
Tepat saat itu, Angkasa baru tiba. Dia tidak sendiri, tetapi ada teman satu geng. Tadi, saat pemuda itu hendak keluar dari parkiran, Sakti beserta kawan-kawan mendadak mengadang karena ingin mengajak makan bersama.
Belum sempat terwujud acara makan-makan tersebut, semua sudah dibuat panik atas pemberitahuan Angkasa. Putra bungsu Nyonya Nasita itu berteriak agar semua temannya ikut menyelamatkan Myria dan Friska.
Bermodal pembagian lokasi di antara puluhan pesan yang belum dibaca tadi, Angkasa memacu motor yang dikendarai secepat mungkin. Bukan motor sendiri, dia berboncengan bersama Sakti karena menganggap motor matic tak bisa secepat motor sport yang biasa dipakai balapan.
“Bedebah kecil dari mana lagi ini.” Bos preman memutar badan 45 derajat mengarah pada gerombolan Angkasa. Dia mendecih dan meneriaki anak buahnya agar berkumpul.
“Anak-anak ingusan dari mana lagi kalian?” Preman berbadan paling kurus berteriak. Dia nyaris menyerang, tetapi tangan bosnya menghalangi.
“Balikin temen gue yang lo sekap, Bang.” Sakti menimpali. Meski tak paham kronologi kejadian dan siapa pelaku utama, dia berani berkomentar. Hal yang diketahui Sakti dan kawan-kawan hanya penculikan Myria.
Gelak tawa mengudara. “Enak banget mulut lo kalau ngomong. Badan doang yang pakek seragam sekolah, tapi otak sama mulut kayak nggak disekolahin. Lo nggak bisa ngomong sopan sama yang lebih tua?”
Mendengar ucapan pria berambut merah di depan, dua dari teman Angkasa menggeram. Para pemuda itu sedikit tidak sabaran dan lebih suka langsung adu tangkis atau tendangan daripada adu mulut. Percuma, mereka merasa tak ada guna bicara dengan manusia seperti preman-preman itu.
“Mau kalian apa, Bang?” Angkasa menahan diri. Sesekali dia melirik ke dalam gudang di mana ada Myria dan Friska yang masih tergolek lemah.
“Mau kita? Kalian nggak perlu ikut campur. Mudahkan, kan?” Senyum sinis tersungging kembali. Namun, tak cukup hanya itu, pria itu kembali berucap, “Atau … kalian mau ikut pesta saja? Tenang, Adik-Adik, kalian akan kami beri bagian sepadan.”
__ADS_1
Emosi membuncah dan berakhir meledak di kepala. Angkasa tak tahan lagi mendengar pelecehan verbal yang ditujukan pada Myria. Dia berlari cepat, lalu meninju wajah pria berambut merah tersebut hingga menimbulkan kemarahan preman lain.
Adu pukul akhirnya tak terelakkan lagi. Para siswa yang masih berseragam SMA bertarung melawan pria-pria yang lebih tua dari mereka. Tidak ada acara kesopanan terhadap manusia seperti itu, semua beranggapan bahwa preman-preman itu tak pantas dapat rasa hormat.
Enam melawan enam. Masing-masing bekerja keras agar menang. Angkasa punya tanggung jawab besar mengenai keselamatan Myria, meski dirinya tak terlalu menguasai ilmu beladiri.
Enam anggota geng motor yang dahulu diketuai Angkasa, hanya dua di antara mereka yang ikut pelatihan seni beladiri, sementara lainnya hanya bermodal teknik seadanya.
Satu per satu preman maupun siswa tumbang dan bangkit lagi. Masing-masing dari mereka sempat tersungkur, kena pukulan, sudut bibir pecah, bahkan mimisan tak mengurungkan niat berkelahi. Semua orang terus berusaha mempertahankan diri.
Keributan di luar menyelusup ke telinga Myria. Gadis itu tersadar dan merasakan pusing di kepala yang begitu hebat. Dia mengerjap-ngerjap sebentar untuk tahu kondisi yang ada.
Tatapan mengedar ke seluruh ruang, Myria merasakan punggungnya bersandar pada seseorang. Dia menoleh sebisa mungkin dan membangunkan Friska dengan cara menggoyang-goyangkan badan. Beruntungnya, efek bius sahabatnya itu berangsur hilang pula.
Friska ikut kaget melihat keberadaannya sekarang di mana. “My ….” Suara batin gadis itu karena tak bisa membuka mulut.
Melalui komunikasi bahasa isyarat, sebisa mungkin Myria dan Friska berusaha melepaskan diri. Keduanya bekerja sama membuka tali yang ada di lengan masing-masing.
Meski sempat kesulitan, usaha dua gadis itu tidak sia-sia. Keduanya segera melepas lakban dan saling merangkul untuk berdiri.
__ADS_1
“Kita harus kabur, My,” kata Friska dengan suara lemah. Tubuhnya lemas dan kaki mati rasa karena dehidrasi serta terlalu lama duduk.
Myria mengangguk pelan. Dia menyeret langkah ke depan untuk meminta bantuan.
Sampai di ambang pintu, Myria dan Friska terperanjat melihat perkelahian yang terjadi di luar ternyata dari teman teman kelasnya. Apalagi, ada Angkasa di sana.
Sepasang mata beriris hitam itu menatap waspada. Myria mengeratkan rangkulan ke bahu sahabatnya untuk bertahan. Dia dan Friska harus siap lari andai diperlukan.
Dua preman mulai tumbang dan kehabisan tenaga, sementara yang lain masih berusaha melindungi sang bos. Pria berambut merah itu benar-benar sulit dikalahkan karena memiliki tameng yang bisa diandalkan.
Angkasa melayangkan tendangan dan mengenai wajah salah satu preman yang melindungi sang bos. Namun, tidak cukup satu tumbang, satu lainnya menyusul diikuti bos mereka. Kuwalahan sendiri menghadapi dua orang sekaligus, Angkasa mulai hilang keseimbangan. Dia sampai mundur saat terkena pukulan.
“Kasa!” Dua gadis yang ada di ambang pintu berteriak secara refleks. Myria nyaris berlari menghampiri, tetapi dicegah Friska.
Angkasa menoleh ke arah belakang. Dia berteriak, “My, tetep di situ!”
Ketika Angkasa lengah dan belum sempat mengembalikan pandangan ke depan, kesempatan itu diambil oleh sang preman. Pria berjaket hitam yang tadi tumbang, langsung berdiri setelah menyahut celurit dari tanah. Dia mengayunkan benda tajam itu dan ingin menebas leher.
“Kasa, awas!” Semua berteriak serempak. Bahkan, Sakti dan teman-teman lain ikut melakukan hal yang sama.
__ADS_1