Menikahi Teman Kelas

Menikahi Teman Kelas
Ch. 15: Dihukum


__ADS_3

Selesai upacara, hampir semua siswa sibuk mencari minum. Meski sebenarnya berdiri di lapangan pagi ini tidak terlalu panas karena cuaca sedikit mendung, tetap saja sudah menjadi kebiasaan. Bahkan, beberapa siswa nekad ke kantin sebelum masuk kelas.


“Minum, My.” Friska mengulurkan botol air mineral yang baru saja didapat dari Sakti. Cewek itu tadi menyempatkan titip minuman pada  teman sekelasnya sekalipun harus merayu dahulu.


“Habisin kamu aja. Aku enggak haus, kok.”


Baru saja Myria selesai bicara. Guru pengajar sudah masuk kelas. Friska buru-buru memasukkan botol ke tas dan ganti mengambil buku pelajaran.


“Keluarkan tugas kalian sebelum dikumpulkan, Ibu akan periksa untuk memastikan kalau semua sudah mengerjakan.”


Kelas yang awalnya serius langsung berisik. Beberapa siswa kaget dan yang lain melakukan sesuai perintah. Wajah Myria berubah panik dan gelisah.


“Kamu kenapa?” Friska berbisik kala melihat sahabatnya bergerak tidak tentu. Baru kali ini gadis itu mendapati Myria demikian dalam menghadapi pelajaran.


“Aku lupa nggak ngerjain PR,” jawab Myria sembari menggigit bibir. Kacau sudah nasibnya setelah ini karena pasti dihukum.


Mata Friska melebar. “Kok, bisa? Biasanya kamu nggak ceroboh gini?”


Myria tak menjawab. Mana mungkin dia mengaku kalau Jumat sampai Minggu dirinya sibuk dengan kehidupan baru sebagai istri. Bisa-bisa Friska pingsan atau berteriak histeris.


“Buruan salin punyaku kalau gitu.” Buku di tangan Friska didorong-dorongkan ke arah Myria. Namun, Myria tak lekas menyambut karena kebingungan.


“Enggak keburu, Fris. Terima nasib ajalah.”


“My, kamu tahu Bu Mia, kan? Kalau nggak ngerjain tugas bukan keliling lapangan hukumannya, tapi kamu nggak bisa ikut pelajaran beliau nanti.” Bukan niat Friska menakut-nakuti, tetapi memang begitu adanya. Aturan guru Matematika itu tidak suka terima alasan. Beliau sangat disiplin dalam mengajar.


“Tapi mau gimana lagi?”


Dua gadis itu masih berdebat. Tentu saja perdebatan mereka menarik perhatian Angkasa. Cowok itu berusaha mencuri dengar apa yang sedang terjadi dengan istrinya.


Keberadaan Bu Mia makin dekat. Sudah ada siswa yang beliau keluarkan. Myria menelan ludah saat melihatnya. Sebentar lagi nasib gadis itu akan demikian.


Tepukan di punggung mengalihkan perhatian Myria. Dia menoleh dan diikuti Friska.


“Pakai buku gue.”

__ADS_1


“Ha?” Myria ternganga. Dia disodori buku oleh Angkasa, tetapi tak paham maksud. Namun, tidak ada kesempatan lagi untuk bicara banyak lantaran Bu Mia sudah menegur dan meminta tugas pada Myria dan Friska.


“Kamu tidak mengerjakan, Myria?” Suara Bu Mia mengundang perhatian siswa satu kelas. Hampir semua teman tahu bahwa Myria murid disiplin dan berprestasi. Tentu saja hal demikian memunculkan tanda tanya di kepala.


Myria menunduk. “Maaf, Bu.”


Tidak banyak kata, tidak pula berpikir, Bu Mia memberi perintah. “Kamu juga keluar dan tidak bisa ikut pelajaran Ibu hari ini.”


Mau  tidak mau, Myria berdiri dengan setengah hati. Dia mengaku salah dan tidak mungkin ngotot membela diri. Kepalanya menunduk selama melangkah menuju pintu.


Bu Mia menghela napas melihat Myria, tetapi apa mau dikata. Beliau tidak mungkin berlaku pilih kasih. “Oke, ada lagi yang tidak mengerjakan?”


Angkasa mengangkat tangan. Dia sukses mengejutkan Friska serta teman sebangkunya.


“Ka, elo—”


“Keluar, Angkasa!” Belum sempat teman sebangku Angkasa menyahut lebih panjang, perintah Bu Mia sudah mengudara. Alhasil, cowok di belakang Friska itu kembali menutup mulut.


Setelah Angkasa keluar, semua siswa diam. Aura mendadak tegang seolah hendak menjalani ujian.


Tiga siswa berdiri di depan kelas. Hanya Myria seorang diri yang perempuan. Dia bertanya pada Angkasa, “Kenapa kamu keluar?”


“Lo nggak ngerjain tugas juga, Ka? Tumben banget.” Sakti, ternyata dia yang pertama kali keluar kelas tadi. Cowok itu ikut bergabung dalam obrolan.


Sakti memang sering sekali keluar kelas karena banyak alasan. Mulai dari tidak mengerjakan tugas, tidak membawa buku, pura-pura sakit, dan hal lainnya yang membuat teman lain hafal.


“Berisik lo. Udah diem daripada hukuman ditambah sama Bu Mia.”


“Ya, elah, Ka. Lo sekarang judes banget sama gue. Lo lupa kalau kita ini bestie?”


Myria menarik jilbabnya untuk menutup mulut. Dia merasa lucu mendengar gaya bicara Sakti.


“Jijik banget gue denger lo pakai kosakata itu.” Angkasa protes. Dia melirik pada istrinya yang tengah menahan tawa. Ingin sekali kepala Myria ditariknya ke pelukan agar diam dan tidak meledek.


“Buset, dah, Ka. Lo sewot beneran sama gue. Dosa apa, sih, gue sama lo sampai segitunya? Gue ngutang di bengkel juga bayar ujung-ujungnya, menang balapan juga gue traktir, tetep aja salah. Lo masih nggak terima kalau gue baik-baik sama Erika?”

__ADS_1


Tawa Myria seketika berhenti. Dia menoleh pada Sakti dan Angkasa bergantian. Dapat Myria lihat, tatapan Angkasa berubah dingin dan mengintimidasi pada Sakti.


“Sekali lagi lo nyebut nama itu di depan muka gue. Semua gigi lo gue rontokin.”


Sakti menelan ludah. Dia menyengir dan segera menghampiri Angkasa. Tangan pemuda itu mengusap lengan sahabatnya takut-takut. “Sorry, Bro. Bukan maksud gue gitu. Gue cuma berusaha bantuin lo dan itu cewek biar baikan.”


“Nggak ada kata baikan di kamus gue buat pengkhianat.” Angkasa berujar tegas. Dia bergeser agak jauh dari deretan Sakti dan Myria. Pemuda itu memilih menyendiri dalam diam daripada mendengar Sakti bicara menyebalkan.


Niat Angkasa tadi menemani Myria, tetapi mengapa sahabatnya justru membicarakan Erika? Perempuan yang selalu dihindari sampai kini. Dada Angkasa memanas setiap ingat masa lalu.


“Sakti, maafin Kasa.” Myria berkata lirih agar Angkasa tidak mendengar. Dia melirik suaminya sebentar saat hendak bicara.


“Lah, kenapa elo yang minta maaf, My? Udah kayak siapanya aja. Santai aja, gue kenal Kasa, kok.”


Myria tersenyum hambar. Dia meminta maaf atas nama Angkasa karena sadar status sebagai istri. Meski tidak ada yang tahu itu, Myria ingin memastikan Sakti tidak menaruh dendam.


“Eh, lo tadi, kok, dihukum? Tumben banget. Si Kasa juga.”


“Aku enggak ngerjain PR. Lupa karena capek kerja.” Ada kejujuran terselip di jawaban Myria meskipun tidak semua yang dikatakan benar. Gadis itu memang lelah bekerja sepekan penuh, pulang-pulang dapat kejutan dari preman dan tawaran menikah dari Angkasa. Kemarin malam, dia begitu lupa karena Angkasa tidak pula terlihat menyibukkan diri dengan tugas. Alhasil, yang ada Myria langsung memasukkan semua buku pelajaran ke tas dan tidur.


“Oh, iya.” Sakti manggut-manggut. Dia bergeser sedikit dan berbisik, “Gue denger lo kerja di tempat usaha ibunya si Erika, ya?”


Myra mengangguk sembari tersenyum. Dia tidak sadar jika Angkasa terus mengawasi dari sudut mata. Tidak akrab dengan teman cowok, bukan berarti Myria anti mengobrol, apalagi Sakti teman sekelas.


“Lo keren, My. Di usia muda gini udah giat banget kerja. Gue salut sama lo.”


“Makasih.”


Setiap senyum terukir di bibir Myria, Angkasa merasa gerah. Cowok itu tiba-tiba kembali ke barisan dan mengambil posisi di tengah-tengan antara istri dan sahabatnya. “Kalian bisa diem nggak? Di dalam pada serius belajar. Kita di sini dihukum, bukan buat ngobrol.”


Sakti dan Myria diam. Keduanya langsung menjaga jarak serta memutus obrolan tanpa berani memperpanjang karena omongan Angkasa tidak salah.


Tiga siswa yang dihukum itu akhirnya terus membisu sepanjang pelajaran Matematika. Ketika kaki pegal pun, Bu Mia tidak mengizinkan duduk atau berjongkok. Myria berusaha mengintip dari kaca jendela agar ikut belajar, tetapi sayang sekali tetap lebih nyaman di kelas agar bisa langsung mencatat.


“Besok ulangi lagi biar lo tambah pinter di sini,” kata Angkasa di telinga Myria. Nada bicaranya dingin dan tidak ada ramah-ramahnya sama sekali.

__ADS_1



__ADS_2