Menikahi Teman Kelas

Menikahi Teman Kelas
Ch. 53: Pengkhianatan Angkasa


__ADS_3

“Nona, ada tamu.”


“Tamu siapa?” Erika menjawab dengan pertanyaan. Dia sibuk berfoto tanpa menghiraukan asisten rumah tangga yang datang. Gadis itu baru selesai creambath sepulang sekolah tadi di salon, sekarang dia masih ingin memanjakan mata dengan kecantikannya.


Memiliki puluhan ribu pengikut di akun media sosial, membuat Erika aktif memosting foto atau membuat story setiap kegiatannya. Dia memang tak hanya tenar di sekolah. Namun, di jagad maya pun, pujian terus mengalir deras.


“Tuan Muda Angkasa, Non.” Sang bibi kembali berkata. Beliau tidak lupa wajah Angkasa yang pernah datang ke rumah beberapa kali saat masih menjadi kekasih Erika.


Sontak, dua mata Erika langsung melebar dan berbinar. Wajah malasnya berubah semringah dengan senyum mengembang sempurna. Buru-buru dia turun dari sofa, lalu berlari ke depan tanpa menghiraukan pakaian yang dikenakan hanya berupa celana pendek sepaha dan tank top ketat.


“Kasa!” Erika merentangkan dua tangan hendak memeluk dari belakang. Posisi Angkasa memang membelakangi pintu selepas ditinggal Bibi ke dalam. Kepercayaan diri Erika meningkat drastis dan berpikir kedatangan Angkasa karena rindu atau ingin berbaikan.


Akan tetapi, semua pikiran Erika salah. Angkasa menjauh saat tahu hendak disentuh. Pemuda itu memutar badannya seratus persen menghadap Erika dengan tatapan dingin.


Astagfirullah. Batin Angkasa masih sadar untuk apa yang tidak seharusnya dilihat. Dia harus membuang pandangan dan tidak melirik Erika sedikit pun.


“Ayo, masuk, Ka. Gue buatin minum. Lo pasti haus, panas-panas ke sini. Kenapa juga nggak ngabari? Kan, bisa kirim pesan dulu tadi.”


“Gue nggak punya nomor lo.”

__ADS_1


Cerocosan Erika langsung terhenti. Senyumnya sempat lenyap beberapa saat, lalu tidak ambil pusing perkara itu. “Oh, nggak pa-pa. Ntar gue kasih tahu lagi. Nomor gue nggak ganti. Ayo, masuk dulu.”


Jengah dengan sifat Erika yang seperti tidak ada salah, Angkasa bergeming di tempat. Pemuda dengan kaus putih dan jaket hitam itu berkata tegas, “Gue nggak akan masuk. Gue ke sini mau kasih peringatan sama lo!”


Senyum Erika benar-benar hilang sepenuhnya. Wajah gadis itu berubah datar. Mendengar nada bicara Angkasa yang tidak ramah dan terkesan dingin, menyadarkan dirinya bahwa sang mantan kekasih datang bukan untuk berbaikan. “Maksud lo, Ka?”


“Gue nggak mau basa-basi. Gue ke sini buat kasih tahu lo, jangan ganggu Myria. Nggak usah nganggep dia saingan lo. Dia nggak suka gue, tapi gue yang ngejar-ngejar dia. Kalau lo nggak suka lihat gue sama Myria, nggak usah lihat. Nggak usah mikir juga kalau dia yang ngegoda, tapi itu murni kemauan gue buat dapat cintanya.”


Erika tergemap. Dia mengaga dengan napas putus-putus. Semua pengakuan Angkasa membuat dadanya terasa sempit sehingga oksigen yang dibutuhkan tubuh terasa kurang. Dengan ketidakpercayaan atas apa yang didengar, Erika berusaha bicara. “Nggak. Nggak mungkin lo suka cewek miskin kayak dia. Buka mata lo, Ka. Apa lebihnya cewek kayak Myria? Dia nggak cantik, seujung kuku pun nggak ada kalau dibanding gue!”


Telinga Angkasa panas mendengar perkataan Erika. Dadanya mulai mengobarkan api amarah yang ditahan sejak tadi. Andai Erika lelaki, wajah mulusnya mungkin sudah diberi pukulan oleh Angkasa saking tidak terimanya pemuda itu mendengar hinaan tertuju pada Myria.


“Tapi lo juga suka, kan, dulu?” Erika menjawab tak kalah sengit. Dia tatap wajah Angkasa tanpa takut atau merasa terluka sedikit pun. Gadis berambut panjang itu tetap bangga akan dirinya yang banyak dikagumi.


Sempat terdiam dan tidak bisa menyanggah perkataan lantaran kenyataan memang begitu, Angkasa dahulu mencintai Erika karena kecantikan gadis itu yang paripurna. Selain itu, keberadaan Erika di sisinya, membuat Angkasa makin percaya diri karena bisa mengalahkan cowok-cowok lain yang sama-sama menginginkan. Menjadi pemenang dalam persaingan, bukankah hal yang sangat disukai para lelaki?


Senyum bangga terukir kembali di bibir Erika yang terlapisi lipstik warm nude. Gadis itu maju dan merapatkan badan pada Angkasa. Agar rayuannya lebih membara, Erika sengaja membusungkan dada dan makin mengikis jarak.


Satu tangan Erika bergelayut manja, sedangkan bibir mulai merangkai kata-kata manis. “Ka, gue masih cinta banget sama lo. Apa pun bakal gue lakuin asal lo mau balik sama gue.” Gadis itu berjinjit dan mengecup pipi Angkasa secara cepat. Kesempatan emas saat mantan kekasihnya tak terlalu fokus.

__ADS_1


Sadar apa yang dilakukan salah, Angkasa segera mendorong Erika. Dia melayangkan tamparan secara refleks.


“Kasa!” Suara Erika meninggi hingga memenuhi teras. Dua mata gadis itu menatap nyalang pada Angkasa yang kebingungan.


“Rik, gue ….”


“Lo bisa, ya, mukul cewek sekarang? Cuma gara-gara Myria, lo bisa lakuin kayak gitu sama gue? Sadar, Ka, mata lo udah buta sama cewek miskin itu!”


“Diem, Erika!” Lagi-lagi hinaan pada istrinya membuat Angkasa murka. “Gue minta maaf karena nggak sadar mukul lo, tapi itu juga lo yang mulai. Lo gila, kita nggak ada apa-apa lagi, kenapa cium gue sembarangan? Tahu diri nggak lo?”


“Gue nggak peduli sama diri gue lagi asal lo balik sama gue! Apa, sih, lebihnya Myria? Apa karena dia berjilbab gitu? Kalau itu alasan lo, gue bisa lakuin itu juga!”


Asap seakan mengepul di kepala Angkasa. Pemuda itu mengacak rambut frustrasi. Dia datang ke tempat Erika bukan untuk bertengkar hebat, tetapi mengapa keadaan jadi seperti ini. “Nggak! Gue nggak butuh lo berubah kayak apa pun. Denger, ya, Rik, gue udah pernah bilang kalau udah nggak tertarik sama lo. Nggak perlu lagi ngejar-ngejar gue sampai nyakitin Myria. Gue bakal bikin perhitungan sama lo andai kejadian hari ini kembali terulang!”


Usai mengucap semua kata-kata yang terekam di otak, Angkasa meninggalkan tempat. Dia tulikan pendengaran saat Erika mengejar dan berteriak agar tidak pergi. Angkasa masih waras untuk tidak mengkhianati Myria yang telah jadi istrinya.


Motor melaju kencang membelah jalanan kota. Angkasa menahan sesak karena merasa telah melakukan dosa di belakang sang istri. Harusnya, dia bicara singkat dan tidak menanggapi Erika lama-lama agar mantan kekasihnya itu tidak menyentuh, apalagi sampai mencium pipi.


“My, maafin gue ….”

__ADS_1


__ADS_2