Menikahi Teman Kelas

Menikahi Teman Kelas
Ch. 51: Membujuk Myria


__ADS_3

Langkah bertolak lebih dalam, Angkasa mendatangi ruang tengah sembari berteriak hingga mengundang kedatangan asisten rumah tangga yang ada di belakang.


“Tuan Muda.”


Angkasa menoleh. “Myria udah balik belum, Bi?”


“Bibi tidak tahu, Tuan Muda.”


Merasa tak perlu memperpanjang pembicaraan, Angkasa ganti menuju arah tangga. Dia harus ke lantai atas di mana kamarnya berada.


Lantai sesekali berdecit kala sol sepatu menggesek granit yang setiap hari dipel. Angkasa memang lupa mengganti alas kaki saat masuk rumah tadi lantaran buru-buru.


Pintu terlapisi cat putih itu terbuka. Dua mata Angkasa memandangi kamar yang biasa ditempati bersama Myria. Dia berteriak lagi, tetapi tidak ada jawaban. Ketika ingat sepatunya masih terpakai, pemuda itu melepas dan masuk kamar untuk mengecek kamar mandi.


Angkasa seperti dikejar penjahat karena berlari ke sana kemari dengan napas tak beraturan. Rambut hitamnya berantakan karena tertiup angin, terkena debu jalanan dan berkeringat sepanjang pertandingan tadi. Namun, seperti apa pun dirinya, saat ini bukan waktu yang tepat untuk mengurus perkara rupa.


“Argh! Apa yang terjadi sama lo, My.” Tangan mengacak-acak rambut sampai kacau. Wajah Angkasa mulai kusut dan terlihat seperti orang frustrasi.


Pemuda itu tak tinggal diam. Angkasa memutar otak untuk berpikir lebih jeli ke mana Myria saat ini.


“Bego! Kenapa gue nggak kepikiran sama Friska.” Buru-buru Angkasa merogoh saku untuk mencari ponsel setelah memaki diri sendiri. Pikirannya terlalu mumet sampai lupa hal-hal lain, padahal sudah jelas Friska yang berpamitan tadi akan mengantar Myria.


Nomor ditekan dan menunggu panggilan tersambung. Namun, sampai bunyi sambungan habis, tidak jua diangkat oleh Friska.


Tak ingin menyerah, Angkasa menghubungi lagi. Dia mengulang itu sampai empat kali karena Friska benar-benar tidak menanggapi.


“Woi, Cewek Bar-Bar,  ke mana lo bawa istri gue?” Kesal karena panggilan tidak diangkat, Angkasa ganti mengirim voice note. Tidak berselang lama, pesan suara itu akhirnya centang biru.


Di layar ponsel, Angkasa terus memperhatikan kontak nama Friska yang masih mengetik. Dia menunggu hampir satu menit, tetapi tak kunjung selesai. “Ngetik apaan ini cewek,” gerutunya lagi.


Kesabaran memang tak banyak, Angkasa ikut mengetik untuk menanyakan hal yang sama. “Buruan jawab! Lo sama Myria di mana, Fris?” Tombol kirim ditekan, dia tinggal menunggu balasan.

__ADS_1


Sepuluh detik terlewat, akhirnya pesan dari Friska sampai. Gadis itu mengirimkan foto tanpa caption.


“Pemakaman?” Dahi Angkasa mengerut. Dia perbesar foto dari sahabat istrinya, lalu memperhatikan saksama. “Ini pasti makam ibu mertua. Tapi di mana? Argh, gue susul aja dulu sampai gang yang dulu itu. Ntar nanya lagi.”


Sebelum berangkat, Angkasa sempatkan diri membalas pesan Friska sebentar. Dia meminta teman kelasnya itu tetap di sana menemani Myria dan menunggu sampai dirinya tiba.


Motor melaju kencang seperti tidak ada aturan. Angkasa memakai keahlian balapannya untuk menerobos jalanan yang sedikit padat di jam orang-orang hendak makan siang. Berbekal ingatan seadanya saat mencari Myria malam hari beberapa waktu lalu, dia ingin segera sampai.


Tiba di gang yang dahulu menemukan Myria, Angkasa membuka ponsel dan memakai maps agar tidak kesasar. Pemuda itu mengamati lokasi sekitar secara teliti.


Motor melaju lagi dengan pelan, Angkasa harus hati-hati karena fokusnya terbagi dua antara jalan dan ponsel.


Tidak perlu menempuh jarak jauh, ternyata pemakaman sudah ditemukan. Angkasa memarkir motornya di dekat gapura masuk. Dia berjalan pelan sembari mengedarkan pandangan di mana Myria berada.


Ketika mata menemukan sosok yang dicari, pemuda itu bergegas mendekat. Dia melangkah tetap dalam keheningan karena tidak ingin mengganggu.


Friska menoleh ke belakang saat merasa diperhatikan. Dia nyaris berteriak karena sempat merinding. Namun, itu belum terjadi saat tahu siapa yang datang.


“My, ayo, pulang. Udah mau zuhur.”


Masih dengan posisi menunduk, Myria menggeleng. Sesekali dia mengusap pipi yang telah basah oleh air mata.


“Kamu bisa dehidrasi kalau begini terus.”


Myria tetap pada pendiriannya. “Kamu pulang aja dulu. Aku bentar lagi juga pulang, kok.”


“Ya, udah, aku nunggu kamu.”


Jawaban Friska membuat Myria menoleh. “Pulang aja, Fris. Nanti Tante nyari kamu. Belum lagi kamu harus nyerahin surat panggilan dari BK tadi.”


Sibuk mengkhawatirkan Myria, Friska sampai lupa jika dia punya masalah tersendiri. Gadis itu menoleh ke belakang lagi dan dapat anggukan dari Angkasa.

__ADS_1


“Kamu beneran nggak mau pulang?”


Myria mengangguk. Dia lanjut termenung dan mencabuti rumput kecil di sekitar makam ibunya.


“Aku pulang, ya. Ada Kasa di sini.”


Tangan mungil Myria berhenti. Dia menoleh sepenuhnya pada Friska dan dapat senyuman, tetapi tidak sedikit pun membalas atau menengok ke belakang untuk mengecek keberadaan Angkasa. “Hati-hati,” katanya sebagai salam perpisahan pada Friska.


Sebelum beranjak, Friska memeluk Myria dan memberi usapan lembut. Dia tahu betapa sedih hati sahabatnya saat sudah berada di makam seperti ini. Tidak ada tempat yang dituju Myria selain masjid dan makam ibunya kala hati gundah gulana dan tak kuasa menahan lagi.


“Ka, gue duluan.”


Angkasa mengangguk. “Thanks.”


Angin berembus mengantarkan hawa panas. Matahari makin naik dan nyaris tepat di atas kepala. Area pemakaman begitu lapang tanpa pepohonan di tengah, hanya ada beberapa titik di pinggir-pinggir. Akan tetapi, sepanas apa pun kondisi yang ada, Myria tetap betah. Dia belum ingin beranjak meski ditunggu.


Detik jam terus bergerak mengantarkan Angkasa ke menit 30 menunggu. Pemuda itu beberapa kali mengusap peluh yang menetes dari pinggiran rambut. Dia masih setia berdiri di belakang istrinya tanpa bicara.


“My.” Angkasa memanggil pelan. Kakinya mulai melangkah dan membuka jaket yang menutup kaus olahraganya sejak tadi. Sampai di dekat Myria, dia memayungkan jaket hitam itu untuk sang istri. “Lo bisa sakit kalau sengaja menjemur badan kayak gini.”


Myria bergeming. Bukan dia tidak mendengar, melainkan memang masih begitu berat untuk bicara pada siapa pun, apalagi terhadap Angkasa.


Diabaikan kesekian kali, membuat Angkasa harus bekerja keras merayu. Pasalnya, makhluk berjenis perempuan memang sulit dipahami dan sangat sensitif. Maka dari itu, ada saat anak Tuan Sastra Aji Laksana itu dipaksa keadaan untuk belajar paham meski belum bisa seratus persen.


Pemuda dengan tinggi 182 sentimeter itu ganti memasukkan satu tangan ke saku celana. Masih dengan berdiri sembari memegang jaket, dia berkata, “Wanita memang diperbolehkan ziarah kubur, tapi jangan sampai meratapi atau mengabaikan hak suaminya.” Angkasa menjeda omongan. Dia melirik ke bawah untuk melihat tanggapan Myria. “Mau berapa lama lagi lo di sini?”


.


.


......................

__ADS_1


__ADS_2