dia lakukan meski bangku berurutan.
Berbeda dari Myria yang beranggapan tidak ada apa pun, Friska justru mengulangi perbuatannya mengintip Angkasa. Gadis itu beberapa kali menoleh ke belakang, kembali ke depan, lalu menoleh lagi ke belakang sampai membuat teman sebangku Angkasa heran.
Pemuda berambut cepak itu menyenggol bahu Angkasa dengan bahunya. “Ka, si Friska kenapa? Liatin lo mulu dari tadi.”
Angkasa melirik malas. Dia enggan mengeluarkan kata-kata dari mulut. Rasanya begitu berat melakukan itu sekalipun sejak pagi dirinya sudah sarapan. Fokus Angkasa saat ini hanya ke depan mendengarkan materi pelajaran meski pikirannya tengah bercabang gara-gara omongan Sakti.
“Nggak penting ngurusi cewek. Belajar ajalah, dua minggu lagi kita semesteran.”
Melihat Angkasa tidak berminat mengobrol sama sekali, pemuda itu diam. Dia ikuti omongan teman sebangkunya untuk fokus belajar.
Semua siswa sibuk menyimak. Sekalipun ada yang malas, tetapi siswa seperti itu tidak menimbulkan kegaduhan.
“Oke, Ibu ada tugas kelompok untuk hari ini.” Sang guru memutar badan menghadap murid-muridnya. Beliau lanjut berkata, “Satu kelompok cukup dua orang saja. Anggota bebas, kalian bisa pilih sendiri. Tapi kalau tidak mau kesusahan, cukup dengan teman sebangku.”
“Tugasnya apa, Bu?” Satu siswi paling depan bertanya setelah mengangkat tangan.
Guru itu menjawab, “Dua orang, kumpulkan satu artikel. Kalian bebas mau pilih artikel jenis mana, yang terpenting semua struktur artikel ada di dalamnya. Jumlah kata satu artikel minimal 300 kata maksimal cukup 2000 kata saja. Tulis, lalu simpan dalam bentuk file dan bisa kirim ke e-mail Ibu mulai lusa.”
Semua siswa mencatat tugas yang diberikan agar tidak lupa. Masing-masing tidak ada yang protes karena sudah terima dengan status siswa tingkat akhir pasti akan ada waktu seperti itu. Materi, tugas, praktik, dan lainnya.
“Oke, masih sisa lima menit jam pelajaran Ibu. Kita cukupkan dulu hari ini. Selamat pagi menjelang siang, Anak Anak.”
“Siang, Bu.”
Kondisi langsung riuh saat guru keluar kelas. Memang masih kurang lima menit jam pelajaran sebelum bel istirahat, tetapi sebagian siswa sudah ada yang meluncur ke kantin lebih dahulu.
__ADS_1
“My, kantin nggak?” Friska selesai mengemas buku-bukunya. Dia menunggu Myria yang masih sibuk.
“Boleh. Tapi nunggu bel ajalah, jangan ikut-ikutan.”
***
Pulang sekolah menjadi momen paling ditunggu semua warga sekolah. Mulai dari guru yang telah lelah mengajar hingga para siswa yang sama letihnya menimba ilmu.
Bel berbunyi tanda pelajaran terakhir usai. Friska dan Myria segera berkemas. Friska sengaja mengajak sahabatnya pulang cepat hari ini lantaran ibunya hendak ada urusan sehingga rumah kosong dan tidak ada yang beres-beres.
“Nanti aku chat kamu, My.” Friska berucap seiring tangan yang melambai. Dia terpaksa naik angkutan lebih dahulu dan meninggalkan Myria di halte karena kursi di angkutan hanya tersisa satu orang. Awalnya gadis itu enggan meninggalkan sahabatnya, tetapi karena dipaksa, Friska setuju.
Tersisa Myria seorang diri di halte. Rata-rata siswa di sekolahnya memang memakai kendaraan pribadi atau jemputan. Kalaupun berkendara menggunakan kendaraan umum, mereka akan memilih taksi. Jarang sekali naik bus atau angkutan seperti dirinya.
Tak kunjung tiba angkutan yang ditumpangi, Myria mundur dan duduk. Sore hari begitu cerah sehingga mencipta rasa gerah di badan. Maka dari itu, Myria berteduh agar tidak semakin berkeringat.
Satu motor sport hitam berhenti di pinggir jalan tepat depan halte. Myria tercenung melihatnya. Dia tahu itu bukan Angkasa, tetapi tidak hafal pula wajah siapa yang ada di balik helm.
“My, gue anter.”
Myria menggeleng. “Enggak usah, makasih.” Nada bicara Myria dibuat sehalus mungkin agar tidak menyinggung.
Akan tetapi, sikap Myria justru membuat Sakti turun dari motor lalu menghampiri. Pemuda itu mengulurkan tangan. “Ayo! Santai aja kali. Nggak bayar, kok.”
Myria meringis canggung. Mana mungkin dia mengiyakan tawaran Sakti. Mengantar seperti itu, pasti akan sampai rumah, dan Myria tidak mungkin membiarkan Sakti tahu bahwa dirinya tinggal di kediaman Angkasa.
“Ayo ….” Tak dapat sambutan, bukan berarti Sakti pergi dan menyerah. Dia menarik tangan Myria secara tiba-tiba.
“Sakti, lepasin.” Susah payah Myria mengelak. Namun, cekalan Sakti terlalu erat. Dia sampai berjalan setengah terseret karena berusaha tetap berada di tempat tadi.
“Tenang aja, pasti selamet sampai rumah. Oh, iya, by the way, lo tinggal di mana, sih?”
Bibir Myria mengatup rapat. Dia tidak pernah terpikirkan alasan pertanyaan itu. Selama ini tidak ada yang terlalu mengurusi tentang tempat tinggalnya, baik setelah atau sebelum ibunya meninggal. Semua teman memang akrab, tetapi tidak pernah berkunjung.
__ADS_1
“Eum, itu … aku pulang sendiri aja, lah. Nggak perlu gini.” Myria terus berusaha lepas dari Sakti. Selain perkara tempat tinggal, bagaimana jika Angkasa melihatnya bersama cowok lain? Sudah bisa dipastikan Myria akan dapat murkanya sang suami.
Ketika pikiran Myria belum berhenti mencari solusi, bunyi klakson panjang mengalihkan perhatiannya dan Sakti.
“Ciee … ngapain lo?” Angkasa datang mengacau. Kali ini, bukan kebetulan seperti dahulu, tetapi tentu saja karena memang dia selalu memantau Myria dari kejauhan.
Sakti berdecak. “Kepo aja lo. Pulang sana!”
“Eits, tunggu dulu, Bro. Dilarang khalwat berduaan, ntar dosa. Kalian bukan mahram.”
Sakti memelototi. “Lagak lo, Ka, pakek ceramah segala. Dulu juga pacaran lo sama si Erika.”
“Itu dulu, gue tobat sekarang.” Angkasa membela diri. Dia tersenyum santai, lalu memandang Myria. Tanpa diduga, cowok itu berujar, “My, bareng gue aja.”
Myria ikut mendelik. Dia tidak habis pikir dengaan Angkasa. Baru saja melarang orang berduaan, tetapi dirinya justru mengajak pulang. Apa dia tidak tahu tindakan demikian bisa memancing kecurigaan Sakti?
“Bangsat lo, Ka. Mau nikung terang-terangan gini ceritanya?”
Angkasa tertawa lepas seolah tidak peduli atas emosi Sakti. Pemuda itu tentu paham karakter sahabatnya bahwa makian tersebut tidak terlalu serius.
Belum cukup sampai di situ, Angkasa menurunkan standar motor, lalu menghampiri Myria yang hanya mematung sejak tadi.
“Bareng gue aja, My, lebih enak daripada naik motor si Sakti. Ribet!”
Sakti menendang mata kaki Angkasa, tetapi sayangnya tidak kena lantaran sahabatnya sudah menjauh. Dia mendengkus dan membuka helm yang sejak tadi masih dipakai. “Ayo, My, jangan peduliin Kasa. Emang dia ini playboy.”
Tangan Myria hendak diraih, tetapi lagi-lagi Angkasa jadi penghalang. Sakti benar-benar emosi, sampai tega mendorong bahu Angkasa.
“Maksud lo apa gini, Ka? Lo sok ceramah bilang dosa, tapi lo sendiri ngajakin Myria pulang juga. Lo waras nggak?”
“Justru karena gue waras, makanya ngejauhin Myria dari lo. Lagian, kenapa lo emosi? Bukannya tadi pagi ngajak bersaing secara adil?”
Angkasa bicara sesantai mungkin. Tidak ada gurat kemarahan tercetak di wajahnya. Akan tetapi, sungguh! Di dalam hati cowok itu sudah berkobar api ketidaksukaan.
__ADS_1
.