
Darah segar muncrat ke udara seiring erangan kesakitan dari seseorang. Semua tertegun, Myria paling histeris berteriak dan langsung berlari menghampiri suaminya.
“Brengsek! Kasa terluka!” Sakti meneriaki anggotanya. Dia lekas menggantikan Angkasa untuk menghadapi bos preman agar tidak melukai Myria. Sementara itu, teman lain mengambil alih sisanya.
Tiga preman telah tumbang dan mulai terkapar, hanya tersisa bos beserta dua anak buah yang masih begitu kuat.
Dua pemuda yang ahli beladiri maju lalu membantu Sakti. Tiga siswa itu harus segera menyelesaikan perkelahian agar bisa membawa Angkasa pergi.
“Pergi, My.” Angkasa berujar pelan. Dia meringis menahan luka yang ada di tangan. Celurit tajam itu memang tidak jadi menebas leher, tetapi nahas masih melukai bagian lengan kiri saat tubuh pemiliknya berusaha menghindar.
“Kamu gila, mana mungkin aku pergi.” Untuk pertama kali, Myria bicara tidak sopan pada suaminya. Dia tak bisa berpikir jernih lagi melihat kondisi Angkasa berdarah-darah. Air mata terus mengalir deras, sementara tangannya gemetar menahan tubuh Angkasa yang sempat hilang keseimbangan.
“Aku aja, My. Kamu panik!” Friska menyeru dan mengambil alih pekerjaan Myria mengorek tas. Gadis berjilbab putih itu mencari tisu atau kain apa pun yang akan dipakai untuk menekan pendarahan suami sahabatnya. Setelah ketemu, Friska menyerahkan. “Kamu kuat nggak? Kalau nggak bisa tenang, biar aku aja,” tanya Friska memastikan. Melihat Angkasa separah itu, dia paham betapa kalutnya Myria.
Tak ada guna berlama-lama, Friska segera menarik beberapa lembar tisu dan berusaha menekan pendarahan. Sebenarnya, dia juga gemetar dan khawatir, tetapi harus tetap tenang daripada makin kacau.
Perkelahian tak kunjung usai. Nyatanya, memang para pria bayaran itu tak mudah tumbang. Akan tetapi, keberuntungan masih berpihak pada Sakti dan kawan-kawan. Sekarang mereka lebih unggul dalam jumlah karena hampir semua anak buah preman telah terkapar dan mengerang kesakitan ke tanah.
“Lo nyerah aja, deh, Bang. Kami masih komplet enam orang, sedang elo sendiri. Yakin masih mau lanjut?” Teman Sakti bicara. Dia yang paling ahli dalam beladiri menjeda pertarungan.
Preman berambut merah itu menyeringai. “Lo pikir gue takut sama bocah-bocah kayak kalian?”
Masih dalam posisi siaga, pemuda SMA itu mengatur napas sejenak. Dia menoleh pada Sakti yang ada di samping. “Bro, lo tinggalin tempat ini dan bawa Kasa ke rumah sakit. Biar gue yang ngadepin satu orang ini sambil nunggu polisi dateng.”
Mendengar kata polisi, bos preman itu melotot. Dia mundur perlahan dan bersiap kabur. Namun, belum sampai lari terlalu jauh, semua teman Sakti sudah menghalangi.
“Ka, kita ke rumah sakit.” Dirangkulnya sang sahabat, Sakti membantu Angkasa berdiri dengan susah payah. Dia berjalan terseok karena sedikit kesusahan untuk menahan berat tubuh Angkasa.
Myria bersama Friska membuntuti. Keduanya masih terus menangis karena tak kuasa melihat apa yang terjadi.
Mesin motor menyala. Dengan sisa tenaga yang ada, Angkasa duduk di boncengan. Dia meletakkan kepala di punggung Sakti.
“Kalian ikut gue salah satu buat nahan Angkasa di belakang. Pendarahannya terus ngalir gini, nanti takutnya dia pingsan di tengah jalan.” Sakti bicara pada Myria maupun Friska. Dia tak ingin ambil risiko lebih banyak melihat kondisi Angkasa yang mengenaskan. Seragam sahabatnya sudah tak berupa, bahkan saking banyaknya darah mengalir, seragam Sakti ikut berubah merah.
“Udahlah gue kuat.” Angkasa masih sanggup menimpali sambil mendesis.
“Jangan gila lo, Ka. Meski kita saingan, gue juga nggak mau lihat lo mati kehabisan darah di jalan. Nggak enak lo mati gitu aja, persaingan kita belum selesai buat dapetin Myria.”
__ADS_1
Kondisi darurat, masih sempat-sempatnya para cowok itu berdebat. Friska emosi dan menendang ban motor. “Buruan berangkat, biar Myria yang ikut.”
Akhirnya Myria naik. Tanpa helm atau jaket motor melaju membawa dirinya dan sang suami ke rumah sakit terdekat.
Suara tembakan dari arah jalan raya menghentikan perkelahian. Semua siswa yang masih mengepung bos preman dan anggota yang kembali bangkit, otomatis diam.
“Angkat tangan kalian semua!” Satu polisi yang membawa pistol berteriak lantang. Kemudian, anggota lain langsung menyergap dan mengenakan borgol ke tangan para preman.
Friska segera berlari menghampiri semak-semak di mana teman sebangku Angkasa masih terkapar. Dia berteriak minta tolong dan segera menyusul ke rumah sakit.
Situasi telah berada di bawah kendali pihak berwajib. Enam preman dibekuk dan dua siswa diminta ikut ke kantor polisi untuk menjelaskan kejadian, sedangkan siswa lain bergegas ke rumah sakit bersama-sama.
Motor Sakit berhenti di tengah-tengah pintu IGD. Myria yang ada di belakang segera turun untuk membantu Angkasa.
Satpam yang ada di pintu masuk segera membantu mencarikan brankar dan berteriak pada perawat. Tidak butuh lama, dua tenaga medis datang menjemput lalu segera membawa Angkasa masuk.
“Dokter!”
Dokter laki-laki yang baru selesai memeriksa pasien lain datang menghampiri. Dia mendekat untuk melihat kondisi Angkasa. “Kenapa ini tadi?” tanyanya dengan ekspresi tenang.
Sakti baru menyusul setelah memarkirkan motor ke area parkir. Dia berdiri di samping Myria dan melihat sahabatnya ditangani.
“Bersihkan lukanya, pasang infus agar tidak dehidrasi. Kita perlu lakukan operasi penjahitan. Sus, lakukan persiapan di ruang operasi.”
Empat perawat yang mengelilingi sibuk bergerak. Tiga perawat melakukan tindakan sesuai intruksi dokter, sementara satu lainnya segera melakukan koordinasi persiapan ruang operasi.
Di tengah penanganan, suara roda brankar lain terdengar. Sakti menoleh, ternyata Friska serta teman sebangkunya yang datang bersama temannya yang pingsan tadi. Pemuda itu mendekat untuk melihat.
“Kalian cuma berempat?” tanya Sakti dengan pelan.
“Yang lain ke kantor polisi.” Pemuda berhodie merah itu menjawab. Dia mendekati brankar saat melihat temannya tersadar.
Dua perawat tiba, lalu disusul dokter jaga lain. Friska yang ada di sana, mundur karena ingin menemani Myria.
“My ….”
Rangkulan dan usapan lembut di bahu membuat Myria menoleh. Dia membalas tatapan Friska, lalu memeluk. Tangis dua gadis itu tak kunjung usai. Padahal, teman-temannya sudah ditangani.
__ADS_1
Hampir setengah jam penghentian daran dilakukan. Luka yang terlalu panjang dan dalam memakan waktu tidak sebentar. Sang dokter pergi setelah menyerahkan sisa penanganan pada perawat yang ada.
“Keluarga Narendra Angkasa Sastra.” Dokter yang tadi pergi itu memanggil.
Myria, Friska, dan teman lainnya sama-sama menoleh. Kemudian, dua gadis itu datang pada sang dokter yang berada tidak jauh.
“Ya, Dokter.”
“Kalian yang membawa pasien kemari?”
“Benar, Dok.”
“Tolong hubungi keluarganya agar datang. Teman kalian ini perlu operasi karena peralatan penjahitan luka ada di ruang operasi, selain itu, dia butuh rawat inap beberapa hari untuk observasi. Lukanya cukup dalam, jadi nanti bisa segera diberi tindakan bila terjadi pendarahan lagi.”
Friska mengangguk-angguk.
“Segera dihubungi, ya. Prosedur rumah sakit butuh penjamin untuk melakukan tindakan selanjutnya.” Sang dokter kembali bicara.
“Dokter, saya istrinya, apa bisa?”
Pengakuan Myria membuat sang dokter sedikit kaget. Tidak hanya itu, Sakti dan teman lain yang ikut mendengar dari jarak cukup dekat sama-sama terperangah.
“Bro, lo denger Myria bilang apa tadi?” Satu dari tiga cowok berbisik. Dia ada tepat di samping Sakti.
Runtuh sudah harapan pemuda berambut hitam kecokelatan itu. Sakti meraba dadanya yang tengah nyeri seperti terkena tikaman belati berkali-kali. Memang Angkasa yang berdarah-darah, tetapi dia ikut merasakan sakit.
Didekatinya brankar di mana sahabatnya masih tergolek lemah, Sakti menatap Angkasa tak percaya. Bibirnya ingin bertanya, tetapi begitu sulit.
Sementara itu, merasa ada gesekan, Angkasa yang tadi memejam langsung membuka mata. Dia tidak pingsan, tetapi sibuk menahan ngilu di tangan akibat efek bius yang mulai hilang.
Dibalasnya tatapan Sakti dengan respons tenang karena tidak ada daya untuk debat seperti biasa. “Gue nikahin dia beberapa bulan lalu. Lo mau marah sama gue sekarang?”
Tangan Sakti terangkat dan mengepal kuat. Dia menahan kemarahan di antara hancurnya harap. “Harusnya gue biarin aja lo mampus kehilangan darah tadi,” kata pemuda itu dan langsung pergi.
.
.
__ADS_1